warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

04 Hakikat Syahadah






Untitled Document



HAKEKAT SYAHADAH

Jadikan Allah, Rasululullah SAW dan Orang Mukmin Sebagai Pemimpin

Allah berfirman dalam Al Qur'an

surat:5 ayat:55 surat:5 ayat:56

"Sesungguhnya pemimpin kamu itu adalah Allah dan Rasul dan orang-orang Mukmin yang mendirikan sholat, mengeluarkan zakat dan mereka rukuk pada Tuhan. Barang siapa yang menjadikan Allah, Rasul dan orang Mukmin sebagai pemimpin itulah yang sebenarnya partai Allah. Ketahuilah olehmu bahwasanya partai Allah pasti akan mendapat kemenangan". (Al Maidah 55 ~ 56)

Di dalam ayat ini disebut 3 kategori pemimpin

  1. Allah
  2. Rasulullah.
  3. Orang Mukmin, yaitu orang mukmin yang mendirikan sholat, mengeluarkan zakat dan yang rukuk kepada Allah, yang tunduk dan patuh pada Allah.

Mengapa Tuhan mengatakan Allah, Rasul dan juga orang Mukmin itu sebagai pemimpin?. Sebab Allah itu bukan dari jenis makhluk, Dia Zat yang Maha Suci, yang Maha Suci dari pada menyerupai segala jenis makhlukNya. Di antara makhluk yang utama ialah manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi hamba dan khalifahNya di muka bumi. Yang lain itu Tuhan ciptakan untuk menjadi alat dan menyokong tugas khalifah, bukan untuk Allah. Allah tidak memerlukan apa-apa dari ciptaanNya.

Karana Allah adalah pemimpin yang bukan jenis manusia, maka segala arahannya diberikan melalui perantaraan manusia yaitu Rasulullah. Maha suci Tuhan dari pada melakukan perbuatan seperti manusia. Tuhan menyuruh manusia bersholat, maha suci Tuhan dari pada bersholat, atau melakonkan sholat sampai orang faham. Segala perintah, suruhan dan larangan Tuhan tentu Tuhan tidak akan lakonkan perintah itu untuk mengajar manusia. Sebab itu Allah melantik pemimpin yang mewakili Dia dari jenis manusia juga. Mereka itulah para Rasul. Jadi Allah memberi perintah dan larangan atas dasar ilmu, lalu Rasul yang melakukan dan mencontohkan arahan dan perintah Tuhan itu, dan pengikut-pengikutnya hanya bersandar pada apa yang dicontohkan oleh Rasul.

Kalau bukan Rasul yang melakukan dan mencontohkan arahan dan perintah Tuhan itu, orang lain tidak tahu bagaimana hendak melakukan perintah suruhan dan larangan itu. Karena itu penting adanya Rasul sebagai penghubung manusia dengan Tuhan. Itulah hikmahnya Tuhan lantik Rasul untuk melakukan dan mencontohkan arahan, perintah dan larangan Tuhan. Tanpa contoh dan teladan dari Rasul kita tidak dapat melakukan perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan yang diberikannya melalui wahyu. Kita tidak dapat memisahkan Tuhan dan Rasul. Sebab itu bila hendak masuk Islam mesti membaca 2 kalimah syahadat sekali. Perlu menerima Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasulullah.

Pemimpin manusia yang sebenar adalah Allah, tetapi Dia bukan sejenis dengan makhluk. Sedangkan untuk manusia itu faham semua arahan dan larangan Tuhan, dia memerlukan contoh yang dapat dilakukan oleh pemimpin yang berjenis manusia juga. Kalau tidak ada Rasulullah, manusia tidak tahu dan tidak faham bagaimana hendak melaksanakan seluruh perintah dan larangan Tuhan. Sebab itu dalam syahadat digabungkan kesaksian terhadap Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasulullah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Rasulullah bagi kehidupan manusia.

Dalam ayat tadi disebut bahwa pemimpin itu bukan Rasulullah saja, tetapi setelah Rasulullah disebut juga orang mukmin yang mendirikan sholat. Di sini disebut pemimpin yang mendirikan sholat bukan yang sekadar mengerjakan sholat, tapi pemimpin yang dapat menghayati dan menjiwai sholat. Seorang pemimpin itu di mana-mana dia sholat. Di kamar, di pasar, di masjid, di kantor, di tempat bekerja, di mana-mana, di kampung, di kota sholat dia sholat. Artinya seluruh tindak tanduknya di mana saja dia berada melambangkan ikrar dia di dalam sholat. Itulah yang dimaksdukan dengan sholat di mana-mana. Sebab itu dikatakan aqimussolah, dirikan sholat, bukan dikatakan orang yang bersholat.

Jadi dari ayat ini jelaslah bahwa selepas Rasul ada manusia yang menjadi pemimpin yang bukan Rasul, tetapi menjadi bayangan Rasul. Tauhidnya, rasa bertuhannya, ibadahnya, akhlaknya dan seluruh aspek kehidupannya benar-benar mencontohi Rasulullah. Dia sholat dimana-mana, artinya seluruh tindakannya menggambarkan ajaran sholat. Manusia seperti ini yang mesti dijadikan pemimpin oleh umat Islam. Siapa yang menjadikan Allah, Rasul, dan orang mukmin bayangan Rasul sebagai pemimpin, dia ikut dalam partai Allah. Walau tidak disebut sebagai partai Islam, tetapi kalau ciri-ciri ini ada dalam partai atau organisasi tersebut, otomatik dia jadi parati Islam. Tetapi jika disebut sebagai partai islam atau partai Allah tanpa ada ciri-ciri itu, artinya partai atau organisasi itu bukanlah partai Allah, bahkan mereka sudah mempersenda dan mempermainkan Tuhan.

Hakekat Syahadah

Syahadah itu intipati dari Islam. Bila manusia sudah bersaksi bahwa Allah sebagai Tuhan, artinya bukan mengaku begitu saja, tetapi mengakui seluruh sifat kesempurnaan Tuhan. Bukan saja mengaku, tetapi mesti faham dan yakin setidak-tidaknya 20 sifat yang wajib bagi Allah. Kalau begitu barulah dia akan menyembah dan beribadah kepada Tuhan karena dia tahu dan faham bahwa Tuhan itu memang layak untuk disembah. Macamlah kita kenal seorang Raja yang ada kuasa, kita hormat kepada dia karena kita tahu dan faham bahwa dia patut dihormati. Tetapi kalau kita hanya mendengar saja orang berkata bahwa dia itu raja, kita tidak kenal betul, tentu susah bagi kita untuk hormat dan mengabdi kepadanya. Kalau kita kenal dia itu raja, ketika kita berhadapan dengan dia terasa kita sedang berhadapan dengan raja. Secara otomatik hati kita terasa lain.

Begitulah kalau kita faham bahwa Dia layak untuk menjadi Tuhan, maka akan terasa kebesaranNya Tanpa kefahaman tentang Tuhan, hati kita tidak akan terasa apa-apa. Beribadah atau tidak beribadah, menyembah atau tidak menyembah Tuhan, hati rasa sama saja. Patutnya bila manusia faham, sebagai hamba dia akan terasa satu perasaan luar biasa yang tidak dapat dicerita. Kalau kita mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Besar, tentu kita akan terasa Dia patut disembah dan kita patut beribadah kepadaNya. Bukan untuk Dia, tetapi untuk kebaikan kita dan manusia lainnya.

Untuk menyembah dan beribadah kepada Tuhan, Tuhan mengirimkan syariatnya melalui RasulNya. Kalau kita sudah mengaku bahwa Allah Tuhan kita dan Muhammad Rasul kita, artinya kita sanggup bersungguh-sungguh melaksanakan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Sebab itu faham itu penting. Setelah kita faham baru kita akan dapat menghayati. Kalau kita dapat menghayati ibadah dan penyembahan kita baru hati merasa lezat dan sedap mengikut perintah Tuhan. Sebab hati sudah terasa patut sangat kita menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Sesama manusia saja kita dapat berbuat baik karena ia banyak jasa dan kebaikan kepada kita, apalagi kepada Tuhan yang sudah memberi segalanya kepada kita.

Katalah ibu ayah kita menyuruh kita mengaji dengan seorang ustadz, maka kita pun mengaji supaya pandai. Kita faham, itulah arahan ibu dan ayah kita, tetapi akan ada berbagai perasaan di hati. Kalau ustaz itu betul-betul ada wibawa, ada ilmu dan berakhlaq, maka hati kita akan berkata patut ayah menyuruh aku belajar dengan dia, sebab dia nampak luar biasa. Tetapi ikalau ibu ayah menyuruh kita mengaji dengan seseorang yang sedang belajar mengaji pula, maka hati kita terasa tidak dapat terima. Bagaimana aku mengaji dengan orang yang bacaan Qur'annya masih lemah dan belum lancar? Sebab itu penting kenal Tuhan dulu, kalau sekadar percaya Tuhan saja, tetapi tidak kenal bahwa Dia memberi kita rezeki, memberi oksigen, memberi berbagai nikmat, Dia Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Agung, Maha Bijaksana, kita beribadah akan rasa terpaksa atau sekadar melakukan kewajiban saja. Hasilnya perangai dan akhlak manusia tidak berubah. Tidak mendorong untuk berbuat baik bagi masyarakat. Ibadahnya tidak dapat menjadi benteng baginya dari pada berbagai maksiat lahir dan batin, tidak menjadi pendorong baginya untuk menjadi orang soleh, pemurah, pemaaf, berkasih sayang, untuk takut dan cintakan Tuhan. Tetapi bila kita kenal, cinta dan takut kepadaNya barulah hati terasa lezat dan bahagia untuk menyembah dan beribadah kepadaNya.

Dua kalimah syahadah itu ringkasan Islam. Bila orang sudah mengucapkannya artinya segala ilmu mengenai Tuhan sudah sungguh-sungguh dipelajari, difahami dan dihayati. Kalau tidak menghayati Tuhan, tidak menghayati dua kalimah syahadat, tidak ada arti ibadah walau mengerjakan sholat sunat 100 rakaat setiap malam. Sholat dikerjakannya bukan untuk mencari cinta Tuhan tetapi karena inginkan syurga atau takutkan neraka. Sebenarnya ini bukan satu kesalahan, tetapi tarafnya rendah. Dia tidak akan nampak dan terasa kebesaran dan kekuasaan Allah, sehingga perangai tak berubah. Walaupun pada dasarnya tidak salah, tetapi dia dapat membawa pada kesalahan, misalnya rasa selamat, rasa sudah beribadah, rasa diri baik, tidak pemurah, pemaaf, tidak berkasih sayang dan sebagainya. Padahal sifat-sifat baik tadi disuruh.

Ada satu maksud hadis yang mengatakan jangan kita jalan di kawasan larangan, jalan di tepi-tepi tidak salah. Walau tidak salah tapi tidak disarankan mendekati jalan itu sebab bahaya, takut sekali-sekali terlanggar. Karena itu walau tidak salah beribadah karena fadhilat, karena inginkan syurga atau karena takutkan neraka, tetapi akhirnya dia akan membawa kepada maksiat lahir dan bathin juga. Sebab itu hadis ada berkata cukup 2 rakaat sholat sunat tapi sangat berkesan pada peribadi. Dalam hadis lain disebut orang fasik yang pemurah lebih dicintai Tuhan dari pada abid yang bakhil. Sebab fasik-fasikpun ibadahnya berbuah, sholatnya berbuah. Tetapi abid yang banyak ibadah tapi jahil, ibadahnya tidak berbuah. Bukan berarti orang fasik yang bakhil itu selamat, tetapi yang pemurah itu kesalahannya masih ringan dibanding abid yang bakhil yang ibadahnya tidak berbuah.

Peringkat syahadah

  1. Syahadah itu adalah apabila seseorang sudah sanggup naik saksi dan menerima ketuhanan dan kerasulan. Tetapi menerima setakat itu saja tidak cukup, dia mesti menerima bahwa pemimpinnya adalah Allah, Rasul dan orang mukmin.
  2. Bila kita sudah berucap dan menerima kesaksian maka kita mesti hidup dengan cara hidup menurut Allah dan Rasul. Kita mesti berkata pada diri kita, "aku adalah seorang yang perlu membela semua orang miskin. Siapa yang sudah bersaksi tiada Tuhan selain Allah, mestilah suka menolong orang miskin dan berbuat kebaikan bagi orang lain".

    Peringkat pertama adalah untuk memahami secara ilmu tentang Allah dan RasulNya. Selepas itu, kita dididik untuk berakhlaq terhadap sesama makhluk, sampai tukang kebun buruh atau golongan masyarakata lain yang memerlukan pembelaan yang kita tidak kenalpun kita masukkan ke dalam tugas kita untuk membela mereka. Itulah diantara konsekwensi kita sudah menerima Allah dan RasulNya.

  3. Bila diuji Allah, kadangkala membuatkan seseorang tidak senang dan bertanya-tanya dengan Allah, mengapa dia diuji sedemikian rupa. Sebenarnya hal ini sudah hampir menjadi syirik khafi (syirik tersembunyi). Tetapi bila dia mengucap balik maka Insya Allah dia selamat. Jadi syahadah itu seolah merupakan pembaharuan ikrar bahwa kita sebenarnya tidak mau sombong, ego, bakhil, riyak, ujub, pemarah, bangga dan lain-lain.

Jadi syahadah itu dalam kehidupan sehari-hari ada 3 kategori

  1. Kalimah toyibah
  2. Cara hidup yang suka menolong orang
  3. Bila kita syahadah artinya kita mengaku di hadapan Allah yang kita ini hamba yang hina dan lemah yang akan redho dengan ketentuanNya, tidak bangga dan sombong bila mendapat kejayaan atu dipuji orang, sebab kalau bangga sudah syirik khafi.

    Di akhir bagian sholat kita mengucapkan ikrar kembali di hadapan Allah karena dalam kehidupan kita mungkin sudah ada perkara tauhid yang kita langgar. Itulah syahadah yang dihayati yang memberi kesan ke dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Bila kita sudah berucap mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai RasulNya artinya kita sudah berjanji untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Sunnah ini artinya mengikut perjalanan Rasulullah. Rasul itu apa sunnahnya? Rasul itu dia mencintai Allah, takut dan mengabdikan diri pada Allah, maka lahirlah side effect yang luar biasa. Contohnya bila Rasulullah SAW melihat orang susah maka dia akan membantu. Mendengar orang miskin, dia selalu ingin menolong. Mendengar tetangga kelaparan dia tidak tunggu diminta, terus akan memberi bahkan beliau sanggup berhutang karrna ingin membantu orang susah. Bila mendengar orang buat jahat kepadanya, dia akan balas dengan berbuat baik. Itulah sunnah Rasulullah yang beliau sebut barang siapa yang menegaakkan sunnah Rasul di kala kerusakan umat rasul, maka pahala baginya 100 x syahid.

Tetapi kita masih jauh dari itu. Jangankan untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita, bahkan untuk berbuat baik dengan orang yang buat baik pada kita-pun sangat berat. Padahal itu sunnah Rasul. Salah satu sunnah Rasul juga adalah, beliau tidak akan makan selagi tidak ada orang lain yang makan bersamanya, walaupun ketika itu beliau sangat lapar. Kalau beliau pergi ke pasar beliau akan belikan orang lain juga atau kalau beliau pergi ke warung makan beliau akan bayarkan orang lain juga. Rasulullah itu, orang yang bersalah padanya walau tidak meminta maaf pada dia, Rasulullah sudah maafkan, apalagi kalau orang itu meminta maaf. Itulah sunnah yang sudah menjadi budaya hidup. Kalau itu belum kita buat lagi, apa yang dimaksudkan dengan Islam sebagai cara hidup? Kalau terbatas hanya di masjid saja, itu bukan sebagai cara hidup.

Apa makna memberi salam kepada sekalian makhluk di sebelah kanan dan sebelah kiri kita di akhir sholat kita? Itulah intipati sholat. Artinya setelah sholat kita akan mengusahakan keselamatan bagi seluruh makhluk di alam ini. Sebenarnya sholat dan ibadah kita tidak memberi efek apa-apa kepada Allah. Walaupun seluruh manusia di muka bumi sholat menyembah Allah, kesempurnaan Allah tidak bertambah dan walaupun seluruh manusia di muka bumi ini tidak mau sholat atau beribadah kepada Allah, kesempurnaan dan derajat Allah tidak akan berkurang. Maksudnya kita menyembah Allah itu bukan untuk memberi manfaat kepada Allah, tetapi untuk mencari keredhaanNya. Kesannya adalah kita akan mengusahakan dan memberi keselamatan kepada seluruh manusia dan makhluk yang ada di alam ini. Kalau semua orang berbuat seperti ini maka akan lahirlah masyarakat yang aman, damai, harmoni, makmur dan mendapat keampunan Tuhan.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer