Kisah Ke-87: Sembelihlah Lelaki Itu

Muradik al-Bashri berkata, "Aku membeli sesuatu dari salah seorang pemimpin bani Ahwaz(25). Aku terus-menerus datang dan kembali kepadanya, untuk menawar harga. Lelaki itu menyumpah serapah Abu Bakar dan Umar. Karena takut, aku tidak berani lagi kembali kepadanya.
Aku kembali ke rumah dalam keadaan gundah. Semalaman aku seperti itu hingga ketika aku tertidur, aku memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, si fulan itu bersumpah serapah atas Abu Bakar dan Umar."
Beliau berkata, 'Bawalah ia kepadaku.'

Kisah Ke-86: Jangan Membaca Al-Qur'an

Abu al-Wafa al-Qari' al-Harawi berkata, "Pada suatu ketika, aku membacakan Al-Qur'an di hadapan Sultan. Tetapi, mereka berbicara sendiri dan tidak mendengarkan bacaanku. Aku pulang ke rumah dalam keadaan gundah. Aku tidur dan kulihat Rasulullah saw. di dalam mimpi dalam keadaan murung.
Beliau berkata kepadaku, 'Apakah kamu membacakan Al-Qufan di hadapan orang-orang yang berbicara dan tidak mendengarkan bacaanmu? Setelah ini, jangan kaubaca kecuali jika Allah menginginkannyal'

Kisah 85 Posisi Al Qur'an

Ada dua orang saleh yang senantiasa bertemu dengan Rasulullah saw di dalam mimpi mereka. Hal itu berlangsung beberapa lama. Tetapi, suatu saat mimpi itu tidak lagi dialami oleh salah seorang di antara mereka berdua. Ia berkata kepada sahabatnya, "Jika kamu bertemu dengan Rasulullah, sampaikan salamku kepada beliau. Tanyakan kepada beliau, 'mengapa sahabatku tidak lagi bisa bertemu dengan engkau, wahai Rasululullah?'"

Kisah Ke-84: Redaksi Shalawat yang Benar

Salah seorang perawi hadits meriwayatkan, "Suatu ketika aku menulis sebuah hadits. Aku hanya menuiis kata shalawat (tidak menyertakan kata keselamatan). Ketika aku tidur, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Tidakkah kau sempurnakan shalawat di dalam tulisanmu?'
Sejak itu, aku tidak pernah menuliskan kata shalawat kecuali aku menuliskan juga kata keselamatan {ash-shaldh wa as-salam)."

Kisah Ke-83: Kamu Sekeluarga Penghuni Surga

Sebagian dari keturunan Ali bin Abu Thalib tinggal di kota Balkha. Di antara mereka ada seorang perempuan yang sangat miskin dan memiliki beberapa anak perempuan. Suaminya sudah meninggal. Perempuan itu kemudian pergi ke Samarkand bersama anak-anak perempuannya, sebab ia khawatir ancaman musuh-musuh mereka.
Mereka pergi ke Samarkand bersamaan dengan cuaca yang sangat dingin. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua rombongan musafir: satu orang beragama Islam; satu orang lagi beragama majusi yang bertugas sebagai penjaga kota.

Kisah Ke-82: Bebaskan Pembunuh Itu

Ishak bin Ibrahim bin Mush'ab, Gubernur Bagdad, berkata, "Pada suatu malam, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Bebaskan pembunuh itu!'
Aku gemetar setelah melihat mimpi itu. Aku menyalakan lampu lilin dan membuka-buka daftar tahanan. Tetapi, tidak ada orang yang ditahan karena pembunuhan.
Aku memerintahkan bawahanku untuk memanggil dua orang penanggung jawab penjara. Aku bertanya kepada mereka, Apakah ada orang yang ditahan karena dakwaan pembunuhan?'
Salah seorang di antara mereka menjawab, 'Ya. Kami telah menuliskan berita acaranya.'

Kisah Ke-81: Doanya Telah Dikabulkan

Ibnu Abi ad-Dunya menceritakan bahwa ada seseorang yang memimpikan Rasulullah saw. dan beliau berkata, "Datanglah kepada seorang Majusi di Bagdad lalu katakan kepadanya bahwa doanya telah dikabulkan."
Orang itu menuturkan, "Ketika terbangun pada pagi harinya, aku bingung, 'Bagaimana aku mendatangi orang majusi itu?'
Malam berikutnya aku tidur dan memimpikan hal yang sama. Begitu juga pada malam ketiga. Paginya, aku pun pergi ke Bagdad. Aku menemui orang majusi itu, dan aku mendapatkannya sebagai orang yang kaya dan memiliki harta yang melimpah.

Kisah Ke-80: Berdamailah dengan al-Bakri

Syekh Syihabuddin Abdul Warits al-Maliki menuturkan, "Antara aku dan syekh Nasiruddin Muhammad al-Bakri ada perbedaan dan perselisihan. Pada suatu malam, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Berdamailah dengan Muhammad al-Bakri."
Ketika aku terbangun, aku bergegas menemui al-Bakri dan berdamai dengannya."

Kisah Ke-79: Allah Menjagamu

Abu Musa at-Turki, salah seorang panglima besar pasukan khalifah al-Mutawakkil, mengikuti berbagai pertempuran. Ia tidak pernah terluka di dalam setiap pertempurannya. Tetapi, ia juga tidak pernah memakai senjata. Ada seseorang yang menanyakan perihal tersebut kepadanya. Ia menjawab, "Aku pernah memimpikan Rasulullah saw. dan aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, doakanlah saya.'
Beliau berkata, 'Tidak apa-apa, engkau telah berbuat baik kepada salah seorang dari keluargaku. Engkau akan mendapat penjagaan dari Allah.'"

Kisah ke-78: Abu Hanifah Dipukul

Seorang menteri bernama Ibnu Hubairah menginginkan Imam Abu Hanifah rahimahullah untuk menerima jabatan hakim. Ia bersumpah, jika sang imam tidak mau, ia akan memukul kepalanya dengan cambuk.
Kabar itu didengar oleh Abu Hanifah. Ia berkata, "Pukulannya dengan cambuk di dunia ini lebih ringan buatku daripada rantai-rantai besi di akhirat nanti. Demi Allah aku tidak akan menerimanya, meski aku akan dibunuh sekalipun."
Kata-kata Abu Hanifah didengar oleh Ibnu Hubairah. Katanya, "Berani juga ia membalas sumpahku dengan sumpahnya."

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer