warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

Bab 20 Hidup Menurut Pandangan Islam






Untitled Document



Kita sebagai orang Islam yang mengharapkan keredhaan Allah harus bercita-cita untuk hidup secara Islam dengan sebaik-baiknya. Untuk itu kita harus faham dan mengetahui bagaimana hendak hidup secara Islam menurut Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW merupakan peraturan Allah untuk panduan hidup manusia. Langit, bumi dan segala isinya adalah kepunyaan Allah. Maka Allah jugalah yang berhak membuat peraturan-peraturannya. Allah sediakan peraturan itu untuk manusia menggunakan dan menjalankannya. Manusia wajib mengikuti peraturan Allah itu. Mereka tidak dapat mengikuti akal sendiri. Jika tidak ada hancurlah dunia ini, firman Allah :

surat:30 ayat:41

"Lahirlah kerusakan di lautan dan di daratan akibat dari tangan-tangan manusia"
[Q.S. Ar Rum : 41]

Jika ada manusia yang tidak mau terima peraturan dari Allah untuk mengatur hidupnya, rumah tangga, masyarakat, negara hingga alam yang lebih luas, hukuman Allah sangat berat. Firman Allah :

surat:5 ayat:44

"Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir"
[Q.S. Al Maidah : 44]

surat:5 ayat:45

"Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang zalim"
[Q.S. Al Maidah : 45]

surat:5 ayat:46

"Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum dari Allah maka sesungguhnya mereka adalah orang-orang fasiq"
[Q.S. Al Maidah : 46]

Jadi orang yang tidak mau mengikuti peraturan dan perintah Allah, dapat dijatuhi hukum kafir, zalim atau fasiq.

Mengatur Hidup Menurut Syariat

Supaya manusia berjaya mengatur hidup secara yang dikehendaki oleh Al Qur'an dan Sunnah atau ajaran Islam, harus menempuh empat perkara :

  1. Syariat
  2. Tareqat
  3. Hakikat
  4. Makrifat

1. Syariat

Ialah peraturan-peraturan lahir dan batin atau hukum dari Allah yang telah ditetapkan olehNya di dalam Al Qur'an dan dijelaskan lagi oleh hadis Rasulullah SAW.
Hukum Syariat

Terdiri dari lima hukum, yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Lima hukum ini menyuluh hidup kita dari diri, keluarga, masyarakat, negara, hingga alam sejagat.

  • WAJIB: Satu perkara dibuat dapat pahala, ditinggalkan berdosa, kedudukannya harus dibuat.
  • SUNAT : Dibuat dapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa, kedudukannya sebaiknya dibuat
  • HARAM : Dibuat berdosa, ditinggalkan karena Allah dapat pahala, kedudukannya harus ditinggalkan
  • MAKRUH : Dibuat tidak berdosa, ditinggalkan karena Allah dapat pahala, kedudukannya sebaiknya ditinggalkan
  • MUBAH/JAIZ : Dibuat atau ditinggalkan tidak dapat pahala dan tidak juga berdosa, kedudukannya dapat pilih mau dibuat atau ditinggalkan.

Setiap yang kita lakukan, walau sekecil apapun tidak terlepas dari lima hukum tersebut. Contohnya dalam berpakaian :

  1. Wajib berpakaian untuk menutup aurat. Menutup seluruh tubuh bagi wanita dan sekurang-kurangnya dari pusat sampai lutut bagi lelaki.
  2. Sunat berpakaian mengikuti sunnah Rasulullah SAW seperti memakai kopiah, serban, jubah, dan lain-lain.
  3. Haram berpakaian yang membuka aurat bagi lelaki dan wanita. Haram memakai pakaian dari sutra bagi lelaki.
  4. Makruh berpakaian yang panjangnya melampaui batas bagi lelaki.
  5. Mubah berpakaian apa saja baik yang murah atau yang mahal.

Seluruh perintah Allah baik yang wajib atau sunat, diibaratkan seperti satu badan. Maka perumpamaan orang yang hanya buat hal yang sunat saja tetapi tidak melakukan yang wajib, badannya mati tapi tidak berfungsi. Bagi orang yang hanya buat yang wajib tapi tidak buat yang sunat, badannya hidup tapi tidak indah dan cantik.

  • Syariat Allah yang mengandung lima hukum itu, kalau menyuluh soal-soal keyakinan dan aqidah, disebut persoalan usuluddin (tauhid)
  • Bila menyuluh soal lahiriah, hal-hal lahir seperti berpakaian, mengatur rumah tangga dan sebagainya dikatakan persoalan fiqih
  • Syariat itu kalau menyuluh soal-soal hati, nafsu, batin atau rohani disebut tasawuf

Tauhid, fiqih dan tasawuf tidak dapat dipisahkan, ketiganya harus dipelajari, difahami dan diamalkan, misalnya dalam shalat, ketiganya harus dibawa bersama.

  • Fiqihnya : Berdiri, rukuk, sujud dalam setiap bacaan dan perbuatan dalam shalat
  • Tauhidnya : Yakin dengan Allah Yang Maha Melihat
  • Tasawufnya : Khusyuk, faham setiap bacaan dan rasa tadharuk dengan Allah.

Ketiganya tidak dapat dipisahkan, Imam Malik r.a berkata :
"Barang siapa yang semata-mata berfiqih tetapi tidak bertasawuf, dia akan jatuh fasiq. Barang siapa yang bertasawuf tetapi tidak berfiqih, dia akan jatuh zindiq (kafir)".

2. Tareqat

Tariqat artinya jalan. Tariqat terbagi dua :

  1. Tariqat wajib yaitu syariat yang berbentuk ilmiah yang diamalkan sungguh-sungguh. Contohnya : bertariqat dalam shalat, kita belajar ilmu tentang shalat, ketika sampai masanya kita pun melaksanakan shalat.
  2. Tariqat sunat. Seperti tariqat Ahmadiah, Satariah, Qadariah, Naqsabandiyah, Muhammadiyah dan lain-lain, yaitu kita mengamalkan disiplin wirid-wirid, shalawat-shalawat tertentu yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu.

Tariqat wajib, memang wajib ke atas setiap orang mengamalkannya. Tariqat sunat banyak diamalkan oleh orang yang bercita-cita mendidik diri dan oleh ulama-ulama yang haq.

Kita patut juga mengamalkan tariqat sunat untuk memudahkan jalan kita menuju Allah. Orang yang mengamalkan tariqat sunat ini akan dibantu dalam bermujahadah melawan nafsu dan mendidik hati ke arah taqwa. Perlu diingat dalam kita mengamalkan tariqat sunat, kita tidak dapat meninggalkan tariqat wajib, karena tiada nilai amalan sunat tanpa mengerjakan amalan wajib.

3. Hakikat

Setelah seseorang itu bersyariat dan bertariqat sungguh-sungguh dia kaan dapat rasa Hakikat, yaitu rasa yang Allah jatuhkan ke hati hambaNya yang Dia pilih dan kehendaki. Orang ini tidak lagi memiliki sifat mazmumah, sifat-sifat terpuji menghiasi dirinya, seperti rasa syukur, redha, zuhud, tawakal, pemurah, dan lain-lain. Jiwanya tidak terpengaruh dengan perubahan suasana. Allah letakkan dalam hatinya rasa tenang dan damai. Firman Allah :

surat:13 ayat:28

"Ketahuilah dengan mengingati Allah itu hati akan tenang"
[Q.S. Ar Rad : 28]

Orang berzikir yang mendapat ketenangan itu mulutnya menyebut Allah, hati merasakan kebesaran Allah dan perbuatannya melaksanakan perintah Allah. Soal hakikat atau buah ibadah tidak dapat dipelajari. Siapa yang dapat, dia akan merasakannya. Orang yang telah mendapat hakikat, dikatakan orang yang benar-benar kenal Allah.

4. Makrifat

Orang yang telah sampai ke tingkat makrifat dikatakan orang-orang yang Al 'Arifbillah atau golongan 'Arifin. Mereka ini kenal Allah dengan mata hati dan mereka telah mencapai taraf bertaqwa. Mereka benar-benar dapat melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah yang haram dan makruh.

Kalau ada orang yang melaksanakan syariat sungguh-sungguh, faham sungguh-sungguh kelima hukum tetapi tidak tenang, tidak redha, tidak sabar dan lain-lain haruslah periksa diri, muhasabah diri kembali. Kalau bukan kesalahan di bidang Tauhid, mungkin salah di bidang fiqih atau di bidang tasawuf.

Kesimpulannya ajaran Islam bukanlah bentuk percakapan saja, tapi perlu diamalkan lahir dan batin agar menjadi hamba Allah yang soleh atau disebut Al 'Arifbillah yang akan mendapat kemenangan di dunia dan Akhirat.

Artikel ini adalah bagian Kuliah Kesadaran hasil karya dari Abuya Ashaari Muhammad at Tamimi

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer