warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/program/lib.php on line 582.

01 Mencintai Tuhan Rahsia Keindahan Poligami






Untitled Document



Indahnya Poligami

Poligami, walaupun wujud dalam Islam tetapi ia merupakan satu perkara yang sangat terasing dan terpinggir. Seolah-olah ia tidak wujud dalam ajaran Islam. Siapa yang mengamalkannya dianggap satu kesalahan yang tidak boleh dimaafkan, dipandang serong dan dimusuhi. Bahkan dianggap lebih jahat dari pada orang yang berbuat maksiat dengan wanita atau lelaki yang bukan suami atau isterinya. Akhirnya umat Islam menentang poligami, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Tidak hanya kalangan wanita yang menentang bahkan sebagian ulama juga ikut dalam barisan penentang poligami. Ada juga ulama yang membolehkan poligami sebagai jalan keluar bagi seorang lelaki tetapi dengan syara-syarat yang sangat berat, seolah-olah poligami hanyalah layak untuk Rasulullah SAW dan para sahabat saja.

Kalaulah poligami dalam Islam ini tidak dikaji betul-betul kebaikan dan hikmahnya, maka kebanyakan manusia terutama orientalis dan orang Islam yang tidak faham, akan menganggap bahwa poligami ini tidak lain tidak bukan, hanya satu cara bagi lelaki memuaskan nafsu terhadap kaum perempuan. Maka timbullah berbagai fitnah terhadap orang yang berpoligami. Tambahan pula bila ada orang-orang Islam yang poligami mereka tidak mengikut cara poligami yang sebetulnya yang Rasulullah SWA contohkan, maka timbullah masalah dalam poligami. Antaranya, ketidakadilan, tidak membela, tinggal isteri lama dan lain-lain sehingga timbullah masalah masyarakat. Maka buruklah rupa poligami ini walaupun yang sebenarnya hikmahnya sangat besar.

Poligami jadi 'buruk' karena orang yang mengamalkannya tidak mengikut cara yang sepatutnya. Hilanglah cantik dan indahnya amalan Islam ini. Lalu bagi yang tidak faham dan juga orientalis, inilah kesempatan bagi mereka untuk menekan, mencemoohkan dan menghinanya. Di akhir zaman ini, dimana kita tidak berpeluang bertemu dengan Rasulullah dan tidak pernah hidup bersama baginda, tetapi kita diberi peluang untuk menghidupkan sunnah Rasulullah, termasuk diantaranya mengamalkan poligami. Bahkan ganjaran bagi satu sunnah yang sudah dilupakan orang ialah 100 pahala mati syahid. Malah Rasulullah pernah menggambarkan, dikala kemerosotan iman berlaku diakhir zaman, wujud sekelompok manusia bergelar ikhwan. Mereka inilah kumpulan-kumpulan yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah walaupun mereka tidak pernah melihat Rasulullah

Islam tidak memandang poligami hanya sekadar jalan keluar bagi seorang lelaki atau jalan menyelamatkan seorang wanita, tetapi ia adalah satu cara untuk mendidik para pejuang, para pemimpin, para wanita dalam perjalanannya menuju taqwa dan merupakan asas untuk membangun empire (imperium) Islam. Amalan poligami yang dirancang dalam sebuah jamaah Islam selain dapat mendidik manusia baik lelaki ataupun wanita, juga dapat menunjukkan keindahan poligami, bila ia diamalkan mengikut contoh yang telah dibuat oleh Rasulullah SAW.

Poligami sebenarnya merupakan satu proses tarbiah dan didikan yang cukup hebat. Dari poligamilah timbul kekuatan-kekuatan lain. Melalui poligami, tumbuh sifat-sifat baru pada diri kita yang dapat menguatkan kita. Contohnya berani, yaitu berani berhadapan dengan isteri bila hendak kahwin lagi, berani berdepan dengan prilaku dan perasaan isteri, berani berhadapan dengan keluarga dan masyarakat. Bahkan ampun maaf, ramai lelaki yang tidak sanggup berpoligami karena takut dengan isteri dan keluarga.

Antara sifat lain lagi yang dapat dibina melalui poligami ialah sabar. Poligami menjadi tempat latihan bersabar menghadapi bermacam-macam prilaku dan perasaan isteri. Suami akan terlatih bagaimana hendak berpsikologi, berstrategi dan lain-lain. Ini merupakan pengalaman dan pendidikan yang dapat membantu kita menjadi mantap dari segi mental dan spritual. Hati dan perasaan kita akan terproses sehingga benar-benar dapat membangunkan insaniah kita. Seolah-olah poligami ini adalah riadhah (latihan) hidup bagi akal, fisik, hati dan nafsu kita.

Poligami merupakan gelanggang ujian kepimpinan, kesabaran, mujahadah, keadilan serta kejayaannya berteraskan kemantapan keyakinan, minda, ibadah serta tujuan yang jelas dan tepat yang menjurus kepada mendapatkan redha Tuhan. Oleh itu seseorang yang berjaya melalui ujian dan tantangan poligami, yang memang sangat sulit dan sukar, baik kepada istri maupun suami, maka untuk memiliki kekuatan yang lain akan jadi lebih mudah.

Ujian kepimpinan sebenarnya bermula di rumah. Seorang suami yang berhasil mendidik serta memimpin istri-istri serta anak-anaknya di rumah untuk dibawa menuju Allah, berarti dia telah berhasil menjadikan rumah tangga sebagai platform mengasah kepimpinan. Kekuatan paling menonjol dan terpenting dalam melaksanakan poligami ialah apabila seseorang itu mampu menyatukan empat orang wanita dan hidup dalam penuh aman damai, berkasih sayang bersatu padu serta bekerjasama dalam merebut cinta Tuhan. Betapa indah dan bahagianya rumah tangga ini. Kekuatan inilah yang sudak tidak ada pada masyarakat mahupun mana-mana pemimpin didunia hari ini. Malah untuk memimpin satu isteri dan beberapa orang anak pun masih banyak orang yang gagal.

Oleh itu andainya terdapat seorang pemimpin yang terbukti berhasil dalam memimpin keluarga berpoligami, malah menjadi model serta ikutan kepada pengikut-pengikutnya yang akhirnya tercetus satu masyarakat yang berhasil membuktikan keindahan syariat Tuhan dalam poligami, maka sudah tentulah "etnik" ini mempunyai satu kekuatan luar biasa. Jika ujian poligami yang besar itupun mampu diatasi dengan berhasil, maka hal-hal lain akan menjadi mudah bagi mereka.

Bukan saja bagi suami bahkan isteri juga mendapat manfaat yang banyak dari poligami. Walaupun mereka terpaksa mengurut-urut dada, memujuk-memujuk hati, terpaksa berkorban perasaan, mereka juga akan mendapatkan berbagai kekuatan dalam menempuh ujian hidup berpoligami. Di waktu mereka sedang tidak bersama suami, itulah kesempatan bagi mereka untuk lebih mendekatkan diri dan berasyik masyuk dengan Allah, sehingga para isteri lebih terdidik untuk lebih mencintai Allah dari pada suaminya sendiri. Bila kita mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah, dapatkah cinta dan kasih sayang ini kita bandingkan dengan cinta dan kasih sayang suami yang sementara?

Cinta Tuhan kunci keindahan poligami

Poligami tidak mungkin berhasil tanpa pemangkin atau pendorong yang kuat yaitu cintakan Allah lebih dari pada cintakan manusia, harta dan dunia. Bila cinta Tuhan wujud, maka cinta pribadi akan terkikis. Kalau tidak, maka akan banyak masalah yang timbul dalam keluarga poligami seperti yang kita baca di dalam surat-surat khabar : istri pertama membunuh istri kedua, membakar rumah, bunuh diri dan sebagainya.

Hari ini umumnya manusia tidak kenal dan tidak cinta Tuhan, sekedar percaya saja bahwa Tuhan itu ada. Rasa bertuhan, tasa diawasi Tuhan tidak wujud dalam hati mereka. Bahkan orang yang mengerjakan sholat, haji, puasa, wirid juga sudah tidak ada rasa bertuhan dan kalaupun ada terlalu tipis. Karena tipisnya rasa bertuhan ini, bukan saja poligami tidak boleh diamalkan dengan aman, indah dan harmoni, bahkan kebaikan-kebaikan lainpun tidak dapat dibuat seperti : menghormati tetangga, membantu orang miskin, membantu buruh pengangkut sampah. Naik kendaraan umum berebut, di jalan raya saling berebut yang akhirnya menyebabkan kemacetan, 'yang penting aku duduk, orang lain peduli apa'. Bahkan antara ibu dan anak-anakpun masing-masing mementingkan diri.

Bila sudah manusia sudah tidak mencinta tuhan, bukan saja poligami, banyak lagi kebaikan-kebaikan tidak boleh dibuat. Kalau manusia sudah tidak cinta dan kehilangan Tuhan, padahal Tuhan itu patut dicintai, maka otomatis tidak cinta sesama manusia. Mengapa? Atas alasan apa manusia dapat mencintai orang lain yang mungkin kurang atau tidak berjasa kepada dirinya, sedangkan kepada Tuhan yang sangat berjasa pada dirinya, tidak dia cintai.

Karena itu bila sudah tidak cinta Tuhan, otomatis cinta pada sesama manusia sudah tidak murni. Akibatnya kesan negatifnya terlalu banyak. Tidak berkasih sayang, tidak pemurah, tidak amanah, tidak ada tenggang rasa, tidak ada perikemanusiaan, keadilan dan kerja sama. Kalaupun ada kerjasama bukan karena cinta, tidak ikhlas dan ada kepentingan, mungkin karena ingin keuntungan ataupun untuk menjaga harga diri. Karena itu ikatannya terlalu tipis dan dapat berpecah kapan saja.

Orang yang kehilangan Tuhan bukan saja di kalangan orang yang tidak ikut syariat, bahkan orang yang shalat pun sudah kehilangan Tuhan. Walaupun mereka banyak di mesjid, tapi sebenarnya tidak mencintai Tuhan. Sebab itulah tidak lahir kasih sayang, tidak lahir pemurah, kerja sama, bermaaf-maafan. Akibatnya di dalam masjid pun dapat terjadi pertengkaran dan perkelahian. Begitu juga dalam sebuah keluarga poligami, bila sudah kehilangan Tuhan maka akan huru haralah rumah tangga sekalipun mereka kaya, berharta, berjabatan tinggi dan terkenal.

Sebab itu dunia hari ini sudah sangat kronis. Bila cinta tidak ada, maka kasih sayang tidak ada. Sedangkan kasih sayang makanan jiwa. Bila jiwa tidak diberi makan, maka orang kaya akan gila kuasa, sakit jiwa dan tidak ada kebahagiaan. Masalah masyarakat hari ini banyak melanda orang yang bertaraf tinggi, ada kuasa, pemimpin. Antara masalah yang sering dihadapi ialah anak-anak terlibat narkotika, isteri lari, isteri tidak taat, masing-masing tidak sehaluan. Perpecahan dalam rumah tangga, baik rumah tangga poligami ataupun rumah tangga monogami begitu terlihat nyata. Walaupun ada uang, rumah besar, kedudukan tinggi tapi anak-anak berkelahi satu sama lain. Inilah akibatnya bila Tuhan sudah hilang. Bila cinta pada Tuhan sudah tidak ada, maka hilanglah cinta sesama manusia.

Bila cinta tuhan sudah tiada ada, maka hilanglah rasa kasih sayang, bertolong bantu, bertolak ansur, maaf memafkan, nasehat menasehati, lindung melindungi, dan lain-lain. Hari ini manusia bukan saja tidak mampu mengamalkan poligami yang indah bahkan sholat pun tidak sanggup atau kalau dibuatpun sekadarnya saja. Sholat tidak dijadikan medan mengadu, merintih dan berasyik ma'syuk dengan Tuhan. Bukan saja poligami yang hilang, ajaran islam yang bersifat perbuatan dalam kehidupan sehari-hari 99% sudah hilang.

Kalau kita ingin menghidupkan semula dan mengamalkan Islam sebagai cara hidup di dalam masyarakat, mesti diutamakan dahulu dengan menanam benih cinta Tuhan dalam masyarakat sehingga masyarakat fanatik dan mabuk dengan Tuhan dan RasulNya. Coba lihat sejarah Rasulullah SAW yang berjuang sebanyak 23 tahun. Perjuangannya terbagi 2:
1. Memperjuangkan Tuhan selama 13 tahun.
2. Memperjuangkan syariat Tuhan selama 9 tahun.

Padahal Tuhan Esa, sedangkan syariat Tuhan beribu banyaknya tetapi masa yang diambil untuk memperjuangkan Tuhan lebih banyak. Sebab, apa arti berjuang dan beribadah bila tidak cinta Tuhan, apa arti shalat, bila tidak cinta Tuhan. Apa arti menolong orang tua bila tidak cinta Tuhan. Padahal sayang lebih besar dari menolong. Sayang lebih besar daripada patuh.

Sebab itu kalau sembayang, puasa, naik haji, apalagilah poligami, akan ditolak kalau dibuat tanpa cinta Tuhan. Apa artinya bersyariat kalau tidak kenal tuhan dan kalau tidak ada hubungan dengan tuhan. Padahal syariat adalah yang menghubungkan manusia dengan tuhan. Karena itu kenalkan dulu Tuhan baru syariat. Kalau sudah cinta dengan Tuhan, jangankan shalat, zakat, haji, poligami, bahkan nyawa pun dia berikan.

Keluarga yang mengamalkan poligami atas dasar cintakan Tuhan akan menunjukkan suasana kasih sayang yang luar biasa diantara suami dengan isteri dan anak-anak, isteri dengan isteri, anak-anak dengan anak-anak walau dari ibu yang lain. Setiap orang akan mencintai, mengasihi dan mengutamakan yang lain karena mereka tahu Allah yang mereka sangat cintai itu menyukai amalan-amalan itu.

=== sekian ===

POLIGAMI ???

Asslmkm…wrwb

Gak Sallaahh???

Dan……

Berdasarkan sensus penduduk 2000 dan 2010 ternyata justru JUMLAH PRIA DI INDONESIA LEBIH BANYAK DARI WANITANYA.

“laki2 jaman sekarang biasanya mati2an menentang atau berusaha menutup2i fakta ini dengan berbagai alasan dan dalih”

Begitu juga dengan data negara2 di dunia (CIA, Bank Dunia, PBB, dll) ternyata jumlah pria juga lebih banyak dari wanitanya (terutama untuk China, India, dan negara-negara Arab)

Yup jumlah wanita memang sangat melimpah tapi di usia di atas 65 tahun, mauu?? hehe….kalo ngebet, silakan poligami dengan golongan wanita usia ini.

Cek di data resmi BPS dan masing2 pemda atau coba klik di:

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/16/makan-tuhh-poligami-vs-fakta-dem...

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=40¬ab=1

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=263&wid=0

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=4

http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321
http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_conte...

http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=penduduk_ratio&info1=4
Kira2 apa ya solusi dari kelebihan pria ini?
masih tetap POLIGAMI? Hanya akan semakin “merampas” kesempatan bujangan pria lain untuk dapat menikah

perkiraan dan kepercayaan selama ini “turun temurun” yang selalu jadi senjata bagi pria yang ngebet ingin berpoligami bahwa jumlah wanita jauh berlipat lipat di atas pria ternyata SALAH BESAR

Hasil Sensus Penduduk 2010 berdasar jenis kelamin perpropinsi
Kode, Provinsi, Laki-laki, Perempuan, Total Penduduk
1 Aceh, 2 248 952, 2 245 458, 4 494 410
2 Sumatera Utara, 6 483 354, 6 498 850, 12 982 204
3 Sumatera Barat, 2 404 377, 2 442 532, 4 846 909
4 Riau, 2 853 168, 2 685 199, 5 538 367
5 Jambi, 1 581 110, 1 511 155, 3 092 265
6 Sumatera Selatan, 3 792 647, 3 657 747, 7 450 394
7 Bengkulu, 877 159, 838 359, 1 715 518
8 Lampung, 3 916 622, 3 691 783, 7 608 405
9 Bangka Belitung , 635 094, 588 202, 1 223 296
10 Kepulauan Riau, 862 144, 817 019, 1 679 163
11 DKI Jakarta, 4 870 938, 4 736 849, 9 607 787
12 Jawa Barat, 21 907 040, 21 146 692, 43 053 732
13 Jawa Tengah, 16 091 112, 16 291 545, 32 382 657
14 DI Yogyakarta, 1 708 910, 1 748 581, 3 457 491
15 Jawa Timur, 18 503 516, 18 973 241, 37 476 757
16 Banten, 5 439 148, 5 193 018, 10 632 166
17 Bali, 1 961 348, 1 929 409, 3 890 757
18 Nusa Tenggara Barat, 2 183 646, 2 316 566, 4 500 212
19 Nusa Tenggara Timur, 2 326 487, 2 357 340, 4 683 827
20 Kalimantan Barat, 2 246 903, 2 149 080, 4 395 983
21 Kalimantan Tengah, 1 153 743, 1 058 346, 2 212 089
22 Kalimantan Selatan, 1 836 210, 1 790 406, 3 626 616
23 Kalimantan Timur, 1 871 690, 1 681 453, 3 553 143
24 Sulawesi Utara, 1 159 903, 1 110 693, 2 270 596
25 Sulawesi Tengah, 1 350 844, 1 284 165, 2 635 009
26 Sulawesi Selatan, 3 924 431, 4 110 345, 8 034 776
27 Sulawesi Tenggara, 1 121 826, 1 110 760, 2 232 586
28 Gorontalo, 521 914, 518 250, 1 040 164
29 Sulawesi Barat, 581 526, 577 125, 1 158 651
30 Maluku, 775 477, 758 029, 1 533 506
31 Maluku Utara, 531 393, 506 694, 1 038 087
32 Papua Barat, 402 398, 358 024, 760 422
33 Papua, 1 505 883, 1 327 498, 2 833 381
TOTAL, 119 630 913, 118 010 413, 237 641 326
Sex Ratio Indonesia (menurut BPS) beginilah data yang saya dapat:
- Tahun 1971 = 97.18 pria : 100 wanita
- Tahun 1980 = 99.82 pria : 100 wanita
- Tahun 1990 = 99.45 pria : 100 wanita
- Tahun 1995 = 99.09 pria : 100 wanita
- Tahun 2000 = 100.6 pria : 100 wanita
- Tahun 2010 = 101,01 pria : 100 wanita
Bisa dilihat, ternyata tren sex ratio semakin meningkat, dalam arti dari tahun ke tahun jumlah pria semakin melebihi wanita

Poligami????? Anehh…

Wa alaikum salam, Tenang mas,

Wa alaikum salam,

Tenang mas, poligami kan tidak wajib. Selain itu ada fakta yang tidak kelihatan di data BPS itu , yaitu banyak juga perempuan yang tidak menikah juga, padahal umurnya sudah 30 tahun lebih. Ke mana tuh laki-lakinya? Jangan-jangan ada saja laki-laki yang malas menikah.

poligami??

dalam sosial, memang tuntutan buat perempuan untuk segera menikah biasanya (jauh) lebih tinggi dibandingkan pria, disebabkan masa reproduksi wanita yang memang lebih terbatas, selain itu dalam masyarakat para perawan tua juga lebih mudah menjadi sorotan / menjadi bahan "bisik2" dibanding bujang lapuk.
Itulah kenapa "seolah2" saja jumlah perawan tua lebih banyak dan "bergentayangan" dimana2, namun sebenernya Fakta Empiris di lapangan menunjukkan sebaliknya. bahwa bujang lapuk bisa lebih "bergentayangan".

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer