Rasulullah minta Abu Hasan bin Mas'un Pergi Haji

Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir menceritakan bahwa orator ulung, Abu al-Hasan bin Mas'un pada masa awal hidupnya, bekerja di sebuah percetakan buku. Ia memberikan upah pekerjaannya itu untuk ibunya, selain untuk dirinya sendiri.
Pada suatu hari ia mencetak buku, dan ibunya menemaninya. Kata Abu al-Hasan kepada ibunya, "Aku ingin melaksanakan haji."
Ibunya berkata, "Bagaimana mungkin kami bisa melaksanakan haji, sedangkan kamu tidak memiliki apa-apa, dan aku juga tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu. Kita hanya hidup dari upah percetakan ini."
Setelah itu sang ibu tertidur. Sekitar satu jam kemudian ia terbangun. Katanya, "Anakku, berangkatlah haji."
Abu al-Qasim heran dan berkata, "Sebelum tidur ibu melarangku untuk melaksanakan haji, sekarang ibu menyuruhku."
"Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Biarkan dia (melaksanakan ibadah haji) karena ia akan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat ketika melaksanakan haji."
Abu al-Qasim sangat gembira. Ia menjual kertas-kertas yang bisa dijualnya. Tidak lupa ia menyisihkan uang belanja, sebelum ia berangkat bersama rombongan ibadah haji. Tetapi, di tengah jalan, rombongan itu dirampok oleh para bergundal Arab, termasuk Abu al-Qasim Ibnu Mas'un.
Kata Ibnu Mas'un, "Aku dirampok hingga tak tersisa selembar pakaian pun di badanku. Kulihat ada seseorang yang memiliki selendang panjang. Aku memintanya, 'Berikanlah kepadaku selendang itu, untuk menutupi tubuhku.'
'Ambillah,' katanya.
Aku membagi dua selendang itu: satu untuk menutupi tubuh bagian atasku dan satunya untuk menutupi bagian bawah tubuhku.
Setiap kali aku merasa lapar dan kulihat ada orang-orang yang sedang makan, aku berdiri melihat mereka, dan mereka akan memberikan makanan kepadaku. Cukup dengan begitu aku makan dalam sehari.
Akhirnya aku pun tiba di Mekah. Aku cuci selendang itu dan aku menjadikannya kain ihram. Aku meminta izin kepada bani Syaibah(15) agar aku bisa masuk ke Baitullah. Mereka mengizinkan aku masuk ke sana setelah orang-orang yang lain.
Di dalam Baitullah, aku memanjatkan doa, 'Ya Allah, sungguh engkau Maha tahu akan keberadaanku tanpa aku beri tahu. Ya Allah, berilah aku makanan hingga aku tidak lagi meminta-minta kepada orang lain.'
Kudengar seseorang di belakangku berdoa, "Ya Allah, dia tidak tahu cara berdoa yang baik kepada-Mu. Ya Allah, berikanlah kepadanya kehidupan tanpa (harus) ada makanan."
Aku menoleh ke belakang, tapi tidak kutemukan siapa-siapa. Aku membatin, 'Ini pasti Khidir atau malaikat.' Aku kembali mengulangi doa, dan suara itu terdengar lagi. Begitulah terjadi hingga tiga kali.
Akhirnya aku kembali ke Baghdad.
Pada waktu itu, khalifah harus mengeluarkan salah satu selir perempuannya, tapi khalifah masih merasa kasihan kepadanya. Ia berkata kepada para pengawalnya, 'Carilah laki-laki yang baik yang cocok dengan perempuan ini.'
Di antara mereka berkata, 'Ibnu Mas'un baru saja pulang dari haji. Ia pastilah cocok dengan perempuan ini.'
Orang-orang yang hadir membenarkan perkataan orang itu. Aku dihadirkan dan para saksi juga dihadirkan. Aku dinikahkan dengan perempuan itu. Perempuan itu pulang membawa pakaian, harta dan perhiasan seperti seorang permaisuri."

(15) Orang-orang yang bertanggung jawab merawat Baitullah pada masa jahiliah.
Bani Syaibah http://ms.wikipedia.org/wiki/Bani_Syaibah

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer