Kisah Ke-77: Bebaskan Manshur al-Jamal

Ahmad bin Yazid al-Mahlabi berkata, "Pada suatu malam kami sedang bersama dengan khalifah al-Mutamid Alallah. Ia terlihat mengantuk dan kepalanya tertunduk. Kata dia, 'Jangan ada yang pergi.'
Ia pun tertidur sekitar setengah jam. Ketika bangun, ia berkata, 'Bawalah ke sini seseorang yang bernama Manshur al-Jamal dari penjara.'
Mereka kemudian membawa orang itu. 'Sejak kapan kamu ditahan?' tanya al-Mutamid. 'Sejak tiga puluh tahun yang lalu,' jawab lelaki itu. 'Ceritakan kepadaku bagaimana kisahmu,' kata al-Mutamid.

Kisah Ke-76: Ibadah Hajinya Mabrur

Raja al-Mu'azhzham, ayah dari Shalahuddin al-Ayyubi, melaksanakan ibadah haji. Ketika ia tiba di Madinah, ia disambut oleh gubernur Madinah dan diperlakukan dengan perlakuan yang sangat baik.
Sang gubernur berkata kepadanya, "Aku akan membuka kamar suci untukmu, agar engkau bisa mengunjunginya secara khusus. Ini tidak didapatkan oleh orang lain, selain engkau."

Kisah Ke-75: Karena Surah Tabarak

Seorang syekh meminta izin untuk menemui Khawaja Bazrik rahimahullah. Ketika Bazrik menemuinya, ia melihat satu sosok lelaki tua yang penuh wibawa dan menakutkan. Bazrik bertanya, "Anda dari mana?"
"Aku dari negeri asing," jawabnya.
"Anda menginginkan sesuatu?" tanya Bazrik.
"Aku adalah utusan Rasulullah saw. untuk bertemu dengan Raja Syah," jawabnya.
"Orang tua, apa yang ingin engkau sampaikan?" kata Bazrik.

Kisah Ke-74: Engkau Akan Menguasai Mesir

Amir al-Bardajani menceritakan bahwa ia mengabdi kepada Muzhaffar Saifuddin Qutuz ketika ia masih kecil. Ketika itu, Saifuddin Qutuz memiliki banyak kutu. Amir menelisik dan menangkap kutu-kutu itu. Setiap berhasil membunuh satu kutu, ia mendapat bonus uang.
Kata Amir, "Pada suatu hari, ketika aku sedang mencari kutu, aku berkata kepada Qutuz, 'Demi Allah, aku ingin memiliki lima puluh orang bawahan.'
Qutuz berkata kepadaku, 'Semoga Allah menjernihkan hatimu. Aku akan memberikan lima puluh orang bawahan untukmu.'

Kisah Ke-73: Penculikan Mayat Rasul

Pada tahun 557 H orang-orang Nasrani sepakat untuk memindahkan mayat Rasulullah saw. dari kuburan beliau. Mereka mengutus dua orang dari mereka untuk memasuki Madinah dengan menyamar sebagai orang Maroko. Mereka mengaku sebagai orang Andalusia. Mereka tinggal di kawasan yang searah dengan kamar suci (al-hujrah asy-syarifah) dari kiblat di luar masjid. Saat ini tempat itu telah dipugar karena perluasan bangunan masjid.

Kisah Ke-72: Tiga Muhammad Kelaparan

Di negeri Mesir, berkumpul Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Jarir ath-Thabari, dan Muhammad bin al-Munkadir. Mereka berkumpul di sebuah rumah dan menulis hadits hingga pada suatu hari mereka kekurangan makanan.

Kisah Ke-71: Berilah Aku Petunjuk

Khalifah al-Mustanjid bin al-Muqtafa berkata, "Lima belas tahun yang lalu aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, 'Ayahmu memangku jabatan sebagai khalifah selama lima belas tahun.'
Benar. Apa yang dikatakan oleh Rasululullah saw. benar-benar terjadi.
Empat bulan sebelum ayah meninggal, aku memimpikan Rasulullah saw. lagi. Beliau memasuki sebuah pintu besar bersamaku, kemudian naik menuju puncak gunung, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau memakaikan aku sebuah jubah seraya berkata,

Kisah Ke-70: Haji dengan Berjalan kaki

Harun ar-Rasyid berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. dan beliau berkata kepadaku, Wahai Harun... tanggung jawab ini (sebagai khalifah bagi umat Islam) telah kamu terima. Laksanakanlah haji dengan berjalan kaki dan hiduplah bersahaja. Berilah kelapangan kepada penduduk Haramain (Mekah dan Madinah).'"
Harun ar-Rasyid kemudian memberikan kekayaan yang melimpah kepada penduduk Mekah dan Madinah. Belum pernah ada khalifah—setelah dan sesudah Harun yang melaksanakan haji dengan berjalan kaki. Ia termasuk bagian dari khalifah yang baik.

Kisah Ke-69: Mendapat Syafaat Rasulullah

Pada masa awal pemerintahannya, Qadhi Shadaruddin Mauhub al-Jazari diperintahkan untuk menangani kawasan Ibnu Umar. Ia adalah seorang yang kaya, perdagangannya lancar, dan memiliki kekayaan yang melimpah. Penguasa kawasan itu mengirim mata-mata untuk menyelidiki kekayaan Ibnu Umar. Ia ingin mengambil kekayaan-kekayaan itu. Kabar itu didengar oleh Ibnu Umar.
Lalu ia mengirim hartanya ke Mesir dan Syam bersama para pedagang. Ia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Ia tiba di Syam, lalu meneruskan perjalanan ke Mesir.

Kisah Ke-68: Ibnu Qawwas Memimpikan Rasul

Muhammad bin Ali al-Allaf berkata, "Pada suatu hari, aku menghadiri majelis taklim Abu Hasan bin Mas'un. Ketika itu, ia duduk di atas kursinya memberikan ceramah. Sementara itu, Abu Fatah bin Qawwas duduk di samping kursi itu. Tiba-tiba ia terserang kantuk dan tertidur. Ibnu Mas'un menghentikan ceramahnya hingga Ibnu Qawwas terbangun. Ibnu Mas'un berkata kepadanya, Apakah engkau melihat Rasulullah di dalam mimpimu?'
'Ya,' jawab Ibnu Qawwas.
Ibnu Mas'un berkata, 'Karena itulah aku menghentikan ceramahku. Aku takut engkau akan terbangun dan mimpimu terputus.'

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer