Bala' Lahiriyah dan Bala' Maknawiyah

Dunia baru saja mengalami suatu peristiwa yang amat besar. Gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda sebagian wilayah dunia. Di Indonesia, Aceh dan Sumatra Utara yang terlanda. Ratusan ribu manusia tewas. Bahkan sampai kini pun kita masih melihat mayat-mayat yang tidak terurus dengan baik. Demikianlah, ALLAH –dengan ke-MahaadilanNya– telah memberikan peringatan besar pada kita. Itulah kerja tentara ALLAH berupa gelombang tsunami yang menyapu habis segala yang ada di permukaan bumi. Jika mereka telah bertindak tidak ada siapa dapat melawan. Jika tentara Tuhan telah bertindak, itu menandakan manusia sudah teramat lupa pada Tuhan. Manusia sibuk dalam hiruk-pikuk dunia glamour dan gaya hidup hedonis, perang perebutan kekuasaan dan kekayaan alam di sana-sini. Kriminalitas merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Apakah kita sudah sedemikian lalai seperti kaum Nabi Nuh A.S hingga Tuhan datangkan air bah? Bahkan sedemikian lalai dan jauhnya kita dari Tuhan, hingga bala’ yang susul menyusul di tahun 2004 tidak membuat kita sadar dan insyaf juga.

Rentetan gempa dan kecelakaan telah terjadi sepanjang tahun 2004. Patutnya itu semua cukup jadi pelajaran bagi kita untuk ingat kembali kepada Tuhan. Akan tetapi, manusia sudah tidak lagi sensitif dan masih terus memuja dunia hingga Tuhan perlu timpakan bala’ yang sangat dahsyat di penghujung tahun 2004 untuk mengajak manusia kembali menyebut-nyebut nama Tuhan. Bala yang bersifat lahiriah seperti disebut di atas, sangat mudah dikesan oleh manusia. Namun, bala’ lahiriah bukanlah sesuatu yang patut dibenci, karena bila ada iman dan sabar menanggungnya maka bala’ tersebut menjadi penghapus dosa baginya dan akan meningkatkan derajatnya di sisi ALLAH. Bagi umat Islam yang kuat imannya, bala’ lahiriah di dunia ini dipandang kecil saja. Bala akhiratlah yang amat menakutkan karena akhirat itu kekal.

Manusia di akhir zaman ini, karena sudah melupakan Tuhan, bala’ lahiriah dipandang sebagai hal besar. Padahal ada jenis bala’ yang lebih membahayakan, yaitu bala’ yang bersifat maknawi. Bala maknawi ini antara lain: tidak mengamalkan ilmu yang dimiliki, kehilangan iman, hilangnya kasih sayang, saling meNyalahkan, kerusakan moral, dan mementingkan diri sendiri.

Seharusnya manusia lebih takut terkena bala’ maknawi daripada mengalami bala’ lahiriah seperti yang terjadi di Aceh. Karena bala’ maknawi akan membawanya ke neraka sedangkan bala’ lahiriah justru akan menjadi pembuka pintu surga jika ada iman dan sabar. Namun, jangankan takut kepada bala’ dari Tuhan yang bersifat maknawi, bala’ lahiriah yang beruntun menghantam negeri ini saja tidak membuat manusia negeri ini takut. Manusia masih sombong, merasa dapat mengatasi segala macam persoalan tanpa merujuk pada Tuhan. Merasa diri pandai, merasa diri hebat, merasa diri sebagai penyelamat dan pahlawan. Padahal julukan tersebut hanya layak untuk Tuhan. Manusia hanya boleh bersandar pada kuasa Tuhan saja. Merasa sebagai seorang hamba yang lemah hingga bertawakal hanya kepada ALLAH.

Begitu sombongnya manusia (ini pun suatu bala’ maknawi), hingga Tuhan perlu datangkan bala’ lahiriah yang begitu dasyat untuk kembali menyadarkan manusia agar kembali merasa lemah di hadapan Tuhan. Semoga manusia bisa sadar dan banyak bertaubat. Bukankah ALLAH telah menjanjikan jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka ALLAH akan membuka keberkatan dari langit dan bumi? Marilah kita penuhi perjanjian dengan ALLAH itu. Marilah kita kembali merujuk pada Tuhan. Kenal, cinta, dan takut hanya kepadaNya.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer