warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

08 Falsafah Undang Undang Dan Peranannya Dalam Membangun Masyarakat Madani 2






Untitled Document



2. Langkah-langkah Penegakkan Hukum dan Membangun Masyarakat madani

Disampaikan oleh Dr. Ing. Abdurrahman R Effendi pada Seminar Menyongsong Tahun Baru Hijrah 1424
Di Islamic Center Serang, Banten Indonesia, 6 Maret 2003

Manusia akan kembali ke Fitrahnya

Makin kehujung pagar hukum, peraturan dan akta sudah tidak mampu lagi untuk mencegah manusia dari membuat kejahatan. Semakin kehujung manusia semakin lalai, semakin jahat. Ingin membendung dengan hukum, peraturan dan akta, sudah tidak mampu lagi. Akhirnya semua golongan susah. Bukan saja rakyat yang susah, orang besar, orang kaya, pakar hukum juga susah. Semua golongan masyarakat sudah susah. Akhirnya bila sudah susah dan gelisah, maka manusia akan kembali kepada fitrahnya. Dia mulai mengenal dirinya lagi, mulai ingin merujuk kepada Tuhan. Meminta kepada Tuhan agar diturunkan pemimpin yang dapat menyelesaikan masalah ini dan membawa kembali keamanan, kedamaian, keharmonian dan keselamatan dalam masyarakat.

Sebab itu bila dunia/jiwa sudah terlalu rusak, maka atas kasih sayang dan rahmat Allah, Allah akan lahirkan pemimpin rohani yang Allah janjikan. Bukan pemimpin akal, baik bertaraf RASUL atau ulama bertaraf RASUL untuk menyelesaikan segala permasalahan manusia dengan menggunakan ilmu wahyu atau ilham dari Tuhan.

Orang Bukan Islam akan menerima cara hidup Islam

Pemimpin yang dijanjikan Allah akan membawa Allah dan rahmat Allah kepada manusia. Yang dimaksud dengan rahmat Allah diantaranya adalah kasih sayang, cara hidup yang indah dan dapat diterima fitrah manusia. Masyarakat akan mudah menerima risalah Islam dan pesan-pesan yang dibawanya karena ada beberapa faktor yang Allah bekalkan.

a. Faktor taqwa

Faktor yang paling kuat adalah faktor taqwa. Bila pemimpin yang memerintah itu taqwanya cukup, maka Tuhan memberi jaminan untuk menolongnya. Diantara bantuan yang Tuhan janjikan untuk pemimpin yang bertaqwa adalah :

  1. Dilepaskan dari kesusahan dan masalah hidup.
  2. Diberi rezeki (kemakmuran) dari sumber yang tidak diduga.
  3. Kerja dan usaha dibantu oleh TUHAN. Yakni diperbaiki dan dibuka peluang-peluang kebaikan dalam amal ibadah, ekonomi, pentadbiran, pendidikan, pertanian dan sebagainya.
  4. Hati masyarakat dimudahkan untuk menerima kepemimpinan mereka, dimudahkan untuk berkasih sayang, bertolong bantu, mengutamakan orang lain, malu untuk membuat kejahatan dan lain-lain sehingga wujudlah masyarakat yang aman damai dan harmoni. Sejarah menceritakan bagaimana di bawah kepemimpinan yang bertaqwa bukan hanya manusia yang dapat berkasih sayang bahkan srigala dan kambing dapat berkasih sayang.
  5. Segala rezeki, kemakmuran, keamanan dan usaha-usaha mereka mendapat berkat dari langit dan bumi.
  6. Dosa mereka diampunkan.
  7. TUHAN memimpin mereka.
  8. TUHAN hindarkan mereka dari tipu daya musuh.
  9. Amal ibadah mereka diterima oleh TUHAN dan lain-lain pertolongan lagi.

Dengan mendapat segala bentuk pertolongan yang istimewa dan luar biasa ini, orang-orang bertaqwa akan kelihatan begitu berwibawa dan meyakinkan. Sehingga bukan saja rakyatnya mau tunduk di bawah kepimpinan mereka, bahkan orang asingpun juga senang mendapat naungan kepimpinan mereka. Sementara itu pula, memang selama ini rakyat mencari-cari alternatif kepimpinan baru bagi menggantikan kepimpinan lama yang sudah mengecewakan. Baru mendengar khabar tentang pemimpin utusan Tuhan ini rakyat di negara mana saja sudah tidak mempedulikan pemimpin mereka. Mereka terindu-rindu dengan pemimpin utusan Tuhan itu.

Jangan dianggap kecil faktor pertolongan TUHAN dalam mensukseskan segala usaha baik perjuangan kita. Pejuang kebenaran hari ini terlalu kerdil untuk menewaskan pejuang-pejuang ideologi dengan kekuatan lahir (quwwah). Sebab musuh jauh lebih gagah kekuatan lahirnya. Maka senjata yang lebih hebat dari quwwah itu ialah taqwa. Dalam Al Quran ada 15 ayat tentang janji-janji kemenangan oleh TUHAN kepada orang bertaqwa. Di antara ayat-ayat itu ialah :

surat:65 ayat:4

Artinya :
Barangsiapa yang bertaqwa Allah akan permudahkan urusannya. (At Talaq : 4)

surat:7 ayat:96

Jikalau penduduk satu kampung itu bertaqwa nescaya Kami (Allah) bukakan untuk mereka berkat dari langit dan bumi.(Al A'raf : 96)

surat:65 ayat:2 surat:65 ayat:3

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan lepaskan ia dari masalah hidup dan memberi rezeki dari sumber yang tidak diduga. (At Talaq : 2-3)

surat:2 ayat:282

Bertaqwalah dan Allah akan mengajar kamu. (Al Baqarah : 282)

Sejarah telah mencatat bagaimana sewaktu Saidina Umar bin Khattab mengutus seorang Gubernur ke irak, tanpa diiringi bala tentara, tidak hanya orang Islam yang menerima kepemimpinannya, tetapi semua golongan baik Yahudi, Nasrani atau Majusi menerima dan dapat taat kepada kepemimpinannya. Mereka seolah-olah menunggu dan merindui kepemimpinan orang yang bertaqwa ini. Inilah faktor taqwa yang dibawa oleh Saidina Umar dan orang yang diutusnya.

Begitu juga dengan faktor taqwa Saidina Umar bin Abdul Aziz yang menyebabkan beliau dibantu Tuhan dalam pemerintahannya sehingga tidak hanya manusia yang dapat hidup berkasih sayang, aman, damai, makmur dan harmoni, bahkan srigala dan lambing-pun dapat hidup dalam suasana aman damai tanpas aling menerkam.

Di zaman salafussoleh, pengisytiharan perlaksanaan hukum (syariat Islam) tidak mendapat tantangan dari pihak manapun sekalipun dari orang kafir. Bahkan diterima dengan senang hati. Karena waktu itu Pemerintah disegani dan dikagumi oleh kawan maupun lawan. Apa saja yang mereka lakukan dianggap bagus dan mendapat sokongan. Macamlah negara-negara maju hari ini, yang negara lain sudah melutut padanya. Maka apa saja kata-kata dan tindakannya tidak ada yang mau dan berani menentang. Bahkan menghormati dan malu padanya.

b. Faktor janji.

Orang bertaqwa walau tidak banyak, setiap masa selalu ada. Faktor janji, dia datang bermusim tidak setiap masa. Di zaman ada Rasul, dia datang setiap 500-700 tahun. Paling cepat setiap 300 tahun. Setelah zaman Rasul, faktor janji ini atau pemimpin yang dijanjikan itu datang setiap 100 tahun. Maka jadi special case. Bila Tuhan janji, maka Tuhan akan tunaikan. Tuhan akan memberinya bantuan lahir dan batin. Bantuan lahir berupa harta, materi, keuangan, kekuatan fisik, kekuatan akal, ilmu dan lain-lain. Bantuan batin misalnya kesabaran dan kegigihan yang luar biasa, pemurah, pemaaf dan berbagai sifat mahmudah lainnya yang akan menyokong keberhasilannya dalam mewujudkan perjuangannya. Dalam taqwa ada janji Tuhan untuk memberi bantuan secara umum. Dalam Qur'an disebut orang bertaqwa akan dibantu, akan diberi rezki dari sumber yang tak terduga. Ini janji umum. Tetapi bila pemimpin itu dan perjuangannya dijanjikan, maka itu janji khusus. Bila bertemu janji khusus & umum, maka gagahlah perjuangannya. Mudahlah rakyat menerimanya

Dua faktor inilah yang paling kuat, yang lain adalah faktor tambahan seperti usaha dan yang ada hubungannya dengan usaha. Bila faktor taqwa & janji ini digabung dengan faktor usaha, maka mudahlah orang menerima. Tetapi jika kedua faktor ini tidak ada, yang ada hanya faktor usaha saja, maka baru membuka mulut untuk bercita-cita menerapkan syariat Islam saja orang sudah menyanggah dan menentang. Padahal Undang-undang belum lagi dirumuskan, jauh sekali dari siap untuk diamalkan. Orang sudah menentang dan membuat huru-hara.

c. Faktor Usaha

Banyak jenis usaha secara syariat yang dapat dibuat untuk memudahkan orang islam dan bukan Islam mudah menerima cara hidup Islam yang dibawa oleh pemimpin yang dijanjikan Tuhan, diantaranya mempromosikan Tuhan, mendidik masyarakat, memperluas kerja-kerja amar ma'ruf, saddu zaroi (mempersempit ruang kemungkaran) dan berhikmah dalam menetapkan Undang-Undang dan peraturan yang masih boleh digunakan.

Langkah-Langkah Penegakan Hukum & Membangun Masyarakat Madani

Ada 6 langkah untuk menegakan hukum dalam masyarakat dan mewujudkan masyarakat madani yang aman damai, harmoni dan mendapat keampunan Tuhan.

  1. Menyeru masyarakat kepada Tuhan secara menyeluruh, serius dan istiqamah.
  2. Didikan dan pimpinan yang berterusan.
  3. Membuka dan memperluas kebaikan dalam masyarakat.
  4. Menutup segala pintu dan peluang-peluang berlakunya kejahatan
  5. Berhikmah dalam memansukhkan hukum dan peraturan yang sudah ada
  6. Penegak Hukum mesti berwibawa.

1. Menyeru masyarakat kepada Tuhan secara menyeluruh, serius dan istiqamah

Hari ini kebanyakan manusia sudah melupakan Allah dalam kehidupan mereka. Pemimpin lupa Allah, rakyat lupa Allah. Pedagang, dosen, profesor, dokter, ahli hukum, artis, petani, buruh, semua lupa pada Allah. Sebagian mereka mungkin masih mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa, tetapi tidak merujukkan seluruh aspek kehidupan mereka kepada Allah. Seolah-olah ekonomi, politik, teknologi bukan urusan Allah. Hanya shalat, zakat, puasa dan haji saja yang kita rujukkan kepada Allah.

Manusia yang sudah melupakan Allah dan tidak merasakan pengawasan ghaib dari Allah, sudah tidak takut untuk melanggar hukum dan aturan hidup Allah, apalagi hukum dan aturan hidup buatan manusia. Lebih-lebih lagi bila dengan 'kecerdikannya' mereka dapat berkelit dalam pelanggarannya itu sehingga tidak diketahui oleh penegak hukum dan masyarakat. Bila pelanggaran hukum itu diketahui oleh penegak hukum yang sudah lupakan Allah, maka segalanya mudah untuk diatur. Bahkan dalam masyarakat yang sudah melupakan Allah boleh terjadi hal yang tidak benar dan sudah dianggap biasa. Yang tidak melanggar hukum dianggap aneh dan terasing sebab semua orang sudah biasa melanggar hukum. Sering kita dengar betapa seseorang yang bertugas di suatu instansi pemerintahan diasingkan oleh kawan-kawannya karena tidak mau ikut serta dalam KKN.

Karena itu langkah awal penegakan hukum adalah membuat program besar-besaran secara nasional untuk mengkampanyekan Allah, menyeru manusia untuk kenal dan cinta kepada Allah dengan seagung-agung cinta. Yakin dan rindu dengan Kampung Akhirat, tempat asal kita. Serta amat takut dan gerun dengan azab Alam Barzakh dan Api Neraka yang menyala-nyala. Bila rasa keimanan yang tertanam dalam hati ini benar-benar sudah memenuhi ruang dada manusia, barulah hukum yang dipelajari itu serentak dihormati dan ditaati orang. Selain itu, di samping menanamkan iman, ajarkan masyarakat juga tentang berbagai macam hukum yang ada. Peringkat awal tentulah hal-hal penting dan utama terlebih dahulu. Kemudian barulah disusul dengan hal-hal yang kurang penting.

Hari ini siapa tidak tahu korupsi, kolusi itu salah, mark-up, menipu, mencuri, mengumpat dan memfitnah itu dosa besar dan lain-lain lagi? Tetapi mengapa banyak orang yang masih korupsi, kolusi, menipu, mencuri, mengumpat, memfitnah dll. Padahal mereka mengerjakan shalat, puasa, haji, umroh dll. Karena cinta dan takut Allah tidak ada. Takut dengan Neraka tidak ada. Rindu dengan Syurga juga tidak ada dalam hati mereka. Kalau ada pun terlalu tipis, tidak mampu untuk mencegah dari berbuat salah.

Yang ada pada kita semua ialah cinta dunia, takut miskin di dunia dan ingin kaya di dunia, gila pangkat, gila kuasa, ingin masyhur, tidak suka orang lain sukses dan lain-lain lagi. Sebab itu kita bersungguh-sungguh untuk mengejar apa yang dicintai itu. Sehingga sanggup jatuh-menjatuhkan, hina-menghina, fitnah-memfitnah dan lain-lain lagi. Kalaulah kita dapat didik hati mereka terutama hati-hati kita sendiri untuk cinta Allah, gerun dan takut dengan Neraka dan rindu dengan Syurga, nescaya mereka akan bersungguh-sungguh pula untuk kecintaan itu. Waktu itu barulah hukum itu dipatuhi dan jadi lebih bermakna kepada mereka.
Kalau kita memaksakan penegakan hukum dalam keadaan hati belum bersedia, terjadilah seperti apa yang sedang terjadi dalam dunia hari ini. Terjadi pelanggaran hukum oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan oleh para penegak hukum. Dosen hukum, pengacara, jaksa, hakim, polisi dan lulusan fakultas hukum yang mengerti hukumpun melanggar hukum demi kepentingan pribadi. Kalaupun tidak terjadi pelanggaran hukum, karena manusia tidak mempunyai peluang dan kesempatan untuk melanggar atau karena takuntukan hukum, menurut ajaran agama ini belum selamat lagi. Mereka mungkin selamat dari hukuman dunia, tetapi tidak selamat dari hukuman Allah di akhirat, sebab mereka taat hukum bukan karena Allah.
Untuk berdakwah, selain membawa mesej yang tepat dengan keperluan masyarakat, alat-alat juga mesti dipelbagaikan. Jangan hanya membawa gigi dan lidah saja. Yahudi dan kristen berdakwah dengan 1001 macam 'senjata'. Kita juga mesti begitu dengan segala bentuk media cetak dan elektronik yang akan memberi kesan mendalam melalui approach dan persembahan yang saintifik dan up-to-date. Para pendakwah tentunya orang-orang yang sudah cantik akhlaknya. Tanpa akhlak orang tidak akan tertarik padanya. Segala keperluan ini hanya mungkin disiapkan kalau jemaah model tadi benar-benar berfungsi dan berwibawa.
Usaha-usaha dakwah dengan segala kecanggihan pendakwah dan segala bentuk persiapannya tadi, mesti dipastikan memberi kesan dan membawa perubahan pada masyarakat. Kalau didapati dakwah tidak membawa perubahan masyarakat kepada Islam, sumbernya mesti dikaji dan penyelesaian mesti dibuat. Yang penting kesan mesti ada. Perubahan mesti berlaku.

2. Didikan dan Pimpinan Yang Berterusan

Hukum-hukum dan peraturan bila hendak diamalkan mesti melalui proses pendidikan dan pimpinan. Tanpa didikan dan pimpinan, mustahil dapat diamalkan dengan tepat dan istiqamah. Maka kita perlu siapkan pula pendidik dan pemimpin yang akan mendidik dan memimpin umat yang sudah didakwahkan tadi untuk selalu taat dan patuh pada hukum karena Allah. Jumlah mereka juga perlu banyak supaya tenaga mereka cukup untuk bekerja di seluruh negara. Sebab itu gabungan tenaga pendidik dari seluruh badan Islam di seluruh negara amat perlu. Kalau mengharap tenaga dari satu partai atau satu jemaah Islam atau Majelis Ulama saja, mana cukup? Bila tidak cukup, jadilah seperti sekarang, umat Islam terbiar tidak dididik sehingga tidak faham dan tidak patuh pada hukum Allah, lebih-lebih pada hukum buatan manusia.

Selain dari tenaga pendidik dan pemimpin, persediaan satu lingkungan yang dapat mendidik secara praktikal juga penting. Supaya di sana orang-orang yang mau mendidik dirinya mendapat peluang untuk melatih dan membiasakan diri dengan amalan itu. Sebab dunia kini dalam suasana jahiliah yang di dalamnya, iman dan syariat sentiasa tercabar dan dirosakkan, hukum sudah tidak dipedulikan.

Kita memerlukan suasana dan alam hidup yang damai. Sebab itu model-model kampung-kampung Islam percontohan untuk mendidik masyarakat yang taat pada hukum dan berkemajuan perlu dibangunkan. Di situlah orang- orang yang mau melatih diri, berpeluang meniru dan menjalankan cara hidup yang disiplin. Bila sudah biasa dengan cara hidup yang disiplin, nanti bila menghadapi cara hidup jahiliah, mereka tidak lagi lemah iman dan takut serta malu untuk tetap mengikut cara Allah. Tanpa latihan dan didikan, biasanya seseorang yang sudah disadarkan melalui dakwah tadi akan hanyut semula oleh arus jahiliah. Akhirnya penegakan hukum akan terus jadi mimpi dan angan-angan saja.

3. Membuka dan memperluas kebaikan (amar ma'ruf) dalam masyarakat

Selain dari usaha-usaha dakwah dan tarbiah kepada umat secara menyeluruh dan istiqamah dibuat, pada masa yang sama pemerintah atau partai yang memerintah serta jemaah-jemaah Islam mesti mengusahakan agar setiap rakyat mendapat keperluan hidup yang asas. Seorang yang cuma dapat Rp 200 ribu sebulan, sedangkan keperluannya Rp 500 ribu misalnya, maka pemerintah mesti mengusahakan untuk menambah pendapatannya jadi Rp 500 ribu, sekalipun dia bukan seorang Islam.
Bagi organisasi-organisasi Islam, mereka juga mesti mencukupkan keperluan anggotanya. Sebaiknya setiap orang dari kalangan rakyat mempunyai pekerjaan dan pendapatan yang cukup untuk keperluan hidup mereka. Orang-orang kaya yang tadinya sudah kita dakwah dan didik mesti menjadi 'bank' kepada masyarakat. Kalau degil dan sombong juga, pemerintah berhak mengambil sebagian hartanya selain daripada zakat, demi kepentingan negara dan rakyat.

Taraf gaji dalam negara sebaiknya tidak terlalu berbeda antara menteri dan rakyat. Bahkan mereka mencontohi Rasulullah. Baginda dan Sahabat-Sahabatnya utama, nyata lebih miskin daripada rakyat. Bukan karena tidak ada harta. Tetapi harta itu digunakan untuk negara dan rakyat. Agar di Akhirat tidak banyak hisab. Hingga karena itu rakyat akan hormat kepada mereka. Bila pemimpin dan orang kaya jadi sumber pada pendapatan negara, insya-ALLAH segala keperluan rakyat dapat dipenuhi.

Sistem maasy (pemberian keperluan hidup mengikut keperluan) perlu diamalkan dalam negara yang rakyatnya sudah lebihkan cinta Allah dan Akhirat. Karena dengan itu pembangunan negara dan peradaban rakyat dapat digiatkan tanpa perlu berhutang dan bersandar pada orang lain. Hari ini negara berhutang sana sini. Itupun pembangunan peradaban umat masih tidak memuaskan karena masing- masing mengambil uang untuk poket, keluarga dan klik masing-masing dengan cara:

  1. Gaji dan tunjangan terlalu besar.
  2. Pembaziran uang berleluasa.
  3. Uang digunakan bukan pada tempatnya. Projek yang kurang perlu dibesarkan dan di mark up nilainya; projek yang perlu, tidak dibesarkan. Orang yang berhak meminjam uang, tidak diberi. Orang yang tidak berhak, diberi pinjaman.
  4. Penipuan uang.
  5. Hutang-hutang di bank tidak dibayar. Karena yang banyak meminjam itu sebagian besarnya adalah menteri-menteri, bekas-bekas menteri, ahli-ahli politik pemerintah, usahawan dan jutawan yang menjadi kesayangan ahli-ahli politik yang memerintah.

Akibatnya negara menanggung hutang yang besar. Maka dapatlah Bank Dunia, IMF dan kapitalis menjerat rakyat dengan macam-macam penipuan dan beban. Justeru itu, hanya iman dan taqwa rakyat serta sistem maasy saja yang dapat menyelesaikan masalah ini dan dapat membunuh sistem kapitalis yang telah menyiksa selama ini.
Bila setiap rakyat dapat menikmati kemakmuran negara, maka peluang-peluang kecurian dan lain-lain masalah masyarakat akan mengecil. Kalau ada yang mau mencuri juga, sedangkan keperluan hidup sudah cukup, nyatalah ia memang benar-benar jahat. Barulah tepat dan adil mereka dihukum berat. Orang kaya pun tidak boleh dibiarkan terlalu kaya, yakni terlalu jauh berbeda dengan orang miskin. Karena selain akan mengurangkan kekayaan kepunyaan negara dan masyarakat, ia juga akan membangkitkan rasa dengki dan kecil hati orang miskin. Di samping itu, sikap sombong dan megah orang kaya itu akan menyebabkan lebih banyak orang sakit hati. Penyakit ini akan tetap mewujudkan ketegangan dan kegelisahan serta macam-macam kemungkinan yang tidak baik. Maka ia juga menjadi sumber utama atau pendorong berlakunya kriminal.
Sebab itu orang kaya perlu dididik dengan iman dan taqwa, agar ia bersedia memulangkan hak-hak ALLAH di jalan ALLAH. Agar dia tidak sombong terhadap orang-orang susah dan miskin. Di samping tindakannya membelanjakan hartanya ke jalan ALLAH itu adalah sebagai ibadah untuk Akhirat demi memudahkan hisab ke atasnya nanti. Dalam negara yang fakir miskinnya ramai, kalau berlaku kecurian, penegakan hukum pasti tidak dapat menyelesaikan masalah. Sebaliknya, di waktu itu yang patut kena hukum ialah orang-orang kaya yang enggan berkorban.

4. Menutup Peluang-peluang Maksiat (sadduz zara'i)

Setelah kerja-kerja amar makruf (menyuruh kepada kebaikan) dianjurkan secara serius dan istiqamah ke setiap lapisan masyarakat, usaha-usaha nahi mungkar pun diseimbangkan. Selain menasehati manusia untuk tidak buat maksiat, segala sumber dan peluang maksiat mesti ditutup. Karena jika tidak, ini juga menjadi sebab berlakunya kriminal. Peluang mencuri ditutup dengan memenuhi keperluan setiap orang miskin. Si kaya diminta menjadi bank masyarakat. Peluang minum arak ditutup dengan ditutup kedai-kedai arak dan disekat masuknya arak ke dalam negara dengan dalih apapun, sekalipun untuk keperluan orang bukan Islam. Riba ditutup dengan menyekat segala bisnis dan ekonomi berasaskan riba serta bank-bank riba.

Zina, perkosaan dan pelacuran ditutup dengan menutup pusat-pusat maksiat dan pendorong ke arahnya seperti disko, kasino, kelab malam, bioskop, majalah dan akhbar yang mengumbar aurat, video porno dan lain-lain lagi. Pendedahan aurat dan pergaulan bebas yang semuanya merupakan pintu-pintu maksiat juga dibasmi. Perempuan berjalan seorang diri, yang memungkinkan ia diperkosa, juga dielakkan.

Pendek kata, segala pintu maksiat mesti ditutup dulu oleh pihak berkuasa. Itupun bukan dibuat dengan paksaan secara membabi buta. Ia mesti melalui nasehat, tarbiah dan ilmu yang meyakinkan. Di samping pintu rezeki mereka dibuka kepada jalan yang halal serta tempat-tempat hiburan yang halal juga disediakan. Usaha ini bukan dapat dibuat dalam sehari dua. Ia mesti bermula dengan dakwah dan tarbiah yang tentunya akan mengambil masa.

Ayat yang memerintahkan mengharamkan arak bukannya turun sekaligus. Ia diturunkan dalam tiga peringkat. Bermula dengan memberitahu ada baiknya minum arak di samping buruknya juga ada. Kemudian dilarang minum waktu hendak shalat saja. Setelah manusia terlatih tidak meminumnya untuk beberapa waktu, barulah turun ayat ketiganya yang ianya benar-benar diharamkan. (Jarak tiap-tiap ayat makan masa bertahun.) Dengan kesedaran dan kefahaman serta hikmah yang diyakini, tanpa paksaan, masyarakat sendiri memecahkan tempayan-tempayan arak mereka begitu ayat itu diturunkan. Waktu itu mereka sudah benar-benar bersedia lahir dan batin untuk tidak minum arak dan membencinya.
Zaman ini walaupun ayat-ayat itu sudah turun semuanya dengan lengkap, tetapi manusianya belum bersedia. Mereka belum diberi kesedaran iman dan kefahaman tentang itu. Maka kita mesti memproses dulu jiwa-jiwa manusia itu. Kalau kita buat saja, akibatnya lebih buruk daripada kita biarkan saja. Kita tirulah setiap langkah Rasulullah SAW dalam mendidik umat jahiliah dari awal-awal langkah hingga ke akhirnya. Kalau kita terus melompat ke langkah terakhir, akibatnya kita tidak akan mendapatkan hasil yang sama seperti yang dicapai oleh baginda Rasul. Sebaliknya ada kemungkinan rakyat akan demonstrasi unjuk perasaan atau merusuh untuk menggugat kerajaan dan terhadap orang-orang tertentu, yang mereka rasa telah menyusahkan mereka.

Kalau penegakan hukum mau dijalankan dalam suasana peluang maksiat terbuka sebebas-bebasnya, kita seolah-olah sengaja menyuruh masyarakat buat maksiat agar kita dapat menghukum mereka. Ini tidak patut. Hukuman hanya patut pada orang yang sengaja melakukan maksiat sedangkan peluang-peluang untuk itu sudah tidak ada sama sekali.
Katalah seorang turis datang ke negara Islam yang mengharamkan minum arak. Di dalam negara telah diberi penerangan awal (melalui risalah, tv dan lain-lain media massa) tentang pengharaman arak serta hikmahnya dan dia diminta menghormatinya. Kalaulah didapati dia minum juga karena memang dia sengaja bawa secara sembunyi-sembunyi, maka patut sangatlah dia dihukum. Dengan itu moga-moga turis lain tidak berani untuk begitu biadab menentang undang-undang di negara yang dimasukinya.

5. Berhikmah dalam memansukhkan hukum dan peraturan yang sudah ada

Bukan semua hukum dan peraturan-peraturan yang sudah ada dalam masyarakat ditinggalkan dan diganti dengan peraturan islam. Perlu dikaji maana yang sesusai dengan Islam mana yang tidak sesuai. Yang sesuai dengan Islam, diterima cuma diberi ruh tauhid supaya orang dapat menghormati dan mentaati peraturan atas dasar Tuhan, sebab kalau atas dasar peraturan saja tidak kuat. Yang tidak sesuai dengan Islam seperti Undang-Undang pajak dan cukai kita tinggalkan. Tentu rakyat senang kalau tidak ada pajak lagi. Hukum dan peraturan-peraturan yang perlu ditambah dan dilengkapkan kita tambah dan lengkapkan.

Kemudian di dalam negara Islam, ada peraturan-peraturan, kebiasaan dan tata cara hidup khusus untuk kelompok, puak dan agama tertentu. Peraturan, pantang larang dan kebiasaan itu dikekalkan, dihormati bahkan di gazetkan. Bila ada kesalahan yang dibuat anggota kelompok masyarakat tersebut, maka ia akan dihukum mengikut peraturannya.

6. Pemerintah Yang Berwibawa

JIKA hukum dan peraturan mau benar-benar dapat diterima dan dipatuhi oleh masyarakat umum, ia mesti dilaksanakan oleh pemerintah, parlemen dan partai pemerintah yang berwibawa. Ciri ini penting dalam proses penegakan hukum.

Di zaman salafussoleh, pengisytiharan perlaksanaan hukum (syariat Islam) tidak mendapat tantangan dari pihak manapun sekalipun dari orang kafir. Bahkan diterima dengan senang hati. Karena waktu itu Pemerintah disegani dan dikagumi oleh kawan maupun lawan. Apa saja yang mereka lakukan dianggap bagus dan mendapat sokongan. Macamlah negara-negara maju hari ini, yang negara lain sudah melutut padanya. Maka apa saja kata-kata dan tindakannya tidak ada yang mau dan berani menentang. Bahkan menghormati dan malu padanya.
Faktor penting yang menjadikan pemerintah begitu berwibawa waktu itu ialah taqwa. Taqwalah yang membuatkan mereka sangat disegani oleh manusia. Di samping itu taqwa juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah pada mereka. Partai dan pemerintah yang terdiri dari Presiden atau Perdana Menteri serta pembantu-pembantunya, menteri-menteri, aparat kejaksaan, kehakiman, kepolisiaan, tentara, gubernur, anggota parlemen, DPRD, dan seluruh anggota partai yang bercita-cita Islam dan mau melaksanakan hukum atau syariat Islam serta simpatisan-simpatisan dan tokoh-tokoh partai, hendaklah terdiri dari orang-orang yang bertaqwa. Diantara Ciri-ciri taqwa adalah seperti berikut :

  1. Ibadah fardhu dan sunatnya rapi, cantik dan banyak.
  2. Akhlak mereka baik sehingga dapat menawan hati orang lain seperti pemurah, tawadhuk, pemaaf, penyayang, bertoleransi, mudah menolong, menghormati tetamu dan lain-lain lagi.
  3. Ukhuwah dan kasih sayang diantara mereka begitu erat dan kukuh.
  4. Hukum Allah sangat mereka jaga, lebih dari rakyat jelata sehingga pribadi mereka menjadi contoh. Mereka sangat menjauhi larangan Allah yang haram dan makruh.
  5. Memerintah dengan kasih sayang sekalipun terhadap orang kafir.
  6. Mereka hidup zuhud, tidak mengambil kekayaan negara untuk kepentingan peribadi. Bahkan harta mereka sendiri dikorbankan untuk kepentingan rakyat dan negara. Mereka hidup berdikari.
  7. Mereka memerintah dengan adil karena takuntukan Tuhan.
  8. Sangat memberi layanan kepada rakyat dan menyelesaikan masalah kehidupan rakyat, pengikut dan penyokong-penyokongnya.
  9. Jemaah atau partai mereka gagah dan menjadi model atau bayangan kepada negara yang mereka perintah.
  10. Usaha-usaha mereka 'menjadi' yakni dapat kejayaan, dan musuh-musuh tidak dapat apa-apakan mereka. Karena adanya pertolongan ALLAH secara nyata atau ghaib.

Dengan ciri-ciri ini, pemerintah dan partainya sangat diyakini oleh rakyat baik yang Islam maupun bukan Islam. Sebaliknya, tanpa wibawa yang meyakinkan, orang akan ragu dengan pemerintah. Cakap dan tindakannya dipermasalahkan dan ditentang. Bahkan mereka dianggap memerintah karena mempunyai kepentingan dan bukannya betul-betul mau menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Dan pertolongan ALLAH tidak akan datang karena mereka tidak bertaqwa. Sedangkan pertolongan ALLAH itu amat penting. Ia menentukan berhasil gagalnya perjuangan kita serta nasib kita terhadap musuh.

Saksikanlah betapa pentingnya sifat-sifat taqwa itu diusahakan demi memperolehi kejayaan dalam hidup di dunia dan Akhirat. Ia adalah rahasia kekuatan umat Islam yang tidak akan dapat dapat ditandingi oleh penentang-penentang kebenaran. Saya berseru kepada semua pejuang kebenaran walau di mana dan dalam harakah apa pun mereka berada supaya ambil perhatian berat tentang taqwa ini. Ia adalah penentu kepada kejayaan perjuangan kita dalam mewujudkan masyarakat madani yang aman, damai, makmur dan mendapat keredhoan Allah.

Penutup

Demikianlah langkah-langkah penegakan hukum dan mewujudkan msyarakat madani yang sudah pernah wujud di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat dan marilah kita jadikan momentum Muharram 1424 H ini untuk bersungguh-sungguh mewujudkannya kembali di zaman kita. Rasulullah telah bersabda bahwa sebelum kiamat Islam akan kembali gemilang dan akan wujud sekali lagi masyarakat madani di muka bumi ini. Moga-moga kita berperaan serta dalam mewujudkannya.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer