Bab 1 Mengapa Manusia Hidup

Submitted by admin on Wed, 2007-04-04 12:57

Saya setuju dengan tulisan "Mengapa Manusia Hidup" di atas. Namun, tentang ayat 56 surat Adz Dzaariyaat tersebut saya pernah mendapatkan penjelasan yang cukup menarik dilihat dari segi tafsir khususnya Ilmu Bahasa Arab. Jika kita baca redaksi aslinya di Al Qur'an kita akan menemukan kata "Liya'buduun" dalam ayat tersebut. Biasanya dalam Bahasa Indonesia sering diartikan dengan "untuk menyembah (beribadah) kepadaKu". Yang menjadi sorotan dalam hal ini adalah huruf lam-nya. Dalam bahasa arab huruf lam tersebut bisa berarti lam lil ghordi "supaya" atau "untuk" dan lam lil 'aqibat "akibat". Ulama ahli Tauhid menafsirkan ayat tersebut bahwasanya kegiatan ibadah yang ditaklifkan kepada manusia adalah "akibat" dari penciptaan Allah terhadap manusia. Berarti lam yang digunakan adalah lam lil 'aqibat bukan lam lil ghordi. Jika pehamaman ayat tersebut dengan menggunakan lam lil ghordi, maka seolah-olah Allah mempunyai tujuan "ghorod" ketika menciptakan manusia dan jin yang tidak lain tujuan itu adalah "untuk menyembah (beribadah) kepadaKu". Tentunya pehamaman itu bertentangan dengan ilmu tauhid yang menyatakan bahwa segala Af'al (perbuatan-perbuatan) Allah tidak memiliki "ghorod" atau tujuan. Jika Af'al Allah ada "ghorod"-nya tentunya Allah membutuhkan kepada sesuatu hal. Jika Allah membutuhkan sesuatu hal, maka Allah itu lemah dan itu tidak mungkin. Analoginya adalah ketika kita membuat meja "untuk" menulis. Maka kita mempunyai tujuan atau "ghorod" terhadap sesuatu hal (menulis) yang kita butuhkan.
Nah, jika kita mengartikannya dengan lam lil 'aqibat (akibat) cukup masuk akal. Pentaklifkan ibadah oleh Allah adalah suatu akibat dari penciptaan manusia dan jin oleh Allah sendiri. Ibadah yang dilakukan oleh manusia itu hasilnya akan dinikmati oleh manusia sendiri berupa pahala surga nanti di akhirat dan sama sekali Allah tidak mengambil manfaat dari ibadah tersebut. Dengan kata lain Allah tidak butuh ibadah manusia dan Allah juga tidak mempunyai bermaksud "tujuan" kepada ibadah manusia tersebut. Sesuai dengan akal bukan jika kita mengartikannya dengan lam lil 'aqibat. Itulah yang saya fahami dari penafsiran ayat Al Qur'an tersebut sesuai dengan bahasa arab. Bahasa Arab memang sulit untuk difahami dan ma'na Al Qur'an memang bisa memiliki penafsiran yang berbeda-beda juga sesuai dengan latarbelakang kemampuan penafsirnya khususnya dalam Bahasa Arab. Mudah-mudahan walaupun kita mengartikannya dengan kata-kata "kecuali untuk menyembah (beribadah) kepadaKu", tapi kita memahaminya dengan pehamaman yang benar. Hanya ingin sedikit menulis sih, mohon maaf apabila ada yang salah dan ditunggu masukannya.

Wallahua'alam
Allahummahdinaa..........
A'aadzanallahuwaiyyakum ajma'in...aamiin...

Hm...jadi inget jaman-jaman SMP pas ikutan ngaji tafsir Ibnu Kastir.
Terkadang Pak Kyai suka menerangkan maksud pemakaian huruf menurut tata bahasa Quran.
Sophisticated emang.

Memang bahasa Indonesia amat tidak memadai. Makanya orang jadi ngawur pemahamannya kalau mbaca terjemah Quran terus dia tafsirkan sendiri tanpa punya ilmu alat yang berupa ilmu tata bahasa Arab.

Tak semua orang Allah bagi kemampuan mentafsir Quran. Selain ilmu alat harus lengkap (nahwu, sorof, mantik, nasih mansuh, dll) juga perlu dibantu ilham. Sehingga apa yang dipahami dari Al Quran itu bisa DIAMALKAN.

Membaca Quran itu SUNNAH, tetapi mengamalkan Al Quran itu WAJIB.

beruntunglah kita ketika bisa menemukan seorang guru mursyid yang tidak saja mampu memberi kita kepahaman mengenai Al Quran tetapi juga memberikan contoh mengamalkan Al Quran.

Duhai hamba,

Apakah yang dimaksud dengan urusan akhirat dan apa pula urusan dunia ?

Apakah perbedaan kedua urusan ini ?

Apakah perbuatan yang disebut ibadah dan bukan ibadah ?

Garis-garis terilhat dalam wajah
adakah gerangan gurunya
guru terbaik pengalamnya
tak ada yg menolak ini
namun berguru pada Rosululloh adalah harapan
Hanya DIA yang meng-anugrahkan

Best Regards
erawan

DUNIA yang nampaknya hebat
Cantik dan indah mempesona setiap manusia
Kita manusia saja yang merasa cantik dan indah
Pada Tuhan tidak ada nilainya sekalipun senilai debu
Atau senilai sebelah sayap nyamuk
Kalau dunia ini ada nilai pada Tuhan walaupun seberat debu
Nescaya Tuhan tidak akan memberinya kepada orang kafir
Begitu juga kalau orang Islam
Di waktu taat Tuhan beri, di waktu durhaka Tuhan tarik
Adakalanya Tuhan beri, adakalanya Tuhan tahan
Nescaya parahlah manusia ini
Tapi pada Tuhan, dunia sedikit pun tidak ada nilai di sisi-Nya
Orang kafir pun Allah Taala beri makan
dan berbagai-bagai nikmat lagi
Bahkan adakalanya orang kafir lebih banyak diberi daripada orang beriman
Begitulah nilai Tuhan terhadap dunia
Oleh karena dunia ini tidak ada nilainya di sisi Allah
Tuhan menyuruh kita berilah dunia ini nilai Akhirat
Jadikan dunia ini jambatan ke Akhirat
Jual dunia ini untuk beli Syurga
Kalau tidak begitu, dunia ini tidak ada harga
Dunia ini kalau tidak dijadikan Akhirat
Kita hidup sia-sia, dunia akan binasa
Kalau kita gunakan dunia untuk Akhirat
Dunia sudah ada nilai Akhirat,
ia kekal abadi di sana

setuju, mentafsir Al Qur'an pekerjaan serius, perlu hati yang bersih. Untuk menentukan pilihan hidup saja kita disunnahkan melakukan cara ghaib, yaitu shalat istikharah. Apalagi mentafsir Al Quran, memang perlu ilham yang hanya datang pada orang yang hatinya sudah sangat bersih.

Add new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Filtered HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type='1 A I'> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id='jump-*'> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

PingBack