Khudhuk

Submitted by admin on Sat, 2007-12-22 13:24

Yang saya baca dari kitab "Qomi'utthughyan (Pemberantas Kelacutan)" pembahasan yang Bapak berikan itu justru di-hierarki-kan ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan yang paling rendah adalah tingkatan yang menyerahkan dirinya dinisbatkan pada ketergantungan seorang bayi terhadap ibunya. Sedangkan tingkatan yang paling bagus adalah orang yang menyerahkan dirinya dinisbatkan pada mayat yang dimandikan oleh orang yang masih hidup. Nah, saya lupa tingkatan yang diantara kedua itu Pak, apakah Bapak ingat?? Atau memang cuma dua tingkatan.... Ah, jadi mesti buka kitab lagi nih... Wah, terima kasih ya Pak kerana tulisan ini saya jadi mesti buka kitab lagi yang sebelumnya malas untuk saya kerjakan..
Salam
Jaelani

Yang penting adalah keberanian untuk mencoba berserah diri pada Allah s.w.t. Dalam prakteknya berserah diri ini adalah di bawah bimbingan seorang guru mursyid atau guru tarekat. Nah dari guru ini ada panduan-panduan praktis untuk akhirnya dapat mencapai penyerahan diri yang total.

Dalam pengalaman saya sejauh ini, teori yang tertulis buku-buku sebenarnya masih jauh dari pengalaman batin yang sebenarnya dialami. Bahasa manusia terbatas untuk menuangkan perasaan yang terjadi.

Toha (not verified)

Sun, 2011-03-13 00:32

Salam....

Kalo berserah semata2, lalu taat semata2, koq itu maseh bisa
ada lagi diwarnai pekerjaan akal. Selagi hati sanubarinya gak
berseh, selagi itulah gak ada penyerahan pasrah secara total.
Selagi penyerahan pasrahnya ngak secara total, selagi itulah
objek sembahannya adalah dinaungi bayangan ciptaan akalnya....

Maka kisah "kegagalan" Nabi Musa AS berguru dgn Nabi Khidir AS
tuh bisa dijadikan renongan dan pelajaran. Apabila Nabi Musa AS
berjaya menumpaskan Firaun, maka segala kebesaran singgahsana
tahta pemerintahan dan kekayaan Firaun jatuh ketangan Nabi Musa
AS. Maka Allah Maha Berkuasa merobah hati seseorang hamba-Nya.
Maka depan Allah Azzawajalla jangan ada lagi sikap berpura2...

Selagi maseh ada lagi bau duniawi, maseh lagi kecintaan mencari
kemegahan glamour menguasai dunia, lalu kita mengaku taat, tetapi
kita membuat penyerahan dusta pada-Nya. Sebab itu akhirnya Allah perintahkan Nabi Musa AS supaya tanggalkan kedua terompahnya dulu
kalo mahu masuk kelembah Thuwa....

Pada Nabi Khidir AS itu, ada itu "Hamba Allah Yg Beriman". Pada
kita jua ada itu Hamba tetapi Hamba kita itu maseh gak beriman.
Oleh itu carilah dahulu itu Hamba. Setelah ditemui itunya Hamba,
maka turutilah jalan2nya itu Hamba....

Allahu'alam & Wassalam.....

Add new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Filtered HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type='1 A I'> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id='jump-*'> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

PingBack