warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

07 Pemanfaatan Sains Yang Selamat Dan Menyelamatkan






Untitled Document



Disampaikan oleh Dr. Ing. Gina Puspita pada Seminar Menyongsong Tahun Baru Hijrah 1424
Di Islamic Center Serang, Banten Indonesia, 9 Maret 2003

1. Sains dalam pembinaan Peradaban Material

Pesatnya perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin terasa dari hari ke hari. Banyak hasil dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang tadinya diluar angan-angan manusia. Contohnya : penyampaian informasi yang dahulu perlu waktu hingga berbulan-bulan, kini dengan adanya telepon, facsimile, internet, dapat sampai ke tujuan hanya dalam beberapa detik saja. Selain dalam bidang komunikasi, perkembangan dalam bidang lainpun seperti material, bioteknologi, dll tidak dapat kita nafikan.

Kita mengakui bahwa sains memang telah ambil peranan penting dalam tamadun atau peradaban material. Penemuan-penemuan sains telah memberikan bermacam-macam kemudahaan, mulai dari air yang cukup dengan memutar/menekan kran telah menggantikan sumur, yang kadang perlu dicari jauh dari rumah. Perjalanan yang dulu perlu ditempuh berbulan-bulan, sekarang dapat ditempuh hanya beberapa jam saja dengan pesawat terbang, hinggalah penemuan-penemuan lain yang sangat membedakan cara hidup manusia zaman sekarang dibanding zaman dulu.

Sebenarnya semua ini adalah nikmat, anugerah dari Tuhan yang patut manusia syukuri. Tetapi kelihatannya, semakin maju manusia, semakin sains berkembang, semakin sedikit manusia yang bersyukur. Malah kejahatan di kalangan manusia bertambah kejam. Adakalanya manusia bukan seperti manusia lagi, karena sudah hilang kemanusiannya. Sebagai bukti cukup besar yaitu dengan adanya kloning manusia baru-baru ini. Dimana manusia tidak dilahirkan atas 'pertemuan' lelaki dengan perempuan, tapi atas percantuman sel yang diambil dari salah satu bagian tubuh manusia. Manusia sudah seperti buta dengan peringatan Tuhan. Padahal sebelum kloning manusia, kloning yang dibuat pada hewan (domba), telah berkali-kali mengalami kegagalan. Hasil kloning baru didapat setelah lebih dari 200 kali percobaan. Dan hasil kloning itupun tidak dapat bertahan hidup lama karena penyakit gen dan ketuaan yang terlalu dini.

Terimakasih pada Tuhan yang menurunkan agama Islam sebagai petunjuk, dimana manusia dilarang untuk berkawin dengan keluarga dekat karena diantaranya dapat menimbulkan berbagai penyakit. Dapat dibayangkan bila makhluk dijadikan dari sel bagian tubuhnya sendiri, tak heran akan timbul berbagai penyakit lebih parah lagi. Itu mungkin sebabnya walau sudah diberitakan adanya kloning manusia, tetapi tidak pernah dipublikasikan foto bayi dari hasil kloning tersebut. Tidak mustahil bahwa itu karena ada kecacatan atau penyakit lain lagi. Atau mungkin tidak berhasil atau bayi tersebut sudah tiada. Itu baru dari sudut fisikal, yang dapat menimbulkan penzaliman, karena bisa cacat, berpenyakit dan lain-lain, belum lagi penzaliman bathiniah seperti masalah nasab. Namun begitulah manusia, ingatan dari Tuhan tidak dijadikannya sebagai pengajaran, hingga bukan saja sudah hilang pri kemanusiaanya, bahkan pri 'kedombaannya' pun sudah tak ada.

Yang lebih menyedihkannya lagi, masih dengan contoh yang sama, ilmuwan-ilmuwan yang menjalankan kloning ini percaya bahwa manusia yang pertama pun hasil kloning dari makhluk angkasa luar. Bagi mereka Tuhan tidak ada. Padahal mereka belum dapat membuktikan adanya makhluk angkasa luar dan merekapun tidak dapat membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Ya Allah, begitulah nampaknya jika manusia menuhankan ilmunya, maka ia dapat diperbudak oleh ilmunya, sehingga dalam bergelimang ilmu, manusia jadi macam manusia bodoh. Kalaulah manusia sebagai hasil kloning makhluk angkasa luar, lalu siapa yang membuat kloning manusia angkasa luar itu?

Itu salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang cukup menyedihkan. Tentu kita inginkan sains yang Tuhan sudah berikan pada kita dapat kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan cara selamat dan juga menyelamatkan manusia dan seluruh makhluk. Sebagai manusia tentu kita menginginkan kebahagiaan. Begitu juga kita mengharapkan agar sains ini dapat kita gunakan untuk kemaslahatan manusia tanpa harus memberikan mudharat kepada manusia.

Mengapa dengan semakin berkembangnya sains tetapi manusia semakin jauh dari ketenangan dan kebahagiaan? Tentu ini bukan karena sains adalah sesuatu yang mesti dibuang. Sebenarnya yang menjadi masalah pada dunia dari dulu sampai sekarang bukan karena sains tersebut yang awalnya netral, bukan juga karena material-material yang sudah wujud, seperti batu, besi, perak, timah atau hasil buatan manusia seperti mobil, sepeda dan lain-lain. Bukan juga karena benda-benda yang ada di alam seperti buah, tanaman. Tetapi yang menjadi masalah adalah pada manusianya. Bila manusia yang menjadi masalah, maka benda-benda hasil usaha manusia tadi akan menjadi masalah. Contohnya anggur, yang merupakan hasil alam. Anggur tidaklah menjadi masalah, tapi dapat menjadi masalah bila manusia berhadapan dengan manusia yang jahat. Dibuatlah anggur menjadi arak. Maka timbullah masalah. Yang salah tentulah bukanlah anggurnya.

Sebab itu masalah utama yang perlu dibaiki adalah 'manusia'nya. Manusia sudah tidak ada 'rasa hamba'. Jadi sebelum kita membahas peranan sains dan cara memanfaatkannya, terlebih dahulu kita bahas tentang peranan manusia.

2. Peranan Manusia di Dunia

Mungkin pembaca merasa aneh atau baru mengenal istilah rasa hamba ini. Hal tersebut normal terjadi karena rasa hamba tidak pernah dibahas oleh manusia di dalam sains politik, ekonomi, bahkan dalam sains psikologi sekalipun. Karena semua sains itu hanya berkait dengan hal fisik manusia atau keperluan luar dan lahiriah manusia. Sebenarnya selain sains-sains tersebut, manusia memerlukan satu sains yang menjadi pelengkap sains-sains yang digunakan dalam kemajuan material. Buktinya, banyak ahli-ahli sains walaupun membuat kemajuan yang banyak tetapi mereka menjadi manusia-manusia yang kecewa, putus asa, bahkan tidak kurang yang bunuh diri. Sebenarnya selain unsur fisikal, akal, pada diri manusia ada unsur lain yang juga sangat penting yaitu unsur perasaan, yang disebut ruh atau jiwa. Jika untuk kemajuan material yang dapat dilihat oleh mata, difikir oleh akal, manusia pun memerlukan sains yang canggih, apalagi untuk dapat menguasai perasaan, memajukan ruh tentulah diperlukan satu sains yang juga canggih dan teramat penting yaitu sains rohaniah atau spiritual science.

Seperti yang disebutkan didalam Al Qur'an yang menjadi sumber dari sains rohaniah, Tuhan mengutus manusia ke dunia dengan dua peranan, yaitu :

1. Sebagai hamba Allah

surat:51 ayat:56

Artinya: "Tidak Aku jadikan jin dan manusia itu melainkan agar mereka beribadah kepadaKu." (Ad Dzariat: 56)

2. Sebagai khalifah Allah
Firman ALLAH:

surat:2 ayat:30

Artinya : "Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di muka bumi ini." (Al Baqarah: 30)

Yang dimaksud dengan peranan sebagai hamba, bukanlah sekedar manusia tahu bahwa dirinya hamba. Mengetahui saja bahwa diri adalah hamba, tidak cukup. Yang lebih penting dari itu adalah manusia mesti bersifat hamba. Adalah satu kewajiban bagi manusia untuk mempunyai rasa hamba. Jadi siapa yang menghilangkan sifat kehambaan nya dia telah melakukan kesalahan yang besar. Diantara sifat-sifat hamba itu ialah manusia mesti berakhlak seperti akhlak seorang hamba, bersikap sebagai seorang hamba. Dia mestilah bersifat malu, menyerah diri dengan Tuhan, merujuk kepada Tuhan, redho dengan Tuhan, sabar takut dan cinta Tuhan, membesarkan Tuhan, mensucikan Tuhan dari berbagai macam syirik, memuji Tuhan, dll. Inilah yang dimaksud dengan peranan hamba. Jadi dari peranan hamba ini bukan saja manusia tahu bahwa dia seorang hamba tapi hendaklah dia bersikap sebagai seorang hamba.

Peranan sebagai hamba, yaitu merasakan diri sebagai hamba, adalah sangat penting selain untuk manusia itu sendiri sebagai individu, tapi juga sangat penting dipunyai untuk dapat memainkan peranan kedua yaitu sebagai khalifah Allah. Rasa hamba itu mesti ada dan sangat penting, supaya ketika dia melaksanakan peranan ke dua, untuk mentadbir dunia, mengatur dunia, mengimarahkan dunia, memajukan dunia, memakmurkan dunia, menyelamatkan dunia, mengamankan dunia, mengharmonikan dunia, dia akan mentadbir, mengatur dan memerintah dengan baik. Semua ini tidak mungkin terjadi, bila tiada sifat-sifat hamba. Ini ada hubungan dengan sikap-sikap hamba, seorang hamba mesti mengekalkan sifat hamba.

Jika seorang hamba Tuhan itu memainkan peranan yang kedua untuk menjadi khalifah di bumi, contohnya ada yang jadi pemimpin, ada yang bertugas di bagian pendidikan, ekonomi, pembangunan, kebudayaan, dan sebagainya, dimana sifat kehambaan itu tidak dapat dikekalkan, maka dia akan zalim di bidangnya. Kalau dia pemimpin, dia zalim, kalau dia mengatur ekonomi, dia akan zalim di bidangnya. Begitu juga di bidang pendidikan, dibidang kebudayaan, dia akan zalim. Mengapa terjadi demikian?

Bila seseorang tidak ada sifat kehambaan lagi, maka lahirlah sifat-sifat ketuanan : sifat ego, sombong, pemarah, rasa diri tinggi dan lain-lain. Kalau khalifah bersikap seperti itu maka manusia akan mendapat kesusahan. Bukan sampai disitu saja efeknya, tapi iapun pasti mendapat reaksi dari orang lain, yaitu dari pihak yang ditadbir.

Maka akan terjadilah konflik diantara dua golongan, yaitu :
1. golongan yang mendapat kuasa di bidang masing2
2. golongan lain yang lebih banyak, yaitu golongan yang ditadbir

Bila terjadi konflik antara 2 golongan ini maka hilanglah kasih sayang, hilanglah perpaduan, hilanglah kebahagiaan dan keharmonian.

Sebab itu hamba mesti mengekalkan sifat kehambaan, supaya ketika ia menjadi khalifah di bidang masing-masing maka dia dapat benar-benar berperanan sebagai khalifah Tuhan. Tapi kalau sifat hamba telah hilang, bagaimana dia dapat menjadi khalifah Tuhan. Orang yang tidak ada rasa hamba, bila semakin besar kuasanya, maka akan semakin besar sombongnya. Sombong itulah yang akan diledakkan kepada golongan-golongan yang lemah. Ataupun kalau ada golongan yang kuat seperti dia, dia bimbang, takut-takut mereka datang menguasainya, maka mereka akan menyerang, seperti yang Amerika buat pada Irak dan dunia. Pada Irak dia buat secara kasar, pada negara lain dia buat secara lembut, sabotase, karena dia berhasrat untuk menguasai dunia. Begitulah hamba yang sudah tidak ada rasa hamba lagi.

Setelah kita fahami peranan manusia, yaitu sebagai hamba dan khalifah, pertanyaan berikutnya adalah apakah peran sains menurut Islam?

3. Peranan Sains Menurut Islam

Sebenarnya, bukan saja sains dan teknologi yang Tuhan ketahui. Karena Tuhan hendak menjadikan manusia ini sebagai hamba dan menjadikan khalifah mentadbir dunia maka Tuhan tahu apa yang mesti dibekalkan. Jadi Tuhan datangkan manusia ke dunia bukan dengan tangan kosong. Tapi Tuhan siapkan khazanah, aset kekayaan baik itu yang bersifat material atau pun berupa ilmu, sains. Supaya khazanah-khazanah dan kekayaan itu, segala kepandaian itu yang Tuhan izinkan manusia menguasainya, dapat digunakan untuk hamba-hamba Allah juga. Supaya dibagi-bagikan, supaya dimanfaatkan untuk hamba-hamba Allah, supaya benda-benda itu dikhidmatkan kepada manusia.

Jadi melalui peranan hamba dan khalifah tadi dengan kekayaan, bahan-bahan, aset-aset, yang diberikan Tuhan, merekapun memanfaatkan untuk seluruh manusia. Maka akan timbullah kasih sayang diantara manusia yang ramai dan lemah ini supaya manusia yang sedikit dan kuat itu dapat memberikan khidmat dan manfaat. Maka terjadilah kasih sayang antara 2 kelompok, hidup harmoni dan bahagia. Jadi soal sains dan teknologi berdiri sendiri. Tuhan jadikan semua itu sebagai alat, sebagai perhubungan supaya lahir kasih sayang antara sesama manusia.

Namun, manusia, yang memang pun dijuluki 'insan', yang artinya pelupa, kebanyakan manusia lupa bahwa alat-alat tersebut, baik berupa ilmu, material, Tuhan berikan untuk dijadikan alat kasih sayang. Padahal Allah yang Maha Pengasih, Penyayang, sentiasa mengingatkan manusia sekurang-kurangnya 5 kali sehari semalam, di akhir ibadah asas penghambaan manusia pada Tuhan, yaitu sholat, Allah ingatkan manusia untuk memberi salam ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Seolah Tuhan ingatkan, 'Lepas ini buktikan penghambaan engkau kepada Ku dengan cara bekhidmat, menebarkan kasih sayang ke seluruh makhluk dengan menggunakan bekalan yang Aku beri.'

Malangnya manusia pun sering kalah dengan makluk lain dalam memanfaatkan bekalan yang Tuhan beri. Walaupun seorang saintis sekalipun. Kalau kita melihat burung, sejak dalam telur lagi Tuhan tahu apa kebutuhan burung. Bila sudah cukup lengkap alat-alat anggota tubuhnya, Tuhan ilhamkan pada burung itu untuk menetas. Bukan itu saja, Tuhan lengkapkan juga keadaan sekitar untuknya. Misalkan dijadikan adanya kasih sayang induk pada burung, hingga sebelum burung dapat mencari makan sendiri, si ibu akan pergi mencari makan dan kembali ke sarang nya tanpa pernah salah dimana letak sarangnya! Kita tidak dapat bayangkan kalau Tuhan tidak lengkapkan ini, maka matilah anak burung sebelum dapat menjadi besar. Setelah itu tidak lama kemudian, sayap yg tadinya basah lama-kelamaan menjadi kering, kemudian dia coba-coba untuk terbang. Aneh, berbagai cara burung terbang. Dia tahu sayap nya sesuai untuk jenis terbang yang seperti apa. Ada yang take off secara vertikal, ada yang perlu berlari-lari kecil dahulu, dan lain-lain. Sedangkan burung tidak belajar di 'sekolah'. Siapa yg mengajarkan mereka dengan begitu hebat? Sedangkan bermilyar-milyar burung dalam waktu bersamaan, sedang belajar. Patutnya itupun sudah cukup membuat seseorang tersungkur dihadapan Tuhan. Tapi betapa malangnya manusia, yang katanya sainsnya tinggi, teknologinya canggih, riset puluhan tahun untuk membuat pesawat dengan meniru burung terbang, tidak sampai kepada rasa bahwa ada yang Maha Hebat yaitu Tuhan.

Kalau diambil contoh yang sangat mudah, seorang ibu bila melahirkan anak akan dilengkapkan dengan ASI. Tetapi karena hendak menjaga 'body', seorang ibu, bahkan ada yang saintis, tidak pun mau menyusukan anaknya. Akhirnya banyak yang timbul penyakit, juga kasih sayang ibu dan anak tidak menjadi subur bahkan mati. Kalaulah dia berprilaku sebagai hamba, ia akan bertanya pada Tuhan, bagaimana mengunakan alat-alat untuk menjaga anaknya. Bila rasa hamba tiada, jangankan hendak menjadi khalifah bagi orang lain, kepada anak sendiripun kasih sayang tidak menjadi perhatian baginya. Kalaulah rasa hamba ada pada seseorang, maka dia akan merasa bahwa dirinya adalah hak Tuhan. Sains juga adalah hak Tuhan. Maka dia akan gunakan sains dan dirinya menurut apa yang Tuhan kehendaki.

Begitulah pentingnya rasa hamba pada manusia. Bila rasa hamba sudah tiada, maka dia akan sombong, zalim, menyalah gunakan kuasa. Segala kekayaan ilmu, khazanah sains dan ekonomi yang Tuhan bagi yang patutnya digunakan untuk kasih sayang, dia akan ambil kepentingan diri. Jadi alat-alat yang Tuhan bagi itu bukan untuk Allah lagi dan bukan untuk manusia tapi untuk kepentingan diri dan monopoli. Akhirnya jadi manusia yang sombong. Inilah yang berlaku sejak dunia ada. Sombong sampai saat ini. Jarang seorang hamba dapat mengekalkan sifat hamba. Jika tidak dapat mengekalkan sifat hamba, bila mereka menguasai pentadbiran atau pemerintahan, maka mereka menyalah-gunakan kuasa, akhirnya mereka akan menyalah gunakan alat-alat yang Tuhan bagi.

4. Rasa Hamba Kehebatan Saintis

Dari uraian di atas, jelaslah bagi kita bahwa jika hanya karena seseorang itu orang yang pandai, ahli sains, orang kaya, orang yang berkuasa, orang yang berpendidikan tinggi, atau yang mendapat penemuan-penemuan sains, kita tidak bangga dengannya. Yang kita bangga kalau dia memiliki rasa hamba dan dapat mengekalkan sikap hambanya itu. Bila dia jadi pemimpin atau berperan di berbagai bidang dan dapat mengekalkan sifat hambanya, barulah dia dapat dibanggakan. Kalau pemimpin ada sifat hamba, dia tidak akan menyalah gunakan kuasa dan dia tidak akan menyalah gunakan alat-alat yang Tuhan bagi bahkan ia akan turut berperan serta dalam melahirkan keamanan, kedamaian, dan keharmonian.

Malangnya yang terjadi justeru sebaliknya. Dengan ilmu dan kuasanya, manusia jadi lebih kejam dari pada yang tidak ada ilmu. Yang berkuasa menyalah gunakan kuasanya. Untunglah kita tidak kuat seperti amerika. Kalau kita kuat seperti amerika, sedangkan rasa hamba tidak ada, maka kita akan kejam seperti amerika juga. Waktu kita lemah, amerika kuat dan menyalah gunakan kuasa, kita katakan amerika zalim. Kalaulah kita kuat dan kitapun tidak ada rasa hamba, maka kejadiannya akan sama, amerika akan kata kita zalim.

Negara-negara Non blok yang sudah bersidang marah dengan amerika. Coba kita bertanya pada mereka. Kalau mereka kuat seperti amerika, apakah mereka tidak akan menyerang amerika? Jangan-jangan mereka akan jajah amerika. Apa bukti bahwa kalau mereka kuat seperti amerika, mereka akan berkhidmat pada dunia? Jangan-jangan jadi lebih jahat dari pada Amerika. Setengahnya baru saja berkuasa di satu negara, sudah zalim pada rakyat, walaupun dengan mengatasnamakan keadilan. Kalau kekuatannya lebih besar lagi, bisa jadi menyerang negara lain, sebab rasa hamba tiada. Bila rasa hamba tiada, bukan saja dia rasa tuan. Yang lebih parahnya lagi, dia akan rasa diri Tuhan.

Mengekalkan rasa hamba bukanlah satu tugas yang mudah. Ini lebih sulit daripada menemukan ilmu-ilmu. Oleh karenanya, untuk mengembangkan sains dan teknologi, Tuhan tidak perlu mengutus nabi dan rasul. Bahkan orang tidak kenal Tuhan pun Tuhan beri juga. Tapi untuk mendapatkan rasa hamba yang memang sangat diperlukan manusia, Tuhan turunkan Nabi dan Rasul.

Itulah kasih sayang Tuhan yang amat besar pada manusia, mengutus nabi dan rasul untuk mendidik manusia agar mendapatkan rasa hamba. Manusia yang sudah tidak ada rasa hamba, sebenarnya dia berada dalam kesalahan. Dosa setiap saat ditulis bila tak ada rasa hamba. Betapalah berdosanya bila satu hari, 1 bulan, 1 tahun tidak ada rasa hamba. Ini adalah salah satu sains rohaniah yang banyak manusia sudah melupakannya. Padahal manusia diperintahkan untuk mengekalkannya. Oleh karenanya sejak zaman Rasul SAW, setelah khulafaur rasyidin tiada, kita sudah kehilangan orang-orang seperti ini. Kita rindu dengan orang yang digelar barruharahim. Yang pengasih dan peyayang.

Sejarah telah membuktikan bagaimana sahabat-sahabat itu membuat orang_orang kafir masuk Islam. Adakah ini karena orang kafir kagum dengan ilmu, sains dan teknologi para sahabat? Padahal sahabat tidak tahu lagi ilmu-ilmu sains yang canggih-cangguh. Sebab waktu itu Arab belum maju seperti Romawi dan Parsia. Tetapi orang masuk Islam. Bukan karena kagum dengan ilmu, sains dan teknologi, tapi karena faktor taqwa. Sahabat-sahabat yang pergi ke cina, cuma dua atau 3 orang saja. Waktu itu Cina sudah maju. Orang Cina masuk Islam waktu itu bukan karena ilmu, sains dan teknologi para sahabat, bahkan para sahabat belum lagi tahu bahasa Cina, tetapi masyarakat tertarik dengan akhlak sahabat. Sekarang banyak saintis Islam di dunia bahkan sudah ada yang mendapat hadiah Nobel. Sudah berapa banyak orang masuk Islam karena sains mereka? Sekarang bukan saja dengan saintis orang tidak tertarik dengan Islam, bahkan karena belajar sains ada yang hingga terganggu keislamannya. Karena terlalu membesarkan sains, ada seorang pelajar berkata : Tuhan tidak buat kapal terbang, amerika buat kapal terbang. Sudah banyak yang syirik karena sains. Padahal sains hanya 1 juzuk kecil dalam kehidupan manusia. Kita mesti memanfaatkan sains supaya manusia semakin takut dengan Allah dan dapat mentadbir dunia modern supaya orang takut dengan Allah.

Patutnya para saintis merekalah orang-orang yang paling takut dengan Allah. Tapi karena hal itu tak terjadi, maka berapa banyak ingatan dari Tuhan yang Allah datangkan dengan menggunakan hasil teknologi manusia sendiri. Bencana-bencana yang tidak pernah terjadi sebelum ini. Di USA mudah saja Allah hancurkan kota-kota.

5. Jadikan Saintis yang Berjaya Sebagai Teladan

Karena kita adalah hamba dan khalifah Tuhan, dan sains itu juga hak Tuhan, maka untuk menjadi saintis yang berjaya, manusia mesti mengambil tolok ukurnya orang-orang yang Tuhan telah pilih menjadi saintis yang berjaya. Saintis terbesar selama dunia ini ada tentulah Rasul Muhammad SAW. Rasul SAW, dengan sains rohaniahnya telah 'memalaikatkan' manusia tetapi saintis sekarang kebanyakan telah 'menghewankan' manusia.

Saintis Islam, atau Ulil Albab, mesti mengintegrasikan sains dengan rasa bertuhan. Dalam Al Quran Allah berfirman, artinya:

surat:3 ayat:191

'(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi….' ( Al Imran ayat 191 )

Dengan ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk mengingati Allah dahulu di waktu berdiri, duduk, bahkan berbaring. Setelah itu barulah disuruh berfikir dan mengkaji.

Dengan kata lain, ahli sains akan selamat dan menyelamatkan jika ia mula dengan menanamkan rasa bertuhan, rasa kehambaan, baru setelah itu berfikir dan mengkaji. Kalau tidak, hasil kajian itu akan jadi tuhannya dan ia akan rosak dan merosakkan. Begitulah ahli sains Islam.

Lihatlah bagaimana Rasul datang memberi contoh kepada manusia, yaitu diawali dengan menajamkan roh para sahabat, artinya mendidik para sahabat hingga memiliki sifat taqwa. Dalam Al Quran Allah berfirman yang maksudnya takutilah Allah, nanti Allah akan ajar kamu. Jadi menajamkan roh adalah dengan bertaqwa. Bila roh tajam atau mempunyai sifat taqwa maka akan dapat mencerahkan akal. Roh kuat, akal pun kuat. Tapi jika berawal dari akal, maka bisa jadi roh akan bertambah buta. Kalau dari akal semata-mata, mungkin cerdik tapi dia akan tersesat.

Jadi mesti berawal dari roh, sebab itu tidak akan sesat. Roh yang akan mengontrol. Buktinya kalaulah Rasulullah SAW datang pada bangsa Rom dan Parsi, nanti orang akan mengatakan Rasulullah tidak mampu mencerdaskan manusia sebab dia turun pada kaum yang sudah maju. Orang akan mengatakan Rasulullah hanya mampu memperkenalkan Tuhan tapi tidak mampu buat kemajuan.

Rasulullah SAW diturunkan bukan saja pada bangsa yang terbelakang, bahkan tulis baca pun tidak tahu. Tapi dengan datangnya Rasulullah SAW mereka bukan saja menjadi bangsa yang akhlaknya luar biasa, tapi akalnya terbuka, lahir bermacam-macam ilmu. Itulah hasil menajamkan roh. Di samping manusia berakhlak tinggi, kemajuan pun tinggi. Kalau hanya pandai, tapi roh tidak dibangun maka akan seperti hewan atau syaitan. Kepandaian disalah gunakan, seperti orang jahat dapat senjata.

Nabi Sulaeman ketika melihat ahli sainsnya berjaya memindahkan istana Ratu Balqis dalam sekelip mata, ia bertanya pada dirinya, Ya Allah akankah aku syukur atau kufur atas nikmatMu ini? Ini seoarang nabi, begitu cemasnya mendapatkan suatu anugrah dari Tuhan. Apalagi manusia biasa setiap kali mendapatkan sesuatu yang baru dari Tuhan, patutnya lebih cemas lagi dari itu.

Contoh saintis lain yang dapat dijadikan teladan adalah Imam Ghazali, Mimar Shinan. Mimar Shinan, dari Turki adalah juga seorang wali. Berbagai bangunan dan masjid yang dibinanya lebih dari 500 tahun yang lalu sangat menunjukkan betapa hebatnya Kuasa Tuhan yang dapat memberikan ilmu-ilmu yang luar biasa pada orang yang kuat hubungannya dengan Tuhan. Di saat gempa bumi di Turki, tahun 2000, puluhan ribu orang mati, ratusan bangunan runtuh, tapi berbagai bangunan dan masjid karya Mimar Shinan masih tetap tegar berdiri. Dalam pembangunan mesjid tersebut Tuhan Ilhamkan berbagi aplikasi teknologi : aerothermik, sipil, acoustik dan kimia, dimana formulanya sendiri baru dapat ditemukan pada abad 20. Sedihnya orang Islam memuja saintis barat padahal mereka hanya menemukan formulanya saja dan belum ada saintis barat yang dapat membuat bangunan dengan arsitektur seperti yang telah dibuat oleh Mimar Shinan.

Bila tidak paham kedudukan sains, manusia sering memandang hebat para saintis yang membuat kajian hingga menemukan sesuatu. Sedangkan mereka tidak merasa kehebatan Tuhan. Padahal apalah istimewanya. Para saintis mengkaji dan menemukan benda yg memang sudah ada dan wujud. Sebab benda nya sudah wujud, seolah dia mencari dan menemukan barang yang hilang, apalah hebatnya. Adakah para saintis mengadakan makhluk yang tadinya tidak wujud, misalnya kumpulkan ahli sain sedunia untuk membuat katak, tapi bukan dari benih katak yang sudah ada. Yang tadinya tidak ada kemudian mampu diwujudkan, misalnya membuat sebiji pasir. Nyatalah bahwa mereka selama ini hanya menemukan tapi kemudian bangga dengan penemuannya dan lupa dengan Tuhan. Mampu membuat robot, tapi kemudian lupa bahan-bahan robot itu berasal dari mana. Kalau dia boleh buat bahan itu baru hebat.

Sepatutnya semakin banyak penemuan-penemuan yang Tuhan berikan, manusia semakin bertambah rasa bertuhan dan rasa kehambaannya. Semakin tersungkur dengan Tuhan.

5. Kesimpulan

Akhirnya, dari uraian di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Secara umumnya ahli sains atau cerdik pandai, semakin dia pandai semakin cerdik tentang dunia, maka akan semakin bodoh dengan Tuhan.
  2. Ahli sains semakin dia dapat penemuan-penemuan, semakin dia membesarkan diri dan membesarkan hasil penemuanya, maka ia semakin melupakan kebesaran Tuhan. Yang lebih rusak lagi dia semakin tidak yakin dengan adanya tuhan
  3. Semakin banyak kemajuan yang dihasilkan oleh ahli sains, ia semakin kufur dengan nikmat tuhan. Artinya dia syukur dengan dirinya, merasa dirinya yang menghasilkan hingga kufur dengan Tuhan
  4. Kalau akal saja diasah, walau orang pandai sekalipun, tetapi melupakan hal-hal rohaniah, maka semakin banyak kemajuan yang dibuat, hanya berjaya memajukan dunia, tetapi tidak mampu menyelamatkan dunia. Kadang dengan hasil sains itulah dia merusakkan dunia
  5. Di sini baru kita paham, supaya hasil kemajuan yang didapat selamat menyelamatkan manusian, mesti digabungkan antara ilmu wahyu dan akal, barulah selamat menyelamatkan.
  6. Kalau orang hanya bersandar pada ilmu wahyu semata-mata, ia hanya mempertajamkan rohaniah menafikan akal, mundur di dunia, maju di akhirat. Di dunia kehidupannya susah, tapi dia akan mendapat keselamatan di akhirat
  7. Yang bersandar semata-mata pada akal dan menafikan wahyu, maka mungkin mereka maju di dunia tapi tidak selamat di akhirat
  8. Orang yang paling bahagia, paling aman harmoni, yang selamat menyelamatkan, adalah orang yang menggabungkan wahyu dan akal, menggabungkan rohaniah dan akal. Inilah orang yang menang dan berjaya
  9. Orang yang hanya bertunjangkan akal saja maju bagaimanapun akan tersesat bila tanpa wahyu. Agar manusia mempunyai akal yang terpimpin hingga kemajuan itu dapat dimanfatkan, mestilah orang kenal tuhan dulu.
  10. Kalaulah tujuan Tuhan wujudkan dunia dan manusia ini untuk kemajuan, cukuplah ahli fikir dan filsafat saja, tidak perlu Tuhan mengutus Rasul Nabi. Manusia perlu keselesaan hidup. Tapi hendaklah dari kemajuan itu akan melahirkan kehidupan aman damai, harmoni, tidak ada ketakutan. Sebab itu diutus Rasul. Ahli fikir hanya dapat membuat kemajuan saja. Hendak aman damai, inginkan harmoni, kasih sayang, mereka tidak dapat membuatnya. Bahkan sadar atau tidak, merekalah yg menghuru harakan dunia hari ini
  11. Diantara dua tokoh, tokoh rohani dan tokoh kemajuan, yang tercatat dalam sejarah yang banyak diuji adalah tokoh rohani. Rasul, nabi, kadang kadang mereka berjuang tidak mendapat kejayaan, tetapi tidak ada Rasul yang bunuh diri. Tapi tokoh kemajuan material, banyak yang dalam membuat kejayaan dia bunuh diri. Artinya dia gagal dalam kejayaan. Sedangkan para Rasul, tidak ada yang bunuh diri. Kalau berjaya lagilah. Seperti Nabi Sulaeman, Rasulullah SAW. Begitu hebatnya Rasul-rasul, kadang usahanya gagal tapi tidak pernah kecewa dan putus asa. Sedang tokoh kemajuan material dalam berjaya dia bisa kecewa dan putus asa.
  12. Orang rohani kalau dia berjuang, dia akan mampu menundukkan ahli akal. Tapi ahli akal walau bagaimanapun cerdiknya, tidak akan mampu menundukan ahli rohani.
=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer