warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

Engkau Hendak Berjuang







Engkau Hendak Berjuang?




Engkau Hendak Berjuang?

 

Engkau hendak berjuang?

Bagus kalau itulah yang kamu mahu

Berjuang sasarannya adalah manusia

Engkau mesti kenal manusia lahir dan batin

Engkau tidak akan kenal manusia sebelum engkau mengenal dirimu sendiri

Sudahkah engkau kenal dirimu sendiri?

Sejauh mana engkau kenal perjalanan fikiranmu?

Apakah fikiranmu sudah Islam?!

Sudahkah engkau kenal nafsumu?

Fahamkah engkau kehendak-kehendak nafsumu?

Ke mana dia hendak membawamu?!

Apakah kehendak Islam dengan kehendak nafsumu selari?

Lebih-lebih lagi sudahkah engkau faham jiwamu?

Jiwa ada perasaannya

Perasaannya ada yang positif dan ada yang negatif

Yang positif hendak dilepaskan

Yang negatif hendaklah ditahan

Melepaskan yang positif, menahan yang negatif

Adalah satu perjuangan

Ia lebih besar daripada perjuangan yang lahir ini

Bahkan yang lahir ini ditentukan oleh yang batin, iaitu jiwamu

Kalau engkau berjuang tidak faham ini semua

Ertinya engkau laksana masuk ke hutan belantara

Yang tidak mempunyai pedoman

Tidak ada kompas, tidak kenal kedudukan hutan

Jangan-jangan engkau akan tersesat nanti

Marabahaya hutan akan membinasakan kamu

Bahkan rimau pun boleh membaham kamu

Kawan, perkataan berjuang mudah disebut

Tapi tidak mudah difahami

Berjuang mudah diperkatakan

Tapi tidak mudah dikotakan

Ia memerlukan ilmu yang cukup

Tidak sekadar semangat yang cukup

Ia memerlukan pemimpin yang tepat

Yang boleh memimpin dan ia ditaati

Kalau belum sampai ke taraf ini

Engkau tidak berjuang lebih selamat daripada berjuang

Kalau engkau berjuang juga

Ingatlah kerosakan yang engkau lakukan lebih banyak, tanpa disedari

Sekalipun niat engkau suci

 

Menjelang Zuhur

29.7.99

Tulisan ini adalah sajak yang ditulis oleh Abuya Ashaari Muhammad at Tamimi

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer