warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

06 Sensitif Dengan Dosa






Untitled Document



Salah faham tentang Dosa

Semua umat Islam faham bahwa yang dimaksud dengan berdosa adalah bila manusia melanggar larangan-larangan Allah SWT dan meninggalkan perintah-perintah Allah yang berkaitan dengan amalan-amalan lahiriah. Sebenarnya dosa dapat kita klasifikasikan ke dalam beberapa jenis, diantaranya :

  1. dosa-dosa anggota lahir terhadap manusia dan Tuhan
  2. dosa-dosa batin terhadap sesama manusia
  3. dosa-dosa ilmu yang tidak diamalkan
  4. dosa-dosa tidak syukur nikmat
  5. dosa-dosa perjuangan bagi anggota jamaah perjuangan
  6. dosa-dosa batin dengan Tuhan
  7. dosa karena melupakan dosa-dosa

Masyarakat umum menganggap bahwa yang dianggap dengan dosa adalah hanya yang berkaitan dengan aspek-aspek lahiriah saja seperti menipu, berbohong, mencuri, berzina, korupsi, memukul orang yang tidak bersalah, memfitnah, meninggalkan sholat, tidak berpuasa dan lain-lain. Ada juga yang lebih halus, walaupun lebih sedikit jumlahnya. Mereka menganggap dosa juga amalan-amalan batin yang berkaitan dengan manusia lain seperti ego, hasad dengki, pemarah, bakhil dan lain-lain.

Jarang orang yang menganggap dirinya berdosa kepada Tuhan bila dia tidak melaksanakan perintah Allah seperti tidak belajar ilmu fardhu 'ain, tidak mendidik anak isteri untuk di bawa kepada Tuhan, tidak pemurah, tidak berkasih sayang, tidak tawadhu, tidak pemaaf, tidak simpati kepada orang yang susah, tidak berakhlak mulia dan sebagainya. Padahal semua itu merupakan dosa-dosa kepada Allah.

Jarang juga orang menganggap dirinya beroda bila dia tidak mengamalkan ilmu yang pernah dipelajari terutamanya ilmu-ilmu fardhu 'ain, ilmu-ilmu baiki diri. Padahal ilmu-ilmu yang kita pelajari yang tidak kita amalkan, atau tak berniat untuk mengamalkannya, itu adalah satu dosa juga. Allah berfirman dalam Al Qur'an :

surat:61 ayat:3

"Sungguh besar kemurkaan Allah kepada mereka yang mengatakan (ilmu) tetapi tidak mengamalkannya" (As Saff:3)

Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya :

"Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, akan diazab Allah 500 tahun lebih dahulu dari penyembah berhala"

Jadi jelaslah satu dosa yang nyata bagi orang yang tidak mengamalkan ilmunya. Patutnya kita selalu berdoa dan merintih kepada Allah agar kita dilindungi dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat dan tidak diamalkan.

Kadang kala terjadi pembaziran dalam dalam menuntut ilmu. Ilmu-ilmu fardhu 'ain dan baiki diri tidak sungguh-sungguh dituntut sehingga ilmu fardhu 'ainnya tidak cukup, tetapi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan di dunia seperti matematik, ekonomi, biologi, kimia dan lain-lain dipelajari sampai berlebih. Terjadi kekurangan dalam ilmu fardhu 'ain dan baiki diri tetapi pembaziran dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan di dunia. Padahal mubazir adalah kawan setan. Inilah yang terjadi di dalam sistem pendidikan di dunia sekarang ini. Ilmu yang diterapkan dalam pekerjaan profesional seorang sarjana maksimal 10% dari ilmu-ilmu profesional yang dia pelajari di bangku sekolah atau universitas. Firman Allah dalam Al Qur'an :

surat:17 ayat:26 surat:17 ayat:27

Dan janganlah kamu mubazir. Bahwasanya orang-orang yang mubazir itu adalah daripada golongan syaitan dan syaitan itu sangat kufur pada Tuhan. (Al Isra': 26 - 27)

Ada satu jenis dosa lain yang orang kurang peduli dan ambil perhatian yaitu dosa tidak syukur nikmat atau dosa kufur nikmat. Terjadi salah faham tentang syukur ini. Mayoritas masyarakat menganggap bahwa syukur adalah mengucap alhamdulillah ketika mendapat nikmat dari Allah. Padahal syukur tidak cukup dengan sekadar mengucap Alhamdulillah, dia mesti dibenarkan oleh hati. Bila mendapat nikmat, hatinya teringat kepada Tuhan yang memberi. Selain itu nikmat itu mesti digunakan di jalan Tuhan.

Bila ketiga hal ini tidak dapat dilakukan, artinya dia masih kufur nikmat lagi. Bila mendapat rezeki, menyebut alhamdulillah, tetapi tidak menggunakan uang itu di jalan Tuhan, tidak berkorban fisabilillah, tidak membantu orang miskin, tidak membangun berbagai projek kebaikan yang memberi manfaat kepada masyarakat. Orang ini masih belum bersyukur lagi, padahal dalam Al Qur'an Allah berfirman yang maksudnya :

surat:2 ayat:172

"Bersyukurlah kamu kepada Allah sekiranya kamu benar-benar menyembah-Nya." (Al Baqarah: 172)

surat:14 ayat:7

"Jika kamu bersyukur akan Aku tambah nikmat-nikmatKu, tetapi jika kamu kufur tunggulah azabKu yang amat pedih". (Ibrahim: 7)

Orang yang bersyukur selain melakukan ke-3 aspek di atas, dia akan iringi dengan rasa takut kalau-kalau nikmat itu tidak dapat digunakan di jalan Allah dan berniat sungguh-sungguh untuk menggunakan nikmat itu hanya untuk Allah.

Bagi pengikut sebuah jemaah perjuangan kebenaran, lebih-lebih lagi jamaah perjuangan kebenaran yang dijanjikan, ada kewajiban-kewajiban aradhi yang mesti dilaksanakan. Kalau para pengikutnya lalai atau tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban itu maka akan merusak imej Islam dan jamaah perjuangan itu.

Contohnya membersihkan rumah tamu, kantor atau wisma. Walaupun sudah ada orang yang ditugaskan resmi untuk membuat kerja-kerja itu, tetapi kalau ada seorang anggota jamaah yang melihat sampah atau kotoran di wisma, kemudian dia biarkan saja, maka kesalahan ini termasuk dosa aradhi perjuangan yang cukup besar. Sebab para tetamu yang datang akan mendapat imej yang kurang baik terhadap jamaah dan Islam. Apalagi kalau sampai ada yang mengkritik secara terbuka. Sepatutnya para tetamu yang datang ke kantor atau wisma kita mendapat kesan yang sangat baik tentang Islam dan perjuangan sehingga mereka terdorong untuk lebih bersungguh-sungguh mencari Tuhan.

Contoh lainnya adalah berkorban harta dan tenaga ketika jemaah perjuangan hendak membangunkan sebuah projek kebaikan untuk masyarakat. Maka diwaktu itu seluruh anggota sepatutnya berlomba-lomba mengambil peluang berkorban ini. Bila ada seorang yang menunggu, dia harap orang lain yang berkorban lebih dahulu, maka ini adalah satu kesalahan atau dosa yang aradhi.

Jenis dosa perjuangan lainnya adalah bila tidak saling berkasih sayang sesama anggota jemaah, tidak tolong menolong, tidak simpati terhadap kesusahan dan penderitaan kawan. Kalau kita pemimpin kita kurang peduli atau kurang memperhatikan keperluan anak-anak buah dari sudut makan minum, rumah tinggal, pendidikan keluarga, environment, pekerjaan, sholat, ibadah, akhlak dan lain-lain. Begitulah manusia senantiasa terlibat dengan dosa.

Ada 1 jenis dosa yang lebih besar dari dosa-dosa di atas, tetapi umat Islam secara umum termasuk para ulama dan sarjana Islam kurang begitu mempedulikannya yaitu dosa-dosa batin yang berkaitan dengan Tuhan seperti :

1. Tidak kenal Tuhan
2. Tidak cinta Tuhan
3. Tidak takut Tuhan
4. Tidak merasa kehebatan dan kebesaran Tuhan
5. Tidak bertawakkal kepada Tuhan
6. Tidak merasa Tuhan pemberi rezeki
7. Tidak khusyuk beribadah
8. Tidak yakin dengan Tuhan
9. Tidak ikhlas dengan Tuhan
10. Tidak takut pada ancaman Tuhan
11. Tidak harap pada rahmat Tuhan
12. Tidak redha akan takdir Tuhan
13. Tidak puas dengan pemberian Tuhan
14. Tidak sabar atas ujian Tuhan
15. Tidak syukur atas nikmat Tuhan
16. Tidak terasa di awasi Tuhan
17. Tidak terasa kehebatan Tuhan
18. Tidak rindu dan cinta dengan Tuhan
19. Tidak rindu pada syurga dan tidak takut pada neraka
20. Lalai dari mengingat Tuhan
21. Dan lain-lain

Padahal rasulullah SAW bersabda :

"Awal-awal agama adalah mengenal Allah".

Jadi kewajiban awal dalam kehidupan manusia adalah mengenal Tuhan. Kalau manusia tidak kenal Tuhan, maka akan timbul berbagai jenis dosa-dosa lain yang mereka perbuat baik secara sadar ataupun tidak sadar. Bila tidak kenal Tuhan, sudah tentu tidak cinta dan takut Tuhan, padahal Tuhan itu patut dicintai. Bila tidak cinta Tuhan, maka otomatis tidak akan cinta kepada sesama manusia. Hidup manusia akan mementingkan diri, keluarga dan kelompok sendiri. Mengapa? Atas alasan apa kita dapat mencintai orang lain, sedangkan Tuhan yang sangat berjasa kepada kita yang telah memberi segalanya kepada kita, tidak kita cintai.

Karena itu bila manusia jahil, tidak kenal dan tidak cinta Tuhan, otomatis cinta pada sesama manusia sudah tidak murni. Akibatnya kesan negatifnya terlalu banyak. Tidak berkasih sayang, tidak pemurah, tidak amanah, tidak ada tenggang rasa, tidak ada perikemanusiaan, keadilan dan kerja sama. Kalaupun ada kerjasama bukan karena cinta, tidak ikhlas dan ada kepentingan, mungkin karena ingin keuntungan ataupun untuk menjaga harga diri. Karena itu ikatannya terlalu tipis dan dapat berpecah kapan saja.

Selain itu, bila manusia tidak kenal Tuhan, maka manusia tidak akan takut pada Tuhan, walaupun mereka tahu bahwa Tuhan patut ditakuti. Akibatnya mereka tidak merasa pengawasan ghaib dari Tuhan sehingga tidak takut untuk membuat maksiat dan kejahatan. Kalau hukum Tuhan saja mereka tidak takut untuk melanggarnya, lagilah hukum-hukum dan peraturan buatan manusia. Akhirnya lahirlah berbagai kejahatan dalam masyarakat yang dibuat oleh orang-orang yang tidak kenal dan tidak takut Tuhan. Bahkan yang lebih ironis lagi orang-orang yang pakar hukum dan aparat penegak hukumpun berani melanggar hukum secara terang-terangan. Jadi tidak kenal Tuhan adalah punca atau sumber segala dosa dan permasalahan yang menimpa manusia di dunia.

Termasuk dalam dosa-dosa ini adalah tidak sabar dan tidak redho dengan ketentuan Tuhan. Bila diuji manusia tidak sabar, berkeluh kesah bahkan ada yang complain dan menyalahkan Tuhan, merasa Tuhan tidak patut memberinya ujian yang begitu berat. Tidak redha dengan ketentuan, ketika Tuhan uji dengan kesusahan dan kepahitan hidup, mereka cemas, gelisah, hilang pertimbangan dan bertindak di luar syariat. Sebaliknya ketika Tuhan uji dengan kesenangan dan kemewahan hidup, mereka lupa daratan, hilang pertimbangan serta mudah terjebak dalam tipuan nafsu dan syaitan. Padahal Maha Suci Tuhan dari pada menzalimi hamba-hambaNya. Tuhan memberi ujian dengan maksud untuk menghapuskan dosa-dosa hamba-hambaNya agar tidak diazab di akherat nanti atau untuk meningkatkan derjat hamba-hambaNya bila mereka sabar dengan ujian itu. Meraka yang sabar dengan ujian akan mendapat pahala bighoiri hisab. Allah marah kepada orang yang tidak sabar dengan ujian dariNya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman yang maksudnya :

Barangsiapa tidak redha terhadap takdir yang terjadi dan tidak sabar terhadap bala (cobaan) dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku. (Riwayat: At Tabrani)

Jangan Ambil Ringan Dosa

Jangan anggap kecil dosa yang kita buat sejak kita baligh, sekalipun ia kecil pada pandangan lahir manusia. Pada pandangan manusia mungkin dosa itu kecil atau bukan dosa tetapi ia besar pada pandangan Tuhan. Bila dikata dosa artinya nerakalah. Dosa walau sebesar habukpun, kalau Tuhan tidak ampunkan, maknanya besar sebab dapat membawa manusia ke dalam neraka. Jangan anggap ringan dengan berkata, "alah kecil sebesar habuk". Kalau kita paham, ini akan mengganggu perasaan kita. Dosa artinya neraka, kalau neraka, kecil besar sama saja.

Dosa yang besar, manusia akan terasa dan kalau ia bertaubat dan meminta ampun, maka bila Tuhan ampun-kan selesailah. Tetapi dosa yang kecil sebesar habuk, atau dosa-dosa batin seperti yang diuraikan di atas, tidak nampak dan tidak terasa kecuali oleh orang-orang yang sensitif dengan Tuhan saja. Bila tidak terasa, maka dia akan lupakan dosa-dosa itu dan dia tidak akan bertaubat dan meminta ampun kepada Tuhan. Maka sudah menjadi satu dosa lagi. Dosa di atas dosa. Kadang-kadang manusia sangat mengambil perhatian tentang dosa-dosa lahir yang besar tetapi dengan dosa kecil atau dosa-dosa batin yang tidak nampak dia tidak ambil peduli. Matilah dia dalam keadaan tidak merasa berdosa. Maka matilah dia dalam kemurkaan Allah. Ini yang Tuhan marah. Karena itu jangan pandang kecil atau lupa-lupakan dosa.

Mari bertaubat atas dosa-dosa

Kalau kita perhatikan betapa banyaknya dan menggunungnya dosa-dosa yang kita buat sejak baligh yang belum kita taubatkan. Bahkan kebanyakan dosa-dosa itu tidak kita rasakan sebagai dosa sehingga telah kita lupakan. Kadang yang kita sadar sebagai dosapun tidak kita taubatkan sungguh-sungguh. Melupakan atau meringankan dosa yang pernah kita buat sejak baligh adalah dosa. Akhirnya dosa kita sudah beranak pinak.

Jelaslah bahwa sejak baligh lagi manusia sentiasa berada dalam dosa yang menjadi hijab antara dirinya dengan Tuhan. Sehingga terhijab seluruh rahmat dan kasih sayang-Nya. Bila ini terjadi, apa saja amal ibadah dan kebajikan yang manusia buat, Tuhan tidak pandang dan tidak terima. Bukan itu sahaja, bahkan di Akhirat kelak, Tuhan akan hukum dengan Neraka yang amat dahsyat. Oleh itu wajib setiap hamba Tuhan itu merasa senantiasa berdosa dan bertaubat dengan segera terutamanya apabila melakukan dosa dan kesalahan yang ia sadari.

Taubat artinya kembali merujuk kepada Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menyerah diri kepada-Nya dengan hati penuh penyesalan yang sungguh-sungguh. Yakni kesal, sedih, dukacita serta rasa tak patut di atas dosa-dosa yang dilakukan sehingga menangis mengeluarkan air mata. Hati terasa pecah-pecah bila mengingati dosa-dosa yang dilakukan itu. Merayu moga-moga Tuhan ambil perhatian. Merintih moga-moga Tuhan mendengar. Memohon agar Tuhan yang Maha Pengampun akan mengampunkannya. Meminta agar Tuhan memandang dan memberi dengan penuh kasih sayang. Hati pecah-pecah itu menjadikan anggota-anggota lahir (mata, telinga, kepala, kaki, tangan, kemaluan) tunduk dan patuh dengan syariat yang Tuhan telah tetapkan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi perbuatan-perbuatan derhaka itu.

Taubat tidak cukup hanya dengan mengucapkan istighfar di mulut, tanpa hati merasa bersalah dan berdosa. Karena itu tidak semudah itu pula Tuhan menerima taubat hamba-hamba-Nya, kecuali setelah menempuh syarat-syarat yang telah ditetapkan-Nya. Syarat-syarat taubat dibagi kepada dua sebagaimana dosa dan pahala terbagi kepada dua, yaitu syarat taubat diatas dosa dan kesalahan dengan Tuhan dan juga dosa dan kesalahan sesama manusia. Antara syarat-syarat taubat yang berhubung kait dengan Tuhan ialah :

Pertama: Menyesal sungguh-sungguh di atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Yakni terasa kesal, sedih, duka cita, rasa tidak patut kerana melanggar syariat Tuhan. Sekaligus datang perasaan menyerah diri pada-Nya.

Kedua: Berazam bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi perkara-perkara yang menjadi larangan Tuhan itu.

Ketiga: Meninggalkan perkara-perkara yang mendatangkan dosa-dosa dengan Tuhan baik dosa besar maupun dosa kecil.

a. Diantara contoh dosa-dosa besar ialah meninggalkan sholat, tidak puasa, menenung nasib, minum arak, berzina, judi, rasuah, riba, memfitnah, mengumpat, membunuh.
b. Diantara dosa-dosa kecil ialah tidak menutup aurat, bergaul bebas lelaki dan wanita, melihat aurat yang bukan muhrim, mendengar nyanyian yang menaikkan nafsu syahwat, bercakap lucah, bergurau berlebih-lebihan, berkelakar, membazir.

Kalau selama ini ia terlibat dengan perbuatan yang haram (seperti riba, tidak menutup aurat, minum arak) maka ia terus tinggalkan perbuatan tersebut. Kalau terlibat dengan dosa-dosa meninggalkan perkara-perkara wajib (seperti sholat dan puasa), maka ia tidak akan meninggalkannya lagi. Ia terus melaksanakan perkara-perkara yang wajib dengan bersungguh- sungguh dan membayar qada' segala perintah wajib yang tertinggal itu.

Tetapi jika dosa dan kesalahan itu terhadap sesama manusia, selain menempuh 3 syarat taubat yang sudah disebut di atas, ia mesti meminta maaf atau minta redha (halal) kepada orang tersebut di atas dosa-dosanya. Dosa-dosa sesama manusia ini sebenarnya terlalu banyak. Secara ringkasnya, ia boleh dibahagikan kepada empat kategori, iaitu;

  • a. Dosa berkaitan dengan harta seperti hutang yang tidak dibayar, harta yang dicuri, dirampas, ditipu, dibinasakan dan lain-lain. Ini semua mesti minta dihalalkan atau minta maaf pada orang yang bersangkutan, membayar hutang atau ganti ruginya..
  • b. Dosa berkaitan dengan pribadi, seperti pernah memukul, menempeleng, mencubit, merotan, mendera, mengikat dirinya, merantai, menyiksa, mencacatkan anggota badannya, mengurung atau memenjarakan dan lain-lain. Dosa-dosa ini semuanya mesti diminta maaf kepada orang yang berkenaan atau menerima hukuman mengikut ketentuan syariat, sekiranya orang itu meminta dikenakan hukuman diatas perbuatan kita itu.
  • c. Dosa yang ada hubungan dengan maruah atau agamanya. Seperti memberi malu di depan khalayak ramai, mengumpat dirinya, menghinakan dia, menuduh dia dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar, memfitnah dan lain- lain kesalahan. Ini mesti diminta maaf atau minta redha.
  • d. Dosa yang ada hubungan dengan keluarganya, seperti pernah memegang-megang, meraba-raba, mencium anak gadisnya atau menzinai anggota keluarganya atau membunuh ahli keluarganya. Maka hendaklah meminta maaf dan meminta redha dari keluarganya. Kalau mereka tidak redha dan maafkan, mesti sanggup untuk dibalas oleh pihak keluarganya baik dipukul, ditempeleng dan lain-lain mengikut syariat yang disahkan oleh mahkamah.

Semua tuntutan syariat ini mesti dibuat mengikut kaedah-kaedah tadi barulah taubat itu diterima oleh Tuhan. Sungguhpun begitu bukan mudah untuk menunaikan syarat-syarat ini melainkan setelah memiliki hati yang benar-benar ikhlas dan menyerah pada-Nya. Kalau tidak dapat menunaikan syarat-syarat ini, taubat itu tidak diterima. Orang yang egonya tinggi amat berat untuk bertaubat. Lebih-lebih lagi bila dosa yang dilakukan itu sesama manusia.

Begitulah kasih sayangnya Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa. Masih ada peluang bertaubat untuk mendapat keampunan dari Tuhan dengan menempuh syarat-syarat yang telah disebutkan. Kecuali dosa-dosa syirik, yang tidak dapat keampunan dari Tuhan. Kerana ia telah dinyatakan-Nya didalam firman-Nya yang bermaksud :

surat:4 ayat:48

Terjemahan: "Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampunkan dosa-dosa syirik tetapi mengampunkan selain itu" (An Nisa 48)

Maknanya selain syirik, orang-orang yang bertaubat daripada dosa-dosanya akan diampunkan oleh Tuhan. Apabila diampunkan, maka samalah dia seperti orang yang tidak berdosa. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :

"Orang yang bertaubat daripada dosa sepertilah orang yang tidak berdosa."

Firman Allah SWT:

surat:5 ayat:39

"Maka barangsiapa yang bertaubat, sesudah melakukan kejahatan itu dan membaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Maidah: 39)

surat:4 ayat:110

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya kemudian dia memohon ampun kepada Allah, nescaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."- Ayat 110; Surah An Nisa'.

Berdasarkan Hadis-Hadis dan ayat-ayat Al Quran tadi dapat difahami bahawa wajib setiap orang Islam itu bertaubat daripada dosa-dosanya. Supaya tidak menjadi hijab antara dia dengan Allah. Setelah bersih dari pada dosa, maka hijabpun terangkat. Terhubunglah kembali kasih Allah yang terputus selama ini. Dia memandang hamba-Nya itu dengan pandangan penuh kasih sayang sehingga rahmat-Nya melimpah ruah. Justru itu, hiduplah si hamba yang bertaubat itu dengan penuh bahagia di dunia dan mendapat balasan Syurga di Akhirat. Sebab itu ALLAH minta dan memujuk hamba-hamba- Nya supaya segera bertaubat. Firman-Nya;

surat:3 ayat:133

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhan-Mu dan kepada Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi..." Surah Ali Imran; ayat 133.

Berdasarkan ayat ini Tuhan meminta kita bersegera bertaubat dari segala dosa-dosa baik yang besar maupun yang dan perbuatan makruh yang dibenci Allah. Kerana mati itu tidak tahu bila masanya. Boleh jadi mengejut, datang tiba-tiba. Setelah bertaubat memohon keampunan Tuhan, Tuhan menyuruh kita segera mengejar Syurga. Yakni dengan cara melakukan amal soleh atau amal kebajikan seperti berjuang, berkhidmat kepada masyarakat, bersedekah, menahan marah, memaafkan kesalahan orang dan sebagainya.

Takutilah Dosa-Dosa Batin

Ada seorang yang pernah melakukan dosa besar 20 tahun yang lalu dan dia setiap hari merasa berdosa, menyesali dan menagisi dosanya sehingga matanya rabun dan dadanya terasa pedih karena terlalu banyak menangis. Bertaubat seperti ini merupakan satu ibadah yang baik. Takutnya kepada Tuhan itu akan menjadi syafaat bagi dia di dunia dan di akhirat. Ini lebih besar dari sholat dan puasa sunat. Sebab tujuan taubatnya tercapai yaitu mendapat rasa hamba. Ini satu anugerah dari Tuhan, sebab bukan mudah untuk mengingati apalagi menyesali dosa-dosa yang pernah kita buat beberapa puluh tahun yang lalu. Pada suatu hari Ummul Mukminin Sayidatina Aisyah bertanya kepada Nabi SAW : "Wahai Rasulullah, "Apakah ada umatmu yang nanti dapat masuk syurga tanpa hisab?" Jawab baginda,"Ada, yaitu orang yang mengenang dosanya lalu dia menangis."

Ada juga hamba Allah yang terlalu tajam rasa bertuhannya sehingga setiap kali selesai membuat kebaikan menurut ukuran manusia biasa dia segera bertaubat karena dia merasa kebaikan yang dia buat itu tidak sempurna. Dia merasa kebaikan yang dia buat itu tidak ikhlas karena Allah, terselit kepentingan-kepentingan lain atau dia merasa tidak beradab kepada Tuhan yang senantiasa mengawasinya dalam membuat kebaikan itu. Dia terasa yang dia buat itu bukan suatu kebaikan tetapi suatu kedurhakaan kepada Tuhan walaupun secara lahiriah suatu kebaikan. Hamba seperti ini senantiasa merasakan dirinya berdosa dan ibadah-ibadahnya tidak sempurna. Tanpa anugerah dari Allah, sangat sukar bagi manusia untuk memiliki sifat kehambaan yang halus seperti ini. Sangat sukar untuk mengesannya, ia memerlukan pandangan mata batin, tidak cukup dengan mata lahir dan akal saja.

Kadang suatu amalan nampak baik oleh mata dan akal tetapi kalau dicermati dengan hati yang tajam ternyata suatu kejahatan. Contohnya mengerjakan sholat. Mata lahir mengatakan baik, akal-pun berkata demikian juga. Tapi kalau kita tanya hati, susah untuk memberi jawaban baik atau tidak baik. Kalau lepas mengerjakan sholat, hati kita rasa senang, rasa selamat dengan sholat itu, maka rusaklah ibadah kita itu. Selepas sholat dipuji orang hati rasa bangga dan berbunga, habislah semua. Itulah yang dimaksudkan ibadah itu menjadi hijab dan dosa. Mana boleh selepas sholat kita rasa senang dan tenang. Patutnya kita rasa takut dan cemas sebab sholat kita tidak sempurna, ada lalai dan cacat di sepanjang sholat. Hati sepatutnya bertanya-tanya, sholat aku ini Tuhan terima atau tidak? Tuhan redho atau tidak? Tuhan tidak pandang mata dan aqal, tetapi Tuhan pandang hati manusia walau ibadah lahir mesti dibuat. Firman Allah yang bermaksud :

surat:26 ayat:88 surat:26 ayat:89

Hari kiamat yaitu hari (ketika manusia meninggalkan dunia ini) di mana harta dan anak tidak berguna lagi kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat. (Asy Syuara': 88 - 89)

Sabda Rasulullah SAW :

Terjemahannya: Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.(Riwayat: Muslim)

Sebenarnya ketika menghadap Tuhan kita sedang menghadap Raja dari segala raja. Sebab itu bagi orang yang betul-betul faham, ketika dia hendak sholat dia bimbang dan gelisah takut tidak beradab di hadapan Raja segala raja. Macam raja besar dunia hendak memanggil kita rakyat biasa ke istana, tentu kita ada rasa takut dan cemas, bertanya sana–sini tentang tata cara dan sopan santun menghadap raja. Apa pantang larangnya. Waktu pergi sebelum menghadap sudah susah hati dan bimbang, waktu sedang menghadap-pun susah hati dan bimbang. Selepas menghadap pun susah hati dan bimbang, takut kita sudah tidak beradab dan kurang ajar di hadapan raja. Begitulah rasa hati rakyat jelata yang dipanggil menghadap ke istana raja besar.

Tuhan adalah raja dari segala raja. Patutnya kita lebih merasakan susah hati dan bimbang ketika menghadapNya dibanding dengan menghadap raja besar manusia tadi. Apakah hati kita merasakan ini ? Kalau tidak rasa begitu, benarkah kita beribadah kepada Tuhan? Menyembah Tuhan?. Kalau hatinya betul-betul ikut sholat atau dengan kata lain dia sangat menghayati sholatnya, maka hatinya akan takut, bimbang dan cemas. Kalau orang yang kenal dan faham Tuhan, maka sebelum mengerjakan sholat hatinya sudah gelisah. Orang lain tidak nampak hatinya yang gelisah. Setelah sholat dia merasa betapa telah tidak beradabnya dia ketika berhadapan dengan Tuhan yang Maha Besar itu. Sebab itu selepas sholat sebelum berdoa mengajukan berbagai permintaan kepada Allah, dia bertaubat dahulu, beristighfar dahulu di atas dosa sholatnya yang tidak sempurna. Atau Setidak-tidaknya dia rasa bimbang dan cemas. Barulah setelah itu dia berterima kasih kepada Allah yang telah memberinya kekuatan untuk menyembahNya dan dengan penuh harap dia berdoa kepada Allah.

Itulah yang dimaksudkan kadang-kadang kita tidak sadar kebaikan yang kita buat berubah menjadi kejahatan. Sholat kita yang lalai dan tidak sempurna itu telah membuat kita rasa senang dan selamat, padahal dia membuat kita terhijab dari rahmat Tuhan. Dosa-dosa batin ini sangat halus, susah dikesan dan dirasa. Orang yang secara lahirnya membuat kebaikan tetapi terhijab dari rahmat Tuhan, dia tidak bertaubat. Kalau kesalahan yang lahir misalnya minum arak dan berjudi, mudah manusia mengesannya sehingga mereka dapat segera bertaubat. Tetapi kesalahan dan dosa batin susah.

Coba kita tanya orang yang sholat. Bagaimana sholat saudara tadi? Kalau dia kata alhamdulillah dengan senang hati dan rasa selamat dengan ibadahnya, tanpa ada rasa berdosa, sebenarnya dia sedang membuat satu dosa batin. Orang dulu walau takut dengan dosa lahir, tetapi mereka lebih takut dengan dosa-dosa batin. Di celah-celah ibadah dan kebaikan ada dosa, ada tidak beradab dengan Tuhan. Sebab itu ada hadis yang menyebutkan bahwa seorang hamba menjadi wali Allah bukan karena faktor sholat dia yang banyak, baca Qur'an yang banyak, tetapi kerana hatinya sangat halus dengan Tuhan. Orang yang beribadah karena fadhilat, inginkan syurga atau karena takutkan neraka, selalu tertipu. Hati dia rasa senang dan selamat dengan ibadahnya. Tidak risau, bimbang dan cemas apakah ibadahnya diterima Tuhan atau tidak. Ibadah orang-orang yang mengejar fadhilat ini tidak akan memberi kesan dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak ada bedanya antara yang orang yang beribadah dengan yang tidak.

Soal rasa dan hati ini sangat sulit dan halus. Para sahabat secara umum memiliki hati yang tajam. Saidina Umar bin Khattab memiliki rasa bertuhan dan rasa kehambaan yang tinggi sehingga begitu bimbang dengan keselamatan dirinya. Kalau dia berjumpa dengan Abu Huzaifah yang Allah anugerahkan pandangan batin yang tajam, dia akan bertanya, 'wahai Abu Huzaifah, apakah aku ini orang munafik?'. Pada kesempatan lain ia berkata pada dirinya, 'kalaulah ada penghuni neraka yang Allah ampunkan dan beri rahmatNya kemudian Allah masukkan ke dalam syurga, aku harap akulah orang terakhir yang Allah keluarkan dari neraka itu. Itulah kebimbangan dan kecemasan orang bertaqwa. Mereka tenang dengan dunia, kemiskinan, kesusahan dan lain-lain tetapi sangat sensitif dan cemas dengan dosa-dosa kepada Tuhan. Hati mereka harap dan takut pada Tuhan.

Apa yang dimaksud dengan harap dan takut? Tanda berharap adalah dia berbuat dan tidak putus asa. Dia mengharap rahmat Allah. Tanda takut adalah dia sudah berbuat, tetapi takut dan cemas Tuhan tidak terima amalan dan taubat dia. Jadi harap itu ada asasnya. Berharap di atas perbuatan dan amalannya, dia baik sangka dengan Tuhan. Bila sudah berbuat hatinya bimbang juga, sebab yang kita buat amalan yang lahir. Yang batin kita tidak nampak, Tuhan tahu. Mungkin ada kesalahan yang kita tidak sadar. Kita rasa sudah tidak ada masalah. Disitulah perlu ada takut. Jadi takut disini ada hubung kait dengan kita merendah diri di hadapan Tuhan. Seolah kita mengaku, 'walau aku sudah berbuat tetapi tidak sempurna. Engkau Maha tahu. Sebab itu aku takut, cemas. Aku sudah berbuat yang lahir, tetapi ada yang batin. Aku tidak tahu yang batin ini'. Adanya perasaan takut ini menunjukkan ada benda lain : rendah diri dan tawadhu. Kalau tidak tawadhu, tidak akan lahir benda seperti itu, takut-takut Tuhan tidak terima. Tapi kalau tidak tawadhu, dia akan rasa dan yakin seluruh amalannya diterima Tuhan. Dia akan rasa selamat. Rasa ini menafikan rasa kehambaan. Lebih jauh dari itu keyakinan yang terlalu kuat bahwa amalannya diterima Tuhan, selain merupakan dosa batin, ia dapat menggelincirkan tauhid seseorang sebab orang tersebut merasa seolah-olah pandangannya sudah sama dengan pandangan Tuhan.

Satu jenis tipuan lagi adalah perasaan tenang dan steady dengan dosa yang dibuat baik dosa lahir maupun dosa batin. Mengapa dia rasa tenang. Sebab dia tahu bahwa Allah Maha pengasih Maha Penyayang. Mengapa ini disebut satu tipuan ?

Memang benar dan tepat bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi perasaan tenang, steady dan tidak susah hati dengan dosa itu yang salah. Seolah-olah tidak perlu sungguh-sungguh bertaubat atas dosa sebab Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dia yakin Allah akan mengampunkan dia walau tidak sungguh-sungguh bertaubat. Mengampunkan atau tidak itu hak Allah, tetapi memiliki keyakinan ini yang salah bahkan dapat merusak tauhid sebab sudah jelas disebut dalam berbagai ayat Qur'an dan hadis bahwa Allah murka dan marah kepada hamba-hamba yang berdosa dan tidak sungguh-sungguh bertaubat atas dosa-dosanya. Yang halus dan seni-seni seperti ini susah untuk faham, kalau kita tidak ada ilmu tasawuf, tidak dipimpin oleh seorang guru mursyid.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer