warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

11 Mari Berjuang Ikut Cara Rasulullah






Untitled Document



Makna Jihad Menurut Islam

Umum orang mengartikan bahwa yang dimaksud dengan berjihad adalah berperang untuk membela agama Allah, bangsa dan negara. Banyak diantara mereka yang atau tidak mengerjakan sholat dan puasa, tidak menutup aurat atau sampai meninggalkan sholat dan puasa demi berperang melawan musuh. Dalam kefahaman mereka kalau mereka mati dalam perang melawan musuh itu, maka mati syahid walaupun tidak mengerjakan sholat.

Sebenarnya bukan itu makna jihad. Berperang hanya satu bagian kecil dari jihad dan dibuat bila sudah tidak ada alternatif lain. Arti jihad menurut Islam adalah bersungguh-sungguh memerah tenaga, akal fikiran bahkan jiwa raga serta segala kekuatan-kekuatan lahir seperti ekonomi, harta kekayaan, pangkat, jabatan, pengikut dan lain-lain untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini.

Kalimah Allah itu apa?

  1. Kalimah Allah yang besar sekali adalah Dzat Allah. Memperkatakan Dzat Allah, artinya memperjuangkan aqidah atau tauhid. Dengan kata-kata yang lebih luas berjihad adalah memperjuangkan Tuhan supaya orang kenal, cinta dan takut dengan Tuhan.
  2. Setelah itu Kalimah Allah adalah syariatNya. Bila kita kata memperjuangkan syariat Tuhan, syariat Tuhan itu banyak jenis dan tarafnya. Syariat ada yang menjadi rukun, rukun Islam atau rukun syariat. Bila dikatakan rukun Islam atau rukun Syariat, ada lima yaitu mengucap dua kalimah syahadah, mengerjakan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan haji bila mampu.

Ada satu jenis jihad yang selamat menyelamatkan, tidak membunuh dan tidak melukai badan orang, tidak memerlukan harta benda yang banyak tetapi bernila tinggi di sisi Allah yaitu mengorbankan perasaan. Mengorbankan perasaan itu dianggap jihad, berarti yang membuatnya mendapat pahala jihad. Mengapa?

Mengapa dia dianggap jihad? Karena ada hubungan dengan melawan nafsu. Hadis mengatakan bahwa peperangan melawan nafsu itu satu jihad, bahkan satu jihad yang besar. Mengorbankan perasaan itu dianggap jihad karana ada hubungan dengan berjuang melawan nafsu. Melawan nafsu itu dianggap jihad

Semua maklum bahwa hukum berjihad adalah wajib, tetapi bagaimana kedudukannya dalam Islam? Di dalam Islam kedudukan jihad jatuh nomor tiga setelah rukun Iman dan rukun Islam. Mengapa jihad itu dianggap besar? Setelah Rukun Iman dan Rukun Islam, jihad adalah yang paling utama, dia menjadi nomor satu, dia jadi besar. Mengapa?

Kita coba ambil satu ayat Quran, Allah berfirman,

surat:9 ayat:111

Maksudnya, "Sesungguhnya Allah akan membeli pada diri orang-orang beriman itu dirinya dan harta-hartanya dengan balasan syurga". (At Taubah 111)

Itu tawaran Tuhan, kerana jihad itu besar maka disuruh beli. Jihad itu ada yang lahir ada yang batin. Dari segi lahirnya jihad menentu hidup mati Islam. Kalau ada jihad hiduplah, kalau tidak ada jihad matilah. Dari segi batin, jihad menentukan seseorang itu terbangun insaniahnya atau sebaliknya. Tidak ada jihad punahlah insaniahnya.

Jihad secara lahiriah semua sudah tahu, tetapi Rasulullah SAW sangat menekankan tentang adanya jihad maknawi, jihad nafsu. Rasulullah SAW pernah bersabda, kita baru balik dari satu peperangan kecil untuk menuju satu peperangan yang besar. Peperangan yang lebih besar itu ialah peperangan melawan nafsu, jihad melawan nafsu. Rasulullah mengajak kita untuk meninggalkan satu peperangan, satu perjuangan yang kecil untuk dilatih melakukan satu perjuangan yang besar yaitu perjuangan melawan nafsu. Kita duduk-duduk saja, tidaklah sesibuk orang lain hari ini. Tapi sebenarnya sedang membuat kerja yang besar yaitu berjihad melawan nafsu.

Pejuang Syariat Mesti Ikut Kaedah Syariat

Dalam ajaran Islam, wajib yang menjadi rukun Islam lebih besar dari pada wajib yang tidak menjadi rukun. Wajib yang tidak menjadi rukun banyak. Berjuang itu wajib, memberi nafkah pada anak isteri itu wajib, taat kepada ibu ayah wajib, taat kepada pemimpin itu wajib, meninggalkan yang haram itu wajib, dan masih banyak wajib-wajib yang lain. Tetapi wajib-wajib yang bukan rukun ini tidak lebih besar dari wajib yang menjadi rukun Islam. Jadi kalau ada orang yang berjuang untuk menegakkan dan membesarkan yang wajib bukan rukun sampai meninggalkan atau melalaikan wajib yang menjadi rukun itu sudah tidak betul. Dia sudah tertipu. Dalam masyarakat kita lihat ada orang yang begitu bersemangat memperjuangkan hudud. Apakah hudud itu rukun Islam? Mengapa karena hendak memperjuangkan hudud sampai lalai mengerjakan puasa, sholat, membayar zakat dan naik haji? Jangan sampai Hudud sudah dijadikan lebih penting dari rukun Islam.

Jadi dalam memperjuangkan syariat Islam mesti mengikut tertibnya yaitu :

  1. Mesti memperjuangkan Tuhan pemilik syariat lebih dahulu agar Tuhan dikenal, dicintai, dibesarkan, disucikan, dijadikan sandaran, ditakuti dan lain-lain
  2. Setelah itu memperjuangkan rukun Islam yang lima yang menjadi asas agama. Setelah Tuhan dikenal maka dia akan melaksanakan rukun Islam yang lima atas dasar cinta dan takutkan Tuhan. Bukan semata-mata atas dasar kewajiban saja.
  3. Setelah itu barulah memperjuangkan wajib-wajib yang lain. Wajib yang lain itupun ada yang fardhu ain, ada yang fardhu kifayah. Yang fardhu ain pada setiap individu mesti didahulukan. Bila dikerjakan, maka akan mendapat pahala, dan bila tidak kerjakan, dia akan menanggung dosa. Ada wajib fardhu kifayah yang berbentuk umum misalnya menyediakan makanan halal, yang mana kalau ada sekelompok umat Islam yang sudah membuatnya, maka yang lain akan terlepas dari dosa. Tapi kalau tidak ada sekelompok yang melakukannya, semua umat Islam disitu berdosa.

Kalau begitu sebelum memperjuangkan suatu wajib kifayah, mesti dinilai dulu taraf wajib kifayah tersebut, mana yang nomor satu, dua, tiga, empat dan seterusnya. Mana yang lebih wajib, memperjuangkan hudud atau memperjuangkan adanya satu kedai atau warung makan dalam masyarakat Islam? Menurut saya memperjuangkan adanya satu kedai atau warung makan dalam masyarakat Islam lebih wajib dan prioritas sebab itu keperluan umum. Sedangkan Hudud itu keperluan untuk orang jahat saja. Kedai atau warung makan dalam masyarakat Islam keperluan umum untuk semua, keperluan setiap hari. Kalau tidak ada kedai atau warung makan di satu masyarakat Islam aakan menyusahkan semua orang, semua umat Islam tanggung dosa.

Kemudian soal Fardhu Kifayah, jangan karena ada benda yang belum dapat dibuat, maka yang dapat kita buat kita tinggalkan atau tidak usahakan. Kalau kita ingin memperjuangkan syariat, sebagai pejuang syariat mesti mengikut kaedah syariat, yaitu : jika tidak atau belum dapat membuat semua jangan tinggalkan semua. Artinya kalau belum dapat menegakkan hudud dalam negara jangan tinggalkan pendidikan, jangan tinggalkan membangunkan ekonomi Islam, kedai, restoran, klinik atau rumah sakit, kebudayaan Islam dan aspek-aspek kehidupan Islam lainnya dalam jamaah kita yang kita ada kuasa di dalamnya dan pemerintah tidak melarangnya. Pemerintah tidak melarang bahkan mendorong jamaah-jamaah Islam untuk membantu pemerintah membangun ekonomi islam, klinik Islam, pendidikan islam, kebudayaan islam dan sebagainya.

Jadikanlah jamaah kita itu sebagai gelanggang dan tempat latihan untuk menegakkan syariat Islam yang sangat kita kehendaki itu dalam bidang ekonomi, kedai, restoran, klinik atau rumah sakit, kebudayaan Islam dan aspek-aspek kehidupan Islam lainnya. Setelah orang nampak keindahannya, kemakmuran dan kedamaiannya sehingga masyarakat merasakan jamaah kita membawa rahmat bagi mereka, mudahlah kita meyakinkan masyarakat termasuk golongan pemerintahan untuk mengamalkan syariat Islam di seluruh negara. Tanpa kita suruh-suruh mereka akan meniru-niru sistem hidup Islam dalam jamaah kita yang cantik. Mereka akan meniru ekonomi Islam kita, kebudayaan Islam, kesehatan islam, pendidikan Islam adan aspek-aspek lain yang sudah kita amalkan dengan begitu cantik dalam jamaah kita. Kalau kita tidak dapat mengamalkan dengan cantik sistem hidup Islam tersebut dalam jamaah kita apa jaminannya kita dapat mengamalkannya dengan cantik di level negara?

Memperjuangkan syariat Islam tidak sama dengan memperjuangkan idiologi dan hukum ciptaan akal manusia. Orang yang memperjuangkan syariat dahulu padahal masyarakat belum lagi kenal, cinta dan takutkan Tuhan pemilik syariat, sebenarnya mereka tidak mengikut jalan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW. Mereka mengikut jalan yang telah ditempuh oleh pejuang-pejuang idiologi yang sekuler. Sejarah Rasulullah SAW yang berjuang selama 23 tahun, perjuangannya terbagi 2 :

  1. Memperjuangkan Tuhan selama 13 tahun akan Tuhan dikenal dicintai dan ditakuti.
  2. Memperjuangkan syariat Tuhan selama 9 tahun.

Padahal Tuhan satu, sedangkan syariat Tuhan beribu banyaknya tapi waktu yang diambil untuk memperjuangkan Tuhan lebih banyak. Sebab, apa arti berjuang bila tidak kenal dan cinta Tuhan, apa arti shalat, zakat, puasa, haji, menutup aurat, bila tidak kenal, cinta dan takutkan Tuhan. Apa arti menolong orang tua dan kawan-kawan bila tidak dibuat atas dasar hendak mencari redho Tuhan. Mengerjakan satu amalan syariat, suatu kebaikan atau meninggalkan suatu larangan bila dibuat bukan atas dasar Allah, maka dia mungkin ria atau munafik. Dosa ria atau munafik ini lebih besar dari pada dosa tidak menutup aurat, menipu atau mencuri. Jadi bila kita tersalah teknik dalam berjuang, kita memperjuangkan syariat tanpa memperjuangkan Tuhan lebih dahulu maka secara sadar atau tidak sadar kita berjuang untuk menjadikan rakyat munafik. Kalaupun tidak semua rakyat mungkin sebagian.

Jalan yang ditempuh ini bukan jalan Islam. Bukan jalan yang Tuhan sampaikan pada Rasul. Tapi jalan atau sistem yang diwujudkan oleh musuh kita. Sebenarnya sistem atau cara perjuangan seperti ini yang mewujudkan dan memperjuangkan bukan orang Islam dia musuh Islam. Karena dia yang membuat jalan, sistem, dan cara, maka dia sudah tahu dimana untung rugi untuk dia dan musuhnya. Jadi berdasarkan itu kalau umat Islam hendak berjuang untuk mendaulatkan kalimah Allah seperti yang telah kita bahas tadi, tapi menempuh jalan musuh, musuh mesti sudah meletak perangkap, baik secara terang atau samar, sebab musuh sangat faham. Itu jalan mereka. Kita yang tidak tahu dan tidak mendapat pimpinan Tuhan main ikut saja. Sampai kapanpun kita tidak akan menang. Islam tidak membenarkan menghalalkan cara untuk mendapatkan kemenangan. Bila cara ini yang ditempuh, maka baik berjaya atau gagal, dianggap gagal. Kalau gagal artinya dua kali gagal. Kegagalan pertama adalah menempuh cara orang yang bukan Islam dan yang kedua tidak mendapat kemenangan.

Kalau kita menang artinya kita mampu menegakkan syariat Islam di peringkat propinsi atau negara tetapi menggunakan cara dan sistem musuh maka bukan Tuhan yang dapat nama, bukan Tuhan yang dapat kebesaran. Sistem itu yang dapat nama. Kalau kita merujuk pada orang yang membuat sistem itu, orang itulah yang mendapat nama. Katalah kita menang atau dapat menegakkan syariat Islam di peringkat propinsi atau negara melalui sistem demokrasi, maka orang akan berkata atau musuh akan berkata hebat sistem demokrasi. Umat Islam untuk menangpun mesti ikut jalan kita. Artinya sistem yang kita buat ini hebat sungguh. Jadi demokrasi yang dapat nama bukan Tuhan. Kalau menangpun tak ada arti. Bukan memperlihatkan kebesaran Tuhan tapi memperlihatkan kebesaran demokrasi.

Kalau kita kaji sejarah para Rasul sampai para sahabat, kita akan temui bahwa tidak pernah mereka berjuang dengan meminjam sistem dan tata cara orang bukan Islam atau musuh. Tidak pernah kita dengar mereka berkata, "kita sudah tidak ada jalan lain untuk mengajak orang pada Islam atau menegakkan syariat Islam dalam propinsi atau negara kita, terpaksa kita ikut jalan orang. Terpaksa kita ikut jalan demokrasi dan demonstrasi". Rasulullah sendiri bahkan pernah ditawarkan untuk mengikut sistem orang Quraisy. Padahal Rasulullah tidak pernah demo turun ke jalan menuntut pelaksanaan syariat Islam dalam masyarakat Islam di Mekah. Mereka berkata kepada Rasulullah SAW : "Wahai Muhammad, kami akan memberi engkau harta yang banyak, atau kami akan jadikan engkau raja atau pemimpin kami, artinya negara ini kami serahkan pada engkau, tetapi dengan syarat engkau jangan seru lagi agama engkau."

Rasulullah tidak mengambil tawaran ini, padahal kalau main akal cukup lojik, orang sudah serah kuasa kepada kita, kita akan diangkat menjadi raja. Untuk strategi perjuangan, ambil saja dulu, kompromi sedikit. Setelah dapat negara aturlah strategi, pandai-pandailah pengaruhi rakyat untuk menegakkan syariat Islam dalam negara. Tidak perlu susah-susah berjuang membangun model sistem hidup islam yang cantik dan indah dalam jamaah kita. Mereka sudah serah kuasa begitu saja. Perlahan-lahanlah kita, agak lojik, itu pun Rasulullah tolak. Rasulullah tidak mau meminjam jalan orang untuk menegakkan sistem Tuhan, bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda : barang siapa yang mengikuti jalan atau tata cara suatu kaum maka ia termasuk ke dalam golongan kaum tersebut. Ini fakta sejarah yang siapapun tak dapat menafikan dan menolaknya.

Fakta sejarah kedua adalah perjuangan umat Islam di zaman kita melalui partai-partai Islam dan sistem demokrasi. Ikhwanul Muslimin di Mesir sudah lebih dulu dari kita. Turki melalui partai Refat, Malaysia melalui PAS, ABIM, Indonesia melalui PPP, Masyumi, Aljazair melalui Front Islamic du Salut, Pakistan, Sudan dengan Hasan Turabinya sudah mencoba berjuang menegakkan syariat Islam melalui demokrasi, lebih dahulu dari kita. Kalau menangpun macam tidak menang. Malam ini menang, esok atau lusa kuasa itu direbut kembali oleh musuh Islam.

Melalui demokrasi, Nectemin Erbakan menjadi Perdana Menteri Turki selama lebih setahun. Tidak banyak perubahan dalam masyarakat yang dibuatnya. Selepas itu militer membekukan kegiatannya, partainya dibubarkan, beberapa pemimpin partainya bahkan dipenjarakan. Mungkin ada yang berhujah, 'kan waktunya singkat, tidak mungkin Erbakan dan Refat membuat perubahan dalam negara.. Siapapun tidak dapat melakukannya.' Ini tidak dapat dijadikan alasan sebab Umar bin Abdul Aziz dengan kaedah, jalan dan tatacara Rasulullah telah berhasil mewujudkan masyarakat madani yang aman damai, harmoni dan mendapat keampunan Allah dalam masa pemerintahannya yang kurang dari 2 tahun. Bukan hanya orang Islam yang menyokong sistem hidup Islam yang diamalkan dalam negaranya bahkan yang bukan Islampun sangat menyokong dan merasakan keindahan hidup dalam masyarakat madani itu. Padahal alat-alat perhubungan dan komunikasi untuk mendidik masyarakat dan menyampaikan keindahan Islam di waktu itu seperti TV, radio, film, alat-alat trasnsportasi, alat-alat multimedia tidaklah secanggih sekarang ini.

Sudan dengan menumpang demokrasi yang dipimpin oleh Hasan Turabi yang sangat bersemangat menegakkan syariat Islam dalam negara, sempat memegang negara tetapi tidak boleh pergi, satu dua tahun habis. Tidak berhasil mendapat kejayaan. Yang lebih tragis adalah Aljazair, sudah menang pada pemilihan umum tahap pertama, tetapi pemilihan tahap kedua ditunda dan dibekukan, pemimpin-pemimpin partai Islam dipenjarakan. Mereka mencoba untuk melawan dan hasilnya terjadi perang saudara, huru hara dan pembunuhan. Ribuan rakyatnya terkorban. Belum lagi syariat Islam yang indah itu tegak dalam jamaah, jauh lagi di peringkat negara, sudah ribuan orang terkorban. Dua kekalahan mereka terima, kalah pertama karena telah menggunakan sistem demokrasi atau sistem musuh Islam untuk menegakkan syariat Islam dan kalah yang kedua adalah kalah karena belum berhasil menegakkan syariat Islam bahkan dalam jamaah sendiri, jamaahnya sudah dihancurkan, pemimpinnya ditangkap dan dipenjarakan, negaranya huru hara, ribuan rakyatnya terbunuh.

Inilah dua fakta sejarah yang menolak sistem orang lain dalam memperjuangkan Islam. Sungguh tidak tepat kalau ada yang berhujah, habis mana jalannya, kami tidak nampak jalan lain, terpaksa kami ikut cara demonstrasi dan demokrasi. Padahal coba ikut jalan Tuhan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah, jangan-jangan kita lebih cepat mendapat kemenangan, mewujudkan masyarakat madani yang aman, damai, makmur, harmoni dan mendapat keredhoan Tuhan. Tidak boleh kita katakan sudah tidak ada jalan, sebab kita belum pernah menempuh jalan itu lagi.

Jalan Tuhan ini adalah jalan untuk membaiki diri, membetulkan sholat, sholat malam, membetulkan keluarga, banyakkan dakwah bukan banyakkan politik dan sedikit demi sedikit membangunkan model ekonomi, kebudayaan, pendidikan, teknologi dan lain-lain berdasarkan prioritas yang telah ditetapkan oleh kaedah syariat. Buatlah apa yang dapat dan mampu dibuat dulu. Kalau belum dapat buat semua jangan tinggalkan semua. Itulah jalan Tuhan dan Rasul.

Kaedah Perjuangan Nabi dan Rasul

Rasul-rasul dan nabi-nabi datang berjuang di tengah masyarakat untuk menegakkan kalimah Allah diantaranya dua perkara yang mereka buat :

1. Yang belum Islam hendak diislamkan.
2. Yang sudah Islam hendak diperbaiki dan ditingkatkan keIslamannya.

Sudahkah kita berjuang seperti para Nabi dan Rasul yang menjadi teladan kita? Sudah berapa banyak orang yang kita Islamkan? Sudah berapa banyak orang yang kita tingkatkan keIslamannya? Berapa banyak orang yang tidak sholat sekarang sudah sholat, yang sudah sholat diperbaiki lagi kualitasnya? Berapa banyak orang yang belum bersatu dari hasil perjuangan kita mereka sudah bersatu? Sudahkah kita menegakkan fardhu kifayah yang dapat kita tegakkan sebelum mendapatkan kuasa politik negara? Sudahkan kita tegakkan sistem kekeluargaan yang dapat kita buat tanpa kuasa? Itulah jalan Islam. Waktu kita diberi ujian oleh Allah, ajak dan arahkan pengikut-pengikut kita bertaubat. Itulah jalan Islam. Jangan-jangan kalau dari dulu kita ikut jalan ini mungkin Alalh sudah beri kuasa ini dari dulu kepada kita. Tidak boleh kita katakan tidak ada cara atau jalan lain. Jalannya ada tetapi kita tidak faham sehingga tidak tempuh. Maka kita ikut jalan orang dan sampai sekarang tidak pernah menang.

Kemudian dalam berjuang, para nabi, rasul dan pengikutnya mempunyai sikap-sikap khusus yang mulia. Dalam Al Qur'an ada satu ayat yang mengatakan, berapa banyak para-para Nabi berjuang dengan para pengikutnya, mereka bersikap :
1. Mereka tidak terasa hina.
2. Mereka tidak terasa lemah.
3. Mereka tidak terasa rendah diri.
4. Mereka sabar.
5. Mereka bertaubat dan meminta ampun kepada Tuhan di atas dosa-dosa dan kelalaian mereka.
6. Mereka minta dengan Tuhan supaya ditetapkan pendirian dalam menghadapi ujian-ujian perjuangan. Ditetapkan pendirian di sini ada dua makna :
1. Fisik, meminta kepada Tuhan jangan sampai mudah lari, mudah keluar dari gelanggang perjuangan, mudah hilang cita-cita dan keinginan untuk berjuang.
2. Hati, meminta kepada Tuhan untuk ditetapkan pendirian jangan sampai berubah keyakinan. Jangan sampai nampak musuh banyak dan kuat, persenjataan mereka canggih, sudah berubah keyakinan kita.

Itulah jalan-jalan perjuangan yang selalu ditempuh oleh para Rasul, Nabi dan pengikut-pengikutnya..

Selain itu diantara ciri perjuangan kebenaran yang dipimpin oleh para Rasul, nabi dan pemimpin perjuangan kebenaran yang bukan Rasul seperti Thalut, Zulkarnain, Sultan Muhamamd Al Fateh, Salahuddin Al Ayubi, Umar bin Kattab dan Umar bin Abdul Aziz adalah terjadinya ujian-ujian dan bantuan-bantuan Tuhan secara silih berganti. Belum pernah berlaku dalam sejarah, Allah beri ujian saja atau ujian dan bantuan sama besar kepada pejuang kebenaran. Biasanya Allah beri mereka satu ujian 10 bantuan, 10 ujian, 100 bantuannya, 100 ujian, 1000 bantuannya. Bantuan Tuhan selalu lebih besar dari ujianNya. Kalau tidak berlaku seperti ini kita mesti muhasabah dan mengoreksi perjuangan kita. Walaupun kita katakan hendak memperjuangkan kebenaran tetapi kalau tidak berlaku begitu, sebenarnya kita bukan memperjuangkan kebenaran. Bantuan-bantuan Tuhan itulah yang disebut Khawariqul Adah. Di zaman Rasul dikatakan mukjizat. Kalau pemimpin itu bukan Rasul dikatakan karamah. Bentuk-bentuk karamah itu berupa yakazah, mimpi yang benar, berita ghaib, hatif, maunah, firasat, rezeki, ilmu dan lain-lain.

Bila bantuan Tuhan datang maka pejuang dimudahkan Allah dalam mewujudkan masyarakat madani yang aman damai harmoni dan mendapat keampunan Allah. Rakyat dimudahkan untuk baiki diri, berkasih sayang dan rezeki dimudahkan. Rakyat hidup makmur, nyaman dan senang. Kalau tanpa bantuan Allah 1 ha menghasilkan 2 ton gandum tetapi dengan bantuan Tuhan hasilnya dapat menjadi 10 atau 20 ton. Ini sudah terbukti di zaman Saidina Umar bin Abdul Aziz.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer