warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

10 Susahnya Berlaku Ikhlas






Untitled Document



Pentingnya Ikhlas

MENGAMALKAN syariat lahir adalah hal yang sulit. Buktinya lihat saja umat Islam hari ini tidak sedikit yang tidak shalat, tidak puasa, tidak membayar zakat, tidak dapat membaca Al Quran, tidak belajar agama, tidak menutup aurat, melakukan pergaulan bebas, hidup mengikut sistem riba, berzina, minum minuman keras, menipu, mengadu domba, fitnah-memfitnah dan macam-macam perbuatan yang semuanya sangat bertentangan dengan syariat. Umat Islam hari ini, yang bangga dengan keIslaman mereka adalah umat Islam yang gagal menegakkan syiar Islam dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat mereka. Bukannya mereka tidak tahu apa itu syariat Islam yang diperintahkan pada mereka, tetapi mereka tidak mampu melaksanakannya. Mereka lemah untuk melawan tuntutan hawa nafsu dan syaitan yang kuat menarik kepada jalan-jalan kejahatan dan kerusakan.

Begitulah susahnya untuk mengamalkan syariat Islam dan itu menjadi masalah besar yang dihadapi oleh mayoritas umat Islam hari ini. Namun, mengamalkan syariat batin jauh lebih susah daripada syariat lahir. Sebab amalan batin merupakan ilmu rasa (zauk) dan bukan ilmu kata, bukan sebutan dan teori tetapi merupakan rasa hati. Bukan saja orang yang lemah syariatnya tidak dapat melaksanakan syariat batin bahkan orang yang syariat lahirnya sudah kuat dan bagus masih belum dapat merasakan dan menghayatinya.

Buktinya dapat kita rasakan sendiri. Meskipun sedikit banyak kita sudah melakukan syariat lahir seperti shalat fardhu, shalat sunat, puasa, zakat, haji, berjuang dan berjihad, belajar ilmu-ilmu agama bahkan mengajar orang lain menutup aurat, berdakwah dan lain-lain, tetapi kita masih lalai dari mengingat Allah dan tidak cinta pada-Nya, tidak ada rasa takut dengan kehebatan Allah serta hina diri dengan Allah. Tidak sabar berhadapan dengan ujian, tidak merasakan kuasa itu di tangan Allah, tidak merasa diri berdosa. Masih suka mengumpat, hasad dengki, cinta dunia, tidak ada rasa belas kasihan, tidak berlapang dada bila berhadapan dengan manusia yang beraneka ragam, sombong, pemarah, pendendam, jahat sangka, serakah, keras kepala, keluh kesah, putus asa, tidak redha dengan takdir, tidak bimbang dengan hari hisab, tidak takut Neraka, tidak rasa rindu dengan Syurga yang penuh kenikmatan.

Kita menganggap kehebatan kita yang membuat diri kita mencapai kejayaan. Kita tidak merasakan bahwa kapan saja Allah dapat mendatangkan bencana dan mematikan kita. Karena merasa hebat maka kita membuat hutang, gila pangkat, membuat macam-macam rencana, tidak merasa kelemahan diri, tidak senang dengan kata nista orang, tidak senang dengan kelebihan orang yang menandingi kita, rasa menderita dengan kemiskinan, masih benci dengan orang yang tidak beramal (bukan rasa kasihan), masih merasa lebih bila berhadapan dengan orang yang tidak beramal, masih rasa terhina untuk menerima kebenaran dari orang lain, masih berat untuk mengakui kesalahan walaupun sadar kita sudah bersalah.

Jiwa merasa menderita bila dicaci, merasa tenang dan senang hati bila disanjung, merasa bangga bila mendapat nikmat, merasa mau hidup lebih lama lagi dan merasa menderita bila miskin dan papa. Merasa bangga dengan kelebihan diri, merasa terhina dengan kekurangan, tidak pernah puas (cukup) dengan apa yang ada, tidak merasa berdosa (bersalah), tidak merasa dunia kecil dan hina, tidak merasa akhirat besar, tidak menderita bila berbuat dosa atau kesalahan tetapi menderita bila harta dan jabatannya hilang.

Mereka yang bagus dan kuat syariat lahirnya pun masih belum dapat melaksanakan amalan batin (syariat batin) secara istiqamah dan sungguh-sungguh, apalagi yang amalan lahirnya diabaikan sama sekali. Lebih susah bagi mereka mendapatkan amalan batin.

Salah satu amalan batin yang sangat penting dan perlu untuk diusahakan oleh umat Islam adalah ikhlas. Tanpa ikhlas, suatu amalan akan tertolak. Ikhlas adalah meniatkan apa yang dibuat dan apa yang ditinggalkan karena Allah. Artinya apa saja perintah Allah yang kita buat, baik fardhu ain, fardhu kifayah, sunat muakkad, sunat ghairi muakkad atau mubah mesti diniatkan karena Allah. Kalau tidak diniatkan karena Allah, amalan itu dianggap tidak ikhlas. Suatu amalan yang tidak ikhlas akan tertolak, tidak diberi pahala dan sia-sia. Kita lihat beberapa contoh bagaimana amal yang ikhlas dan amal yang tidak ikhlas.

  1. Usaha mencari uang atau meninggikan taraf ekonomi baik secara individu atau secara jemaah, kalau diniatkan karena Allah (sebab merupakan satu perintah Allah yang berbentuk fardhu kifayah) adalah dianggap ikhlas. Sebaliknya kalau kerja itu diniatkan untuk kaya, untuk bersaing dengan orang lain atau untuk prestasi kaum, akan dianggap tidak ikhlas.
  2. Menuntut ilmu kalau diniatkan karena Allah adalah ikhlas, sebaliknya menuntut ilmu kalau diniatkan untuk pandai, untuk mendapat pengakuan manusia berbentuk sertifikat atau ijazah serta berlomba-lomba dan seterusnya untuk dapat pangkat dan uang, maka amal itu dianggap tidak ikhlas.
  3. Arak dan judi kalau ditinggalkan karena Allah akan dianggap ikhlas. Sebaliknya kalau kejahatan itu tidak dibuat hanya karena kebiasaan, atau karena takut pada akibat buruk yang ditimbulkannya atau karena tidak ada uang, maka dianggap tidak ikhlas.

Ikhlas dapat berubah-ubah. Boleh jadi niat awal ikhlas, tetapi ketika melaksanakan amalan tersebut atau sesudahnya niat berubah lagi. Katalah seorang membantu sahabatnya untuk membayarkan uang kuliah semasa di kampus dulu, karena sahabatnya kesulitan keuangan. Niatnya membantu sahabatnya itu untuk mencari redho Allah. Hatinya tidak terasa bangga atau berbunga ketika memberi bantuan itu. Dengan izin Allah ia dapat menjaganya. Tetapi 20 tahun kemudian, terjadilah satu peristiwa yang menghilangkan ikhlasnya. Suatu hari dia ingin berjumpa dengan kawannya yang sudah menjai pengusaha besar. Setelah berusaha mencari waktu untuk appointment, tibalah masanya dia akan diterima sahabat lamanya itu. Tiba-tiba sahabatnya membatalkan rencana pertemuan itu karena ada meeting mendadak. Maka ia-pun kecewa, tidak puas hati dan bersungut-sungut sambil berkata, 'kalau 20 tahun dulu aku tidak bantu dia bayarkan uang kuliahnya, dia mungkin tidak jadi sarjana dan tidak akan kaya seperti ini'. Maka hilanglah keikhlasan amalan yang dia buat 20 tahun yang lalu yang selama ini sudah dia sangat jaga keikhlasannya.

Diantara ciri ikhlas dari pendakwah, muballigh, kiyai adalah bila dakwahnya ada kesan pada pendengarnya dan mendorong mereka untuk membaiki diri. Kehidupan keluarga, anak dan isterinya menjadi model bagi masyarakat. Bila rumah tangga tidak selesai, menunjukkan dia masih jauh dari ikhlas dan saat ini 99% rumah tangga pejuang tidak selesai.

Peringatan Rasulullah SAW

Suatu hari rasulullah SAW sedang bersama Muadz bin Jabbal.
"Puji syukur ke hadrat Allah SWT yang menghendaki agar makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, wahai Muaz!"
Jawabku, "Ya, Sayidil Mursalin."
Sabda Rasulullah SAW, "Sekarang aku akan menceritakan sesuatu kepadamu yang apabila engkau hafalkan (diambil perhatian) olehmu akan berguna tetapi kalau engkau lupakan (tidak dipedulikan) olehmu maka kamu tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah kelak."
"Hai Muaz, Allah itu menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dari bumi. Setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu langit dan tiap-tiap pintu langit dijaga oleh malaikat penjaga pintu menurut ukuran pintu dan keagungannya."
"Maka malaikat yang memelihara amalan si hamba (malaikat hafazah) akan naik ke langit membawa amal itu ke langit pertama. Penjaga langit pertama akan berkata kepada malaikat Hafazah,"Saya penjaga tukang mengumpat. Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena saya diperintahkan untuk tidak menerima amalan tukang mengumpat".
"Esoknya, naik lagi malaikat Hafazah membawa amalan si hamba. Di langit kedua penjaga pintunya berkata,"Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya sebab dia beramal karena mengharapkan keduniaan. Allah memerintahkan supaya amalan itu ditahan jangan sampai lepas ke langit yang lain."
"Kemudian naik lagi malaikat Hafazah ke langit ketiga membawa amalan yang sungguh indah. Penjaga langit ketiga berkata, "Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya karena dia seorang yang sombong."
Rasulullah SAW meneruskan sabdanya,
"Berikutnya malaikat Hafazah membawa lagi amalan si hamba ke langit keempat. Lalu penjaga langit itu berkata,"Lemparkan kembali amalan itu ke muka pemiliknya. Dia seorang yang ujub. Allah memerintahkan aku menahan amalan si ujub."
Seterusnya amalan si hamba yang lulus ke langit kelima dalam keadaan bercahaya-cahaya dengan jihad, haji, umrah dan lain-lain. Tetapi di pintu langit penjaganya berkata,"Itu adalah amalan tukang hasad. Dia sangat benci pada nikmat yang Allah berikan pada hamba-Nya. Dia tidak redha dengan kehendak Allah. Sebab itu Allah perintahkan amalannya dilemparkan kembali ke mukanya. Allah tidak terima amalan pendengki dan hasad."
Di langit keenam, penjaga pintu akan berkata,"Saya penjaga rahmat. Saya diperintahkan untuk melemparkan kembali amalan yang indah itu ke muka pemiliknya karena dia tidak pernah mengasihi orang lain. Kalau orang dapat musibah dia merasa senang. Sebab itu amalan itu jangan melintasi langit ini."
Malaikat Hafazah naik lagi membawa amalan si hamba yang dapat lepas hingga ke langit ketujuh. Cahayanya bagaikan kilat, suaranya bergemuruh. Di antara amalan itu ialah shalat, puasa, sedekah, jihad, warak dan lain-lain.
Tetapi penjaga pintu langit berkata,"Saya ini penjaga sum'ah (ingin kemasyhuran). Sesungguhnya si hamba ini ingin termasyhur dalam kelompoknya dan selalu ingin tinggi di saat berkumpul dengan kawan-kawan yang sebaya dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkan padaku agar amalan itu jangan melintasiku. Tiap-tiap amalan yang tidak bersih karena Allah maka itulah riya'. Allah tidak akan menerima dan mengabulkan orang-orang yang riya'."
Kemudian malaikat Hafazah itu naik lagi dengan membawa amal hamba yakni shalat, puasa, zakat, haji, umrah, akhlak yang baik dan mulia serta zikir pada Allah. Amalan itu diiringi malaikat ke langit ketujuh hingga melintasi hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT.
Semua malaikat berdiri di hadapan Allah dan semua menyaksikan amalan itu sebagai amalan soleh yang betul-betul ikhlas untuk Allah.
Tetapi firman Tuhan,"Hafazah sekalian, pencatat amal hamba-Ku, Aku adalah pemilik hatinya dan Aku lebih mengetahui apa yang dimaksudkan oleh hamba-Ku ini dengan amalannya. Dia tidak ikhlas pada-Ku dengan amalannya. Dia menipu orang lain, menipu kamu (malaikat Hafazah) tetapi tidak bisa menipu Aku. Aku adalah Maha Mengetahui."
"Aku melihat segala isi hati dan tidak akan terlindung bagi-Ku apa saja yang terlindung. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi adalah sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang bakal terjadi."
"Pengetahuan-Ku atas orang yang terdahulu adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang yang datang kemudian. Kalau begitu bagaimana hamba-Ku ini menipu Aku dengan amalannya ini?"
"Laknat-Ku tetap padanya."
Dan ketujuh-tujuh malaikat beserta 3000 malaikat yang mengiringinya pun berkata:
"Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami sekalian bagi mereka."
Dan semua yang di langit turut berkata,"Tetaplah laknat Allah kepadanya dan laknat orang yang melaknat."
Sayidina Muaz (yang meriwayatkan hadist ini) kemudian menangis terisak-isak dan berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana aku dapat selamat dari apa yang diceritakan ini?"
Sabda Rasulullah SAW, "Hai Muaz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan."
Muaz bertanya kembali,"Ya, tuan ini Rasulullah sedangkan saya ini hanyalah si Muaz bin Jabal, bagaimana saya dapat selamat dan bisa lepas dari bahaya tersebut?"
Bersabda Rasulullah, "Ya begitulah, kalau dalam amalanmu ada kelalaian maka tahanlah lidahmu jangan sampai memburukkan orang lain. Ingatlah dirimu sendiri pun penuh dengan aib maka janganlah mengangkat diri dan menekan orang lain."
"Jangan riya' dengan amal supaya amal itu diketahui orang. Jangan termasuk orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik berdua ketika disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur pada orang lain nanti luput amalanmu dunia dan akhirat dan jangan berkata kasar dalam suatu majlis dengan maksud supaya orang takut padamu, jangan mengungkit-ungkit apabila membuat kebaikan, jangan mengoyak perasaan orang lain dengan mulutmu, karena kelak engkau akan dikoyak-koyak oleh anjing-anjing neraka jahanam."
Sebagaimana firman Allah yang bermaksud,"Di neraka itu ada anjing-anjing yang mengoyak badan manusia."
Muaz berkata, "Ya Rasulullah, siapa yang tahan menanggung penderitaan semacam itu?"
Jawab Rasulullah SAW, "Muaz, yang kami ceritakan itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukuplah untuk menghindari semua itu, kamu menyayangi orang lain sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri dan benci bila sesuatu yang dibenci olehmu terjadi pada orang lain. Kalau begitu kamu akan selamat dan dirimu pasti akan terhindar dari api neraka."

Dalam hadis lain Rasulullah SAW mengingatkan:

Abu Hurairah r.a. berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
Pertama yang akan diperhitungkan di Akhirat adalah seorang yang mati syahid. Setelah dihadapkan ke hadirat Tuhan lalu ditanya, "Apakah perbuatan kamu terhadap nikmat itu? Jawabnya, "Aku telah berjihad untuk-Mu hingga mati syahid." Tuhan berfirman, "Engkau telah dusta. Engkau berjuang bukan karena Aku tetapi karena ingin terkenal sebagai pejuang dan disebut-sebut tentang keberanian dan ketokohanmu. Dan engkau telah memperoleh semua itu." Maka Allah memerintahkan orang itu diseret ke dalam api Neraka.
Orang kedua adalah seorang yang telah mempunyai banyak ilmu dan pandai serta mengajar tentang Al Quran, ketika dihadapkan kepada Tuhan ia ditanya, "Apakah yang telah kamu perbuat terhadap semua itu?" Jawabnya, "Aku telah pelajari ilmu dan mengajarkan nya." Berfirman Tuhan, "Engkau dusta. Engkau belajar karena ingin terkenal sebagai seorang alim dan engkau baca Al Quran karena ingin dikenal sebagai seorang qari dan semua itu telah engkau peroleh." Maka Allah memerintahkan supaya dia diseret ke dalam api Neraka.
Orang ketiga adalah hartawan yang memiliki segala jenis kekayaan. Ketika dihadapkan kepada Tuhan, ia ditanya, "Apakah amalanmu terhadap semua hartamu itu?" Jawabnya, "Aku telah gunakan untuk semua urusan di jalan-Mu dan semata-mata karena-Mu Tuhan." Berfirman Tuhan,"Engkau dusta. Engkau membelanjakan hartamu adalah karena ingin supaya dikenal sebagai seorang hartawan dan dermawan dan engkau telah memperolehnya." Maka Allah memerintahkan supaya ia diseret ke dalam api Neraka.

Ikhlas Rahasia Allah

Demikian ketentuan Allah. Satu ketentuan yang pasti dan kita akan menghadapinya satu hari nanti. Batas di mana manusia tidak bisa berdalih lagi. Hari di mana kita terpaksa menerima akibat dari usaha kita di dunia. Di hari itu orang-orang yang tidak ikhlas akan melolong, memekik dan menyesal karena amalannya tertolak. Dia sangka dapat membohongi Allah, rupanya tidak. Allah lebih tahu darinya tentang gerak hatinya sendiri.
Marilah kita insaf dari sekarang, betulkan niat kita ketika melakukan suatu amalan. Mohon dari Allah agar diberi-Nya hati yang ikhlas, sebab ikhlas adalah anugerah dari Allah. Dalam satu Hadits Qudsi Allah berfirman yang bermaksud:

Terjemahan: Ikhlas adalah satu rahasia dalam rahasia-rahasia-Ku. Aku titiskan ia dalam hati hamba-hamba-Ku yang Aku mengasihinya. (Riwayat Abu Hasan Al Basri)

Karena ikhlas itu satu rahasia Allah tentu tidak mungkin kita dapat mengetahui siapa yang ikhlas dan siapa yang tidak. Malah diri kita sendiri pun kadang-kadang susah untuk dipastikan apakah amalan kita itu ikhlas atau sebaliknya. Kita tidak boleh mengatakan mengatakan diri kita ikhlas. "Saya ikhlas".

Walaupun ikhlas adalah rahasia Allah, namun Islam membuat satu garis panduan untuk mengukur hati kita dan membentuknya supaya benar-benar ikhlas. Diantara tanda-tanda ikhlas dalam satu amalan adalah bila orang memuji atau mencaci amalan kita, kita rasa sama saja. Pujian tidak membanggakan kita dan kejian tidak menyusahkan. Itulah tanda ikhlas. Maknanya, amalan itu betul-betul dibuat karena Allah. Karena itu kalau manusia cerca, caci atau hina, hati pun tidak cacat, tidak timbul perasaan marah, dendam atau ingin membela diri atau melawan orang yang menghina itu.

Begitu juga, kalau orang puji, pujian itu tidak membekas di hatinya. Tidak timbul rasa bangga, puas hati dan juga tidak bertambah kasih sayang pada orang yang memuji itu, disebabkan oleh pujiannya. Bagi orang-orang yang ikhlas, pujian dan kejian tidak pernah dipikirkan apalagi hendak diharapkan. Mereka sangat takut kalau-kalau Allah menolak amalan dan memurkai mereka. Sebaliknya mereka sangat ingin Allah menerima baik amalan-amalan mereka serta meredhai mereka. Mereka sanggup mengesampingkan kepentingan sendiri dalam usaha mencari keredhaan Allah. Mereka tidak bimbang nasib diri, rugi atau untung, orang keji atau puji, menang atau kalah, yang penting supaya Allah menerima baik amalan mereka. Rasulullah SAW karena menganjurkan sifat ikhlas telah bersabda yang bermaksud:

Terjemahannya: Berbuat baiklah pada orang yang berbuat jahat kepada kamu.

Seseorang yang benar-benar mencari keredhaan Allah, akan senantiasa mencari peluang untuk berbakti kepada-Nya. Ketika orang lain bertindak jahat pada mereka, mereka akan merasa berpeluang untuk mendapat pahala dan kasih sayang Allah. Sebab itu kejahatan orang diterima baik dan dibalas dengan kebaikan pula.

Hal itu benar-benar berlaku di kalangan orang-orang soleh dan muqarrobin. Ketika mendengar orang menghina mereka, langsung diantarkannya hadiah pada orang itu. Bila ditanya apa tujuan hadiah itu, jawaban mereka adalah, "Orang yang menghina kita sebenarnya memberi pahala pada kita. Memberi pahala sama seperti memberi Syurga. Jadi untuk membalas pemberian yang begitu besar pada kita, sangat sesuailah kita menghadiahkan sesuatu kepadanya." Begitulah hati yang ikhlas. Dia tidak melatah kalau orang menggugat, malah gugatan itu mendekatkan dirinya pada Allah.

Ikhlas adalah Anugerah Allah

Untuk mendapatkan hati yang ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh dan anugerah dari Allah SWT, kita akan senantiasa takluk di tangan syaitan yang senantiasa bertekad untuk menjatuhkan kita. Ingatlah ketika Allah SWT melaknat Iblis. Lalu ia merayu untuk menyesatkan semua anak cucu Nabi Adam a.s. Karena itu Allah SWT membenarkannya, namun Iblis mengakui:

surat:38 ayat:82 surat:38 ayat:83

Terjemahannya: Jawab Iblis: "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang diikhlas-kan diantara mereka."
(Shad: 82-83)

surat:15 ayat:39 surat:15 ayat:40 surat:15 ayat:41

Terjemahannya: …dan pasti aku menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang diikhlas-kan diantara mereka. Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya) "(Al Hijr: 39-41)

Dengan itu syaitan akan merasuk semua orang supaya durhaka pada Allah. Dan semua orang akan mengikutinya kecuali mereka yang memiliki hati yang di-ikhlas-kan oleh Allah. Orang yang tidak ikhlas, sekalipun guru, kyai, imam, ustaz atau ustazah pasti Allah biarkan pada syaitan. Bila Allah biarkan pada syaitan, Nerakalah tempatnya.

Oleh itu berhati-hatilah. Mohonlah selalu pimpinan Allah serta mujahadahlah terhadap nafsu dan syaitan, supaya setiap amalan yang kita lakukan adalah karena dan untuk Allah semata-mata. Hanya dengan cara itulah saja kita akan selamat.

Rasa bertuhan yang tajam kunci mendapat anugerah ikhlas

Mengajak manusia untuk mengenali dan menghayati Tuhan tidak sama dengan mengajak manusia untuk percaya pada Tuhan. Hari ini kalau kita tanya pada orang kafir sekalipun, apakah mereka tahu dan percaya adanya Tuhan, tentu mereka akan menjawab kami tahu dan percaya. Tapi seolah-olah Tuhan sudah tidak ada dalam kehidupan mereka. Mereka tidak merasakan peranan dan kewujudan Tuhan di dalam kehidupan mereka atau dengan kata lain tidak perduli kepada Tuhan.

Bila orang kenal dan menghayati Tuhan, barulah jiwanya hidup semula. Terasa oleh hatinya setiap saat betapa Tuhan itu Maha Berkuasa, Menghidupkan, Mematikan, Menghukum, Mendengar, Melihat, Maha Besar, Maha Agung, Penyelamat, Penjaga, Pelindung, yang memberikan nikmat, yang menurunkan rahmat, dan memberikan nikmah, yang mewujudkan apa saja di dunia ini maupun di akhirat.

Rasa bertuhan yang tajam ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Rasa diawasi dan dilihat oleh Tuhan, rasa takut dengan Tuhan, merasa kehebatan Tuhan dan lain-lain rasa bertuhan akan mendorong sesorang untuk berbuat dan beramal karena Tuhan. Bukan karena sebab-sebab lain. Bila dia dipuji orang karena kerja-kerjanya dalam berdakwah dan membangunkan Islam, dia malu dan sibuk menepis pujian-pujian itu sebab dia merasakan bahwa Allah melihat segala kekurangan dan kecacatan amalannya. Bahkan dia rasa tersiksa dengan pujian-pujian itu. Dia merasa bahwa tanpa kuasa Allah tidak mungkin dia mengeluarkan suara untuk berceramah atau membuat kerja-kerjanya itu. Begitu juga bila dia dicaci orang, dia berterima kasih pada orang itu karena telah menunjukkan kelemahannya dalam beramal. Bahkan dia terasa amalannya lebih buruk dari pada yang dicaci orang itu. Hatinya tidak terasa sakit, bahkan mendorongnya untuk semakin takut dengan Allah dan dia segera bertaubat dengan Allah diatas amalannya yang tidak sempurna itu. Dia berterima kasih kepada orang yang telah mencaci dan menunjukkan kelemahan amalannya.

Tetapi bila rasa bertuhan ini tidak ada atau tipis di dalam hatinya, maka segala perbuatannya tidak dikaitkan dengan Tuhan. Bila hasil kerja dia yang dia anggap cemerlang itu tidak dipuji orang maka hatinya akan pedih dan sakit. Apalagi bila dikeji orang, kadang-kadang dia sampai marah, stress dan merancang pembalasan. Begitulah pentingnya mengusahakan rasa bertuhan ini.

Walaupun ikhlas itu anugerah dari Allah kepada hamba-hambaNya, tetapi usaha sungguh-sungguh untuk melahirkan ikhlas mesti dibuat. Buatlah berbagai amalan fardhu ain, fardhu kifayah, sunnat muakkad, habluminallah, hablum minannas dan lain-lain. Kadang-kadang 1 amalan dibuat dengan lebih ikhlas dan bersungguh-sungguh dari pada amalan lain. Banyak amalan yang mudah berhadapan dengan tidak ikhlas terutamanya bila disitu ada glamour, harta, dan kemasyhuran seperti berceramah, bernasyid, bersajak dan lain-lain. Begitu juga dengan sholat, puasa, haji, sangat susah untuk menjaganya agar semata-mata karena Allah dan dibuat dalam keadaan hati tidak lalai dari mengingati Allah. Jangan hanya memikirkan kerja-kerja besar saja seperti membangunkan ekonomi Islam, kebudayaan Islam, pendidikan Islam yang sangat mudah berhadapan dengan tidak ikhlas. Fikirkan dan buat juga benda-benda kecil seperti membersihkan toilet, memungut sampah di jalan, membersihkan masjid yang orang-orang tidak terfikir untuk membuatnya atau kalau membuatnyapun karena semata-maat pekerjaan dan kewajiban saja bukan karena Allah. Kerja-kerja ini biasanya tidak pernah kita ingat-ingat atau banggakan. Mungkin kecil pada penilaian manusia tetapi besar timbangannya di sisi Allah SWT.

Dalam kitab disebutkan bahwa Imam Ghazali diampunkan Allah bukan karena buku-buku dan karya-karyanya yang sangat berguna bagi umat Islam sampai sekarang ini, tetapi karena satu kerja 'kecil' yang dia buat. Suatu malam ketika sedang menulis, ada seekor lalat yang hinggap diujung penanya dan meminum tinta dari penanya. Dia biarkan lalat itu minum sampai puas. Kerja inilah salah satu faktor yang menyebabkan dia diampunkan Allah.

Salah faham tentang ria dan tidak ikhlas

Setelah melihat beratnya untuk berbuat dan beramal secara ikhlas dan lebih mudah untuk berlaku ria, maka banyak orang yang beranggapan tidak perlu beramal atau beribadah karena takut ria dan tidak ikhlas. Misalnya seorang itu mempunyai kemampuan berdakwah dan menyampaikan risalah Islam. Karena takut ria dan tidak ikhlas maka dia tidak tunaikan tanggung jawab berdakwah ini. Dia telah ghurur atau tertipu.

Sebenarnya orang ini tertipu dan membuat 2 kesalahan. Kesalahan pertama tidak beramal dan kesalahan kedua dia rasa sudah baik dan cukup dengan amalan-amalan yang ada yang menurut dia mungkin ikhlas. Sepatutnya perkara yang disuruh buatlah terus menerus dan perkara yang dilarang, tinggalkan terus menerus. Bila kita buat maka akan ada ujian dan gangguan seperti perasaan tidak ikhlas, ingin nama, ingin glamour dan lain-lain. Tentu saja gangguan-gangguan ini tidak dapat kita jadikan sebab untuk tidak beramal, sebab ia hanya ingatan-ingatan yang Allah beri kepada kita agar kita waspada terhadap ria dan tidak ikhlas. Tidak berbuat karena takut ria itupun ria. Tidak berbuat karena takut tidak ikhlas itu-pun tidak ikhlas. Hal ini sangat halus dan seni, susah untuk dikesan, kecuali oleh orang yang hatinya bersih. Kalau tidak ada pimpinan orang akan mudah tertipu.

Begitu juga dengan orang yang beruzlah (hidup mengasingkan diri) karena melihat kehidupan masyarakat yang sudah rusak, susah untuk mengamalkan Islam dan dia takut terpengaruh oleh masyarakat sehingga rusak juga. Orang ini lagi tertipu. Ia sudah menuduh masyarakat jahat dan menganggap diri bersih. Buktinya kalau kita tanya mengapa saudara beruzlah, maka dia akan jawab: "Allah, masyarakat sudah rusak." Patutnya dia jawab : "masyarakat sudah rusak, kalau saya bergaul dengan mereka, masyarakat akan bertambah rusak lagi. Biarlah saya sendiri. Kalau rusak, saya seoranglah yang rusak." Sebenarnya islam itu agama kemasyarakatan, cuma di waktu darurat dibolehkan beruzlah. Uzlah bukan karena kejahatan orang atau masyarakat, tetapi karena kejahatan diri. Takut orang terjangkit kejahatan kita. Tetapi kebanyakan orang tidak begitu. Mereka beruzlah karena takut terjangkit kejahatan orang atau masyarakat. Secara tidak langsung dia mengaku baik. Inilah satu penyakit hati yang berbahaya.

=== sekian ===

Makasih buat pencerahannya

Makasih buat pencerahannya untuk kita semua dan bermanfaat ini. salam dari kami pengurus Baju Bayi

Travel Pulau Seribu

senang bisa membaca tulisan anda, semoga bermanfaat untuk kita semua yang membacanya, terimakasih

Iklhas

Benar mas kawan, bahkan di dalam Al Qur'an di salah satu ayat tersebut bahwa ada manusia yang tidak bisa di ganggu olehnya, sipa dia ternyata si setan menjawab "orang yang ikhlas".

Salam dari Jakarta ya mas kawan sejati silahkan main ke toko ku di Timbangan Digital Tecsolusindo

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer