warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

08 Kuliah Tafsir Jalan Jalan Menuju Allah






Untitled Document



Allah berfirman dalam Al Qur'an :

surat:29 ayat:69

Maksudnya

Dan mereka yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-jalan Kami pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah pasti bersama dengan orang-orang baik. (Al Ankabut: 69)

Sebenarnya ayat ini pendek, tetapi bukan mudah untuk memahaminya. Kalau tidak dibahas dari banyak aspek, susah bagi kita untuk faham dan mengamalkannya di zaman sekarang ini.

Aspek pertama adalah kata subulana. Dalam ayat ini ada 1 kata yang penting yaitu subulana yang artinya jalan-jalan Kami, banyak jalan. Sedang dalam ayat berikut :

surat:16 ayat:125

"Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah" (An Nahl 125)

tidak disebut subulana tapi sibili yang artinya 1 jalan.

Aspek yang ke-2 adalah huruf taukid artinya perkataan yang menunjukkan ketegasan. Ayat ini pendek tetapi ada 4 kali penegasan, artinya ada masalah besar di situ. Kalau tidak mungkin hanya ada 1 atau 2 taukid saja. Ini ada empat. Artinya perkataan yang tegas. Tuhan kata, innAllaha ma'al muhsinin. Setelah Tuhan membuat penegasan artinya setelah Tuhan berjanji sungguh-sungguh akan membantu orang yang mujahadah tadi, Tuhan menegaskan lagi bahwa Tuhan bersama orang-orang yang berbuat baik. Hadiahnya Aku bersama mereka.

Mengapa pada ayat yang ke-2 dikatakan hendaklah menyeru kepada jalan Tuhan engkau, 1 jalan. Sedang pada ayat yang pertama disebut subulana, banyak jalan? Ayat pertama menunjukkan sumber kebenaran itu 1 dari Allah. Jalan yang benar itu menunjukkan ke arah 1 saja yaitu Allah. Tidak ada jalan lain. Kebenaran itu datang dari 1 jalan yaitu Allah kepada Rasulullah SAW yang kemudian disampaikan kepada umatnya. Artinya orang lain tidak boleh campur tangan termasuk Rasulullah SAW.

Ayat yang ke-2 "walladzi .. subulana…", disebut banyak jalan. Maksud jalan-jalan atau banyak jalan di sini artinya syariat Tuhan yang merupakan alat bagi manusia untuk menuju Tuhan banyak jenisnya. Ada yang wajib, fardhu, sunnat muakkad. Fardhu ada yang bertaraf rukun ada yang wajib saja tidak rukun dan lain-lain yang mesti diwujudkan di dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari manusia. Syariat Allah yang banyak jenis tadi tidak akan mampu diamalkan kalau tidak melalui mujahadah atau bersungguh-sungguh.

Mujahadah dari perkataan jahada. Dalam nahu bahasa Arab ada musyarakah, berkongsi. Jahada tu mengandung wazan musyarakah. Wazan musyarokah ini ada yang negatif ada yang positif. Kalau kita hanya memegang terjemah Al Qur'an saja bahaya, susah untuk faham. Adakalanya wazan musyarakah ini 1 positif yang lain juga positif, maka berkawanlah, tidak saling melawan, sebab suka sama suka. Misalnya orang yang berniaga ingin cari duit, yang datang membeli memang memerlukan barang itu. Sebab itu dalam Islam dikatakan muammalah, artinya perlu memerlukan. Perlu memerlukan yang sangat positif, kalau ikut syariat, macam jual beli atau bernikah akan dapat pahala. Wazannya sama.

Tetapi pada ayat tadi sampai 4x Allah membuat penegasan, sebab wazan yang ada dalam ayat ini berlawan, musyarakah juga tapi negatif dengan positif. Banyak perintah syariat yang mesti kita buat, sedang diri berat dan tidak ingin melaksanakannya. Tuhan seolah paksa, hati manusia tidak mau buat, tapi mesti dibuat. Ini bukan mudah, ia mesti berperang dulu melawan nafsu.

Yang tadi mudah, sama-sama suka. Dia mau dan perlu membeli barang kita, kita juga mau menjual pada dia. Atau kita mau nikah dengan dia, dia juga mau nikah dengan kita. Tetapi dalam ayat walladzi na jahadu …., ini berat. Sebab ada yang ingin ada yang tidak ingin. Perkataan walladzi na jahadu fina itu artinya lelaki yang berjuang karena Kami. Fina di sini maksudnya karena, bukan jalan. Jadi orang yang berjuang karena Tuhan yang mana Tuhan suruh, tetapi hatinya tidak mau atau berat, tetapi ia paksakan juga, ini suatu yang berat. Padahal yang Tuhan suruh itu bukan 1, tapi banyak yaitu puasa, sholat, haji, berbuat baik, pemurah, kasih sayang dan lain-lain, semuanya hanya dapat dibuat dengan sungguh-sungguh memaksa diri. Sebab itu ayat ini dimulai dengan perkataan wazan musyarakah. Asalnya bersungguh-sungguh, tapi diterjemah dengan maksud berjuang. Padahal alladzi na ... boleh diartikan mereka yang bersungguh-sungguh. Tapi bila demikian maksudnya 1 arah. Sebab itu orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dikataan ijtihad bukan mujahadah sebab 1 arah. Dia tidak berlawan dengan keinginannya.

Orang yang berjuang untuk mencari keredoan Tuhan mesti menempuh jalan syariat yang banyak macam, sangat susah. Bertembung antara mau dan tidak mau. Kalau ada orang yang boleh membuatnya juga, empat kali Tuhan tegaskan Aku akan tolong, Aku akan bantu, Aku bersama mereka. Sesungguhnya Allah pasti bersama-sama orang yang berbuat baik. Siapa yang berjuang melawan nafsu untuk membangunkan syariat dia mesti menempuh berbagai kesusahan, nafsu tercabar, maka Tuhan kata, Saya jamin Saya jamin Saya jamin Saya jamin (4x penegasan) akan menolong orang itu. Mengapa? Sebab susah untuk menempuh jalan-jalan syariat itu.

Apa yang Tuhan akan buka dan tolong untuk orang yang bersungguh-sungguh ini? Pertama Tuhan akan memberi hidayah atau petunjuk yakni keinginan dan kecendrungan kepada Islam. Ini adalah modal awal atau satu permulaan menuju taqwa. Setelah itu Allah akan anugerahkan kepadanya ilmu-ilmu, baik yang tersurat maupun yang tersirat sehingga jalan petunjuk itu nampak. Kalau petunjuk saja yang diberi sedang jalannya tidak nampak susah juga untuk menuju Allah. Dan akhirnya Allah tegaskan bahwa Ia akan bersama mereka. Padahal Allah tidak bertempat. Artinya keselamatan mereka Aku jamin atau orang ini Aku jamin.

Mujahadah di sini untuk mencari jalan taqwa. Bila sudah dapat jalan itu Allah akan jamin. Mujahadah ini besar dan susah, makanya Allah sebut Aku jamin. Sedang kawin senang, maka tidak disebut Tuhan akan jamin. Sebab menyenangkan. Kita hendakkan dia, dia juga hendakkan kita..

Begitulah khazanah dalam Al Qur'an. Satu baris saja betapa kaya tafsiran dan uraiannya. Sebab itu ulama mengatakan setiap ayat atau kata Al Qur'an itu ada 70 lapis kefahaman. Untuk memahaminya memerlukan ilham dari Tuhan. Zaman ini Tuhan bagi kefahaman lapis ini, zaman lain Tuhan bagi lapis yang lain lagi. Yang asas sama, tak berubah. Ada ayat-ayat yang bila kita gunakan tafsiran ulama-ulama dahulu yang tidak se zaman dengan kita, nampak dan terasa tafsirannya kurang relevan dan tidak indah. Al Qur'an adalah panduan hidup umat Islam sampai hari kiamat sudah tentu di setiap zaman akan Allah beri kefahaman atau tafsirannya kepada orang yang Allah kehendaki sebagai panduan hidup bagi umat Islam sedunia. Sebab itu kalau orang hanya berpandukan terjemahan Al Qur'an saja kemudian dia katakan sudah kembali kepada Al Qur'an, sebenarnya dia sudah menghina Al Qur'an, menyempitkan panduan Al Qur'an. Sebab dia dapat 1 saja pasir. Orang akan kata Qur'an itu hanya memuat pasir, padahal khazanahnya lebih indah dan berharga dari pada intan berlian..

Kalaulah kefahaman terhadap ayat-ayat Al Qur'an saja sudah salah, bagaimana pelaksanaannya? Inilah yang sedang terjadi di dunia saat ini sehingga umat Islam yang mengamalkan Al Qur'an tidak nampak indah, aman damai dan harmoni kehidupannya.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer