Pangkuan Malik Penuh Minyak Kasturi

Kisah Ke-26: Pangkuan Malik Penuh Minyak Kasturi

Abdullah az-Zubairi berkata, "Aku sedang duduk di masjid Rasulullah saw. bersama Malik bin Anas, seketika ada seseorang laki-laki datang lalu berkata, 'Siapa di antara kalian berdua yang bernama Abu Abdillah Malik?'
Orang-orang menjawab sambil menunjuk ke arah Malik bin Anas, "Dia."
Lelaki itu datang menemui Malik bin Anas, mengucapkan salam, memeluk, dan menciumnya. Kemudian lelaki itu berkata, 'Demi Allah, malam tadi aku memimpikan Rasulullah duduk di tempat ini. Beliau berkata, 'Bawa Malik ke sini!'
Orang-orang lalu mEmbawa engkau menghadap beliau, sedang engkau gemetar karena takut. Beliau berkata, 'Tidak apa-apa, wahai Abu Abdillah. Duduklah
Kemudian engkau duduk.
Kata Nabi, 'Bukalah pangkuanmu."
Lalu engkau membuka pangkuanmu dan beliau memenuhinya dengan minyak kasturi. Beliau berkata, 'Ambillah dan sebarkanlah kepada umatku.'"
Mendegar cerita itu, Imam Malik menangis dalam waktu yang cukup lama. Ia berkata, 'Mimpi yang menggembirAkan. Jika kamu tidak berbohong dengan mimpimu, maka itu berarti ilmu yang dianugerahkan oleh Allah kepadaku.'"

Kisah Ke-27:
Nabi Memberikan Kasturi kepada Malik
Abu Abdillah berkata, "Aku (bermimpi) melihat Nabi saw. duduk di masjid dikelilingi oleh para sahabat. Malik bin Anas berdiri di hadapan beliau. Sementara itu, di hadapan Rasulullah saw. ada banyak minyak kasturi. Beliau lalu mengambil beberapa bagian dan memberikannya kepada Malik. Lalu Malik membagikannya kepada orang-orang."

Kisah Ke-28: Rasulullah Meludahi Imam Syafi'i

Imam Syafi'i rahimahullAh berkata, "Pada suatu ketika, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, Aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku, "wahai anak muda, siapa kamu?"
Aku menjawab, "Aku masih keturunanmu, wahai Rasulullah." Beliau berkata, 'Mendekatlah kepadaku"
Aku pun mendekati beliau. Beliau mengambil ludah dan berkata, "Bukalah mulutmu/"
Aku membuka mulutku, lalu beliau mengusapkan ludah itu ke dalam mulut dan bibirku. Kata beliau, 'Berangkatlah, semoga Allah memberkatimu.'"

Kisah Ke-29: Ikutilah Syafi'i

Hisyam bin Ammar berkata, "Aku mendengar aL-Mutawakkil bin al-Mu'tashim (8) berkata, 'Sungguh aku merindukan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i. Andai aku hidup pada masanya; bisa melihat dan berdekatan dengannya; bisa belajar darinya. Sungguh, aku memimpikan Rasulullah saw. berkata,
Wahai manusia, sesungguhnya Muhammad bin Idris telah berpulang ke rahmatullah. Ia telah mewariskan ilmu yang bermanfaat bagi kalian. Ikutilah ia, maka kalian akan mendapalakan hidayah."

(8) Al-Mutawakkil dan al-Mu'tashim adalah dua orang khallfah pada masa Abbasiah

Kisah Ke-30: Agar Ia Tidak Dihisab

Abu Bayan al-Asbahani mengatakan, "Aku memimpikan diriku bertemu dengan Rasulullah saw. dan berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i adalah keponakanmu. Apakah engkau memberikan sesuatu yang istimewa kepadanya?'

Beliau berkata, 'Benar, Aku memohon kepada Allah agar Ia tidak menghisabnya.'
'Kenapa engkau berbuat begitu, ya Rasululah?' tanyaku.
Kata beliau, '(Hal itu) karena ia mengucapkan shalawat yang berbeda dan tak pernah diucapkan siapa pun, kepadaku.'
'Seperti apa shalawat itu, wahai Rasulullah?' kataku.

Rasulullah berkata, Ia mengucapkan shalawat kepadaku (dengan redaksi seperti ini),

Allahummah shalli 'ala Muhammadin kullama dzakarahu adz-dzakiruna, wa shalli 'ala Muhammadin kullama gafala 'anhu al-gafiluna (ya Allah, berikanlah shalawat [rahmat] kepada Muhammad, ketika manusia mengingatnya, dan berikanlah juga shalawat [rahmat] kepadanya, ketika manusia lupa kepadanya)."

Kisah Ke-31: Nabi Menghukumnya di Masjid

Terjadi perdebaran antara Yahya al-Jala, seorang pengikut Sunni, dan seorang lelaki dari golongan Mutazilah. Al-Jala dikenal sebagai seorang yang memiliki argumentasi yang kuat dan memiliki dalil-dalil yang sahih. Tetapi, pada saat itu, kekuasaan berpihak kepada kaum Mutazilah. Mereka memutuskan persoalan lebih memihak kepada Mutazilah daripada Sunni. Al-Jala' pun mendapat kecaman yang tidak mengenakkan dari kelompok Mutazilah.

Akhirnya, al-Jala' harus pulang ke rumahnya dengan perasaan galau dan sedih. Istrinya menyiapkan makan untuknya, tapi ia tidak menyentuhnya sama sekali. Al-Jala' pun tertidur dalam keadaan galau dan sedih. Saat itulah ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah.
Yahya al-Jala' berkata, "Aku melihat Nabi saw. di masjid. Di sana ada kelompok Anmad bin Hanbal dan para pengikutnya serta kelompok Ahmad bin Abu Dawud (9) dan para sahabatnya

Rasulullah saw. kemudian membaca ayat, '..Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya....' (al-An'am [6]: 89) sambil menunjuk ke arah kelompok Ibnu Abu Dawud. Beliau melanjutkan ayat itu '...maka Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya.' (al-An'am [6]: 89) dan beliau menunjuk ke arah kelompok Imam Ahmad bin Hanbal dan para sahabatnya."
Yahya al-Jala' bangun dari tidurnya dengan perasaan gembira. Istrinya kembali menghidangkan makanan untuknya Kali ini ia menyantapnya dengan lahap.

(9) Seorang ulama Mu'tazilah yang mengikuti debat seputar khalq At-Qur'an (kemakhlukan Al-Qur'an) dan menyebabkan Imam Ibnu Hanbal dipenjara

Kisah Ke-32: Mengikuti Perkataan Ibnu Hanbal

Ahmad bin Hajjaj bercerita bahwa ia pernah belajar kepada Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ibnu Hanbal, dan semua ulama fiqih hingga ia menjadi bingung mengingat perbedaan yang terjadi di antara mereka dalam menyikapi persoalan-persoalan. Ia menuturkan, "Aku ingin mengambil pendapat yang paling sahih. Aku pun memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan jalan kepadaku, mempertemukan aku dengan Nabi di dalam mimpi. Aku punya firasat, malam ini aku akan bertemu dengan beliau.
Ketika malam Jumat tiba, pada waktu hampir subuh, ketika aku sudah menyelesaikan wiridku dan menunggu azan subuh berkumandang, aku menyandar ke dinding lalu tertidur. Aku melihat Nabi saw. datang kepadaku. Lalu datang seorang laki-laki dari Najran. Ia membawa tas hitam dan mengenakan baju putih. Ia mengucapkan salam dan duduk. Ketika Nabi datang, aku menyambut, menyalami, dan mencium beliau. Beliau bersama rombongan para sahabat. Beliau duduk, aku pun duduk di hadapan beliau. Aku menanyakan banyak persoalan kepada beliau hingga akhirnya kutanyakan persoalan fiqih yang menjadi kegelisahanku. Aku bertanya kepada beliau satu persoalan. Beliau menjawab, 'Sungguh, aku setuju dengan apa yang dikatakan orang ini.'
Beliau menunjuk kepada orang yang tadi masuk. Aku bertanya lagi kepada beliau persoalan yang lain. Kata beliau, 'Sungguh, aku setuju dengan apa yang dikatakan orang ini.'
Aku bertanya kepada beliau tentang persoalan-persoalan (perbedaan pendapat) di dalam fiqih, dan beliau menunjuk kepada orang yang tadi, lalu berkata, 'Sungguh, aku setuju dengan apa yang dikatakan orang ini.'
Terbersit di dalam hatiku, orang itu adaiah Imam Ahmad bin Hanbal. Aku berkata kepada Rasulullah, 'Orang ini telah mendapat siksaan berat karena engkau, tapi ia sabar.'
Kata beliau, 'Lihat apa yang telah diberikan Allah kepadanya.'
Beliau menatapku dan berkata, 'Kamu mau shalat subuh dengan kami?'
Kataku, 'Pasti, wahai Rasulullah. Betapa saya menginginkannya.'
Shalat pun dilaksanakan. Rasulullah saw. maju menjadi imam shalat kami.
Akhirnya beliau mengucapkan salam,
'Semoga keselamatan dan rahmat Allah menyertai kalian.' Aku pun mengucapkan salam. Aku terbangun dari tidurku dengan posisi badan menghadap kiblat."

Kisah Ke-33: Tidak Mencela Sahabat Nabi

Ja far ash-Shaig berkata, "Ada seorang tetangga Imam Ibnu Hanbal yang selalu melakukan kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan keji. Pada suatu hari, orang itu datang ke majelis Imam Ibnu Hanbal dan mengucapkan salam. Sepertinya, Imam Ibnu Hanbal tidak membalas ucapan salam orang itu dengan sempurna. Ia merasa tidak senang dengan kedatangan orang itu.
Orang itu berkata, 'Wahai Abu Abdillah, kenapa engkau tidak senang dengan kehadiranku? Aku telah berubah dari perbuatan yang selama ini aku lakukan karena pengaruh mimpi yang kulihat di dalam tidurku.'
'Mimpi apa yang kamu lihat?' tanya Imam Ahmad.
'Aku melihat Nabi saw. di dalam mimpiku, seakan beliau ada di dataran yang tinggi dan di bawahnya ada orang-orang duduk.
Satu per satu orang berdiri dan mendekati beliau. Mereka berkata, 'Doakanlah saya.'
Beliau lalu mendoakan mereka hingga tinggal aku sendiri. Aku ingin berdiri mendekati beliau, tapi aku malu sebab apa yang telah aku lakukan selama ini. Kemudian beliau berkata kepadaku, 'Hai fulan, kenapa kamu tidak berdiri dan memintaku untuk mendoakanmu."
Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, aku malu sebab perbuatan-perbuatan buruk yang telah aku lakukan selama ini.
Beliau berkata, 'Jika rasa malu yang menghalangimu, berdirilah dan mintalah, maka aku akan mendoakanmu sebab kamu tidak mencela salah seorang dari sahabat-sahabatku.'
Aku pun berdiri lalu beliau mendoakanku. Aku terbangun dari tidur: dan aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan jahat yang aku lakukan, demi Allah.
Imam Ahmad berkata, 'Wahai Ja'far, wahai fulan, ceritakan kisah mimpi ini (kepada orang lain). Kisah ini akan bermanfaat."

Kisah Ke-34: Menjaga Nabi dengan Kipas

Imam Bukhari r.a. berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. Seakan aku berada di hadapan beliau: aku memegang kipas untuk menjaga dan merawat beliau.
Aku menemui beberapa ahli takwil mimpi untuk menanyakan takwil mimpi itu. Kata mereka, 'Kamu akan menjaga Nabi dari kebohongan.'
Hal itulah yang mendorongku untuk menulis al-Jamtash-Shahih (Kumpulan Hadits-Hadits Sahih)."

Kisah Ke-35: Meletakkan Kaki di Jejak Kaki Nabi

Muhammad bin Abu Hatim al-Warraq berkata, "Di dalam mimpi, aku melihat Nabi saw. sedang berjalan, dan di belakang beliau ada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari membuntuti beliau. Setiap kali Nabi mengangkat kaki beliau untuk melangkah, Imam Bukhari menginjakkan kakinya di jejak kaki beliau."

Kisah Ke-36: Menunggu Bukhari

Abdul Wahid bin Adam ath-Thawawisi berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. sedang berjalan bersama para sahabat beliau. Nabi berhenti di sebuah tempat. Aku mengucapkan salam kepada beliau, dan Nabi menjawab salamku. Aku berkata kepadanya, Apa yang membuatmu berhenti, wahai Rasulullah?'
Nabi menjawab, 'Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari.'
Setelah beberapa hari, aku mendengar kabar kematian Imam Bukhari. Aku berpikir—dan itu benar—ia meninggal pada hari ketika aku memimpikan Nabi saw."

Kisah Ke-37: Menimba llmu al-Auza'i

Hakam bin Musa bin Walid berkata, "Aku tidak pernah mendengarkan pelajaran dari al-Auzai hingga suatu hari aku memimpikan Nabi saw., sedang al-Auza'i berada di samping beliau. Aku bertanya kepada Nabi, 'Ya Rasulullah, dari siapa saya harus menimba ilmu?'
Beliau berkata sambil menunjuk kepada Imam al-Auza'i, 'Dari orang ini."'

Kisah Ke-38: Ajarilah Mereka

Sari as-Suqthi berkata kepada keponakannya, Junaid bin Muhammad, "Berbicaralah kepada orang-orang (ajarilah mereka)." Tetapi Junaid merendahkan hati dan melihat dirinya tidak pantas melakukan hal itu. Lalu dia memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, "Bicaralah kepada manusia." (10)
Junaid mendatangi pamannya dan menceritakan mimpi itu. Kata pamannya, "Kamu tidak mau mendengarkan aku hingga Rasulullah saw. mengatakan itu kepadamu: bicaralah kepada manusia."

(10) Maksudnya adalah katakanlah kepada mereka apa yang terbersit dalam dinmu ilham atau intuisi.

Ketika mereka sedang berbicara seperti itu, datanglah seorang anak Nasrani menyamar sebagai orang Islam. Anak itu berkata, "Wahai Abu al-Qasim, apa arti dari perkataan Nabi,
'Percayalah kepada intuisi orang mukmin karena ia melihat dengan cahaya Allah." (HR Tirmidzi dan Thabrani)
Junaid menundukkan wajahnya sejenak, lalu berkata, "Masuklah Islam, sudah tiba waktumu untuk masuk Islam."
Anak itu pun masuk Islam.

Kisah Ke-39: Rasulullah Mencium Syalabi?

Abu Bakar bin Muhammad bin Umar berkata, "Aku sedang bersama Abu Bakar bin Mujahid, ketika tiba-tiba datang Imam Syalabi (11). Abu Bakar bin Mujahid berdiri menyambut, memeluk, dan mencium keningnya. Aku berkata kepadanya, Tuanku, engkau lakukan ini kepada Syalabi? Padahal engkau— dan juga semua orang yang ada di Baghdad ini— menganggapnya sebagai orang gila?
Abu Bakar berkata, 'Aku melakukan ini kepada Syalabi karena kulihat Rasulullah saw. melakukan hal itu kepadanya.
11 Ia adalah salah seorang pengamal Al-Qur'an di abad ka-4 hijriah.

Aku pernah memimpikan Rasulullah saw. menyambut dan mencium Syalabi. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau melakukan hal itu?'
Beliau menjawab, "Orang ini membaca ayat,
'Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. ' (at-Taubah [9]: 128), dan dia mengucapkan (sebanyak tiga kali),
'Shallallahu 'alaika ya Muhammad (semoga Allah menganugerahkan rahmat kepadamu, wahai Muhammad).'"
Abu Bakar bin Mujahid berkata, "Ketika Syalabi masuk, aku bertanya apa yang dia baca setelah melaksanakan shalat. Ia menjawab seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw."

Kisah Ke-40: Bacaan Al-Qur'an Tanpa Tangisan

Saleh al-Mari rahimahullah berkata, "Aku membacakan (Al-Qtir'an) untuk Nabi saw. di dalam mimpiku. Lalu beliau berkata kepadaku, 'Wahai Saleh, begini bacaanmu. Di mana tangisanmu?"

Kisah Ke-41: Mencari Abu Ali bin Syadzan

Muhammad bin Yahya al-Karmani berkata, "Kami sedang bersama Abu Ali bin Syadzan, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda masuk (ke forum kami). Tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya. Ia mengucapkan salam dan berkata, 'Siapa di antara kalian yang bernama Abu Ali bin Syadzan?

Kami menunjukkannya kepada Abu Ali.
Pemuda itu berkata kepada Abu Ali, 'Syekh, aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku, 'Carilah Abu Ali bin Syadzan(12), jika kamu bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya."

Pemuda itu kemudian pergi, sedangkan Abu Ali menangis. Abu Ali berkata, Aku rasa tidak ada amalanku yang membuatku berhak mendapatkan salam itu...."

(12) Ia adalah salah satu dari ulama hadits dan ilmu kalam, walat pada tahun 425 H.

Kisah Ke-42: Mencari al-Ghazali

Imam Abu al-Fatah as-Sawi berkata, "Aku memasuki Masjidil Haram, dan tak lama aku terserang kantuk. Aku melihat sebuah pekarangan yang sangat luas dipenuhi oleh banyak orang. Setiap orang memegang sebuah kitab dan mereka mengelilingi seseorang. Aku bertanya tentang apa yang sedang mereka lakukan dan siapakah yang ada di tengah-tengah mereka itu. Mereka menjawab, 'Beliau adalah Nabi saw. Orang-orang itu adalah para penggagas mazhab. Mereka ingin membacakan mazhab-mazhab dan keyakinan mereka kepada Rasulullah saw. agar beliau memeriksa dan membenarkannya.
Ketika aku melihat orang-orang itu, datanglah seorang laki-laki menuju kerumunan dengan membawa kitab. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Imam Syafi'i rahimahullah. Ia masuk ke dalam kerumunan dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Nabi menjawab salamnya serta menyambutnya, sedangkan Syafi'i duduk di hadapan beliau. Lalu ia membacakan mazhab dan akidahnya dari kitab yang ia bawa.
Setelah itu, datang seorang yang lain. Katanya, ini adalah Abu Hanifah rahimahullah. Ia membawa sebuah kitab. Ia datang mengucapkan salam, duduk di samping Syafi'i dan membacakan mazhab dan akidahnya dari kitab itu.
Lalu setelah itu semua penggagas mazhab datang hingga tinggal beberapa orang yang tersisa. Semua yang datang selanjutnya duduk di samping pendahulunya.
Ketika kerumunan itu selesai membacakan kitab-kitab mereka, tiba-tiba datang orang ahli bid'ah membawa lembaran-lembaran yang berisi catatan akidahnya yang batil. Ia berusaha memasuki kerumunan dan membacakan lembaran itu kepada Rasulullah saw., tapi salah seorang dari orang-orang yang bersama Rasulullah saw. menariknya keluar dan merampas lembaran-lembaran yang ia bawa. Lembaran-Iembaran itu dibuang dan orang itu diusir.
Ketika aku mengetahui kerumunan itu hendak bubar, aku bergegas mendekat. Aku juga membawa kitab. Lalu aku berkata kepada Rasulullah saw. 'Ini adalah kitab keyakinanku dan keyakinan semua Ahlus Sunnah. Jika engkau berkenan, aku akan membacakannya.'
Rasulullah saw. berkata, 'Apakah itu?'
'Ini adalah kitab dasar-dasar akidah yang dikarang oleh al-Ghazali,' kataku.
Beliau mengizinkan aku untuk membacakan kitab itu. Aku pun mulai membaca, 'Bismillahirrahmdnirrabim. Kitab dasar-dasar akidah memiliki empat pasal... hingga aku tiba pada pembahasan al-Ghazali tentang syahadat kepada Rasulullah saw.: sesungguhnya Allah swt. mengutus seorang nabi yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) kepada orang-orang Quraisy, Muhammad saw., dengan risalah-Nya yang mencakup orang-orang Arab, non-Arab, jin, dan manusia.
Ketika aku membacakan poin itu, aku melihat Rasulullah saw. tersenyum. Dan aku pun menyelesaikan pembacaan mengenai karakteristik beliau. Rasulullah melihat ke arahku dan berkata, 'Dimana al-Ghazali?'
Tiba-tiba saja al-Ghazali sudah berdiri di hadapan beliau, di tengah kerumunan itu. Ia berkata, 'Saya di sini, wahai Rasulullah saw.'
Al-Ghazali maju dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Beliau menjawab salam al-Ghazali dan keduanya beriabatan tangan. Al-Ghazali mencium tangan beliau, meletakkan tangan beliau di kedua pipinya, lalu ia duduk.
Aku melihat Rasulullah saw. lebih ceria mendengarkan apa yang aku baca (dasar-dasar akidah) daripada bacaan yang lain.
Aku terbangun dari mimpi, sedang air mataku masih tersisa di mata."

Kisah Ke-43: Berdasar Islam dan As-Sunnah

Abu Ali ad-Dabbag (13) berkata, "Aku memimpikan diriku bertemu dengan Rasulullah saw. dan aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah saw., doakanlah saya agar saya hidup berdasar ajaran Islam.'
Beliau berkata, "Dan berdasar As-Sunnah."

(13) Husain bin Abi Zajdj, wafat pada tahun 454 H

Kisah Ke-44: Kamu Berhak Memperolehnya

Syekh Abdul Qadir asy-Syadzili menulis di dalam tulisan biografisnya tentang Imam Sayuthi (14). Kata Imam Sayuthi, "Aku pernah memimpikan Rasulullah. Beliau berkata kepadaku,
'Wahai Syekh (pakar) hadits.'
Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk penghuni surga?'
Beliau berkata, 'Ya.'
Aku bertanya lagi, 'Tanpa harus disiksa terlebih dahulu?' Kata beliau, 'Kamu berhak untuk memperolehnya.'"
(14) Al-Hafizh Jalaluddin as-Sayuthi, wafat pada tahun 911 H.

Kisah Ke-45: Naik Mimbar

Fatimah binti Abbas rabimahallah, seorang ahli fiqih dan orator (al-waizhah), terbiasa naik mimbar dan memberikan nasihat kepada para perempuan. Banyak perempuan yang mengambil pelajaran dari nasihat-nasihatnya. Banyak di antara mereka yang menjadi baik dan lembut hati.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah salah seorang yang mengagumi keilmuan Fatimah. Ia memuji kecerdasan, kekhusyuan, dan kesufian Fatimah.
Salahuddin as-Safadi mengatakan, "Banyak orang yang menceritakan kepadaku bahwa Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah berkata, Ada satu hal yang mengganggu diriku: karena Fatimah naik mimbar. Aku ingin mencegahnya. Lalu pada suatu malam aku tidur dan memimpikan Nabi saw. Aku bertanya kepada beliau tentang Fatimah. Kata beliau, 'Dia adalah perempuan yang salehah.'"

Kisah Ke-46: Pemimpin Para Orator

Pada hari Jumat, Abu Yahya bin Nabatah berpidato tentang mimpi. Pada malam harinya, ia memimpikan Rasulullah saw. dan para sahabat beliau di antara kuburan-kuburan. Ketika ia menghampiri Rasulullah, beliau berkata, "Selamai datang, wahai pemimpin para orator."
Lalu beliau melihat ke kuburan dan berkata, "Apa yang bisa kamu katakan (tentang itu) wahai orator?"
Abu Yahya lalu berkata, "Mereka seakan tidak memiliki mata, kehidupan tidak bersama mereka lagi. Mereka dimatikan oleh Zat yang telah menghidupkan mereka, dibisukan oleh Zat yang telah memberikan mereka kata-kata, dan kelak mereka akan dihidupkan kembali seperti dulu mereka pernah diciptakan, dan mereka akan dikumpulkan sebagaimana mereka pernah dipisahkan."
Ibnu Nabatah melanjutkan pidatonya hingga ia menyitir ayat, "...agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia....." (al-Baqarah [2]:143) sambil menunjuk ke arah para sahabat, dan melanjutkan ayat yang ia baca, "...dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu...." (al-Baqarah [2]:143) sambil menunjuk ke arah Rasulullah saw.
Rasulullah berkata, "Bagus, bagus, kemarilah, kemarilah..."
Rasulullah mencium keningnya dan memberkati (meludahi) mulutnya. Beliau berkata, "Semoga Allah memberikan taufik kepadamu."
Ibnu Nabatah terjaga. Ia sangat bahagia. Ada cahaya cemerlang di wajahnya. Pascamimpi itu, ia hanya bertahan hidup selama delapan belas hari. Ia tidak lagi mau makan karena ludah yang diberikan Rasulullah kepadanya. Dari mulutnya keluar wangi kasturi hingga ia meninggal.

Kisah Ke-47: Biarkan la Haji

Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir menceritakan bahwa orator ulung, Abu al-Hasan bin Mas'un pada masa awal hidupnya, bekerja di sebuah percetakan buku. Ia memberikan upah pekerjaannya itu untuk ibunya, selain untuk dirinya sendiri.
Pada suatu hari ia mencetak buku, dan ibunya menemaninya. Kata Abu al-Hasan kepada ibunya, "Aku ingin melaksanakan haji."
Ibunya berkata, "Bagaimana mungkin kami bisa melaksanakan haji, sedangkan kamu tidak memiliki apa-apa, dan aku juga tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu. Kita hanya hidup dari upah percetakan ini."
Setelah itu sang ibu tertidur. Sekitar satu jam kemudian ia terbangun. Katanya, "Anakku, berangkatlah haji."
Abu al-Qasim heran dan berkata, "Sebelum tidur ibu melarangku untuk melaksanakan haji, sekarang ibu menyuruhku."
"Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Biarkan dia (melaksanakan ibadah haji) karena ia akan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat ketika melaksanakan haji."
Abu al-Qasim sangat gembira. Ia menjual kertas-kertas yang bisa dijualnya. Tidak lupa ia menyisihkan uang belanja, sebelum ia berangkat bersama rombongan ibadah haji. Tetapi, di tengah jalan, rombongan itu dirampok oleh para bergundal Arab, termasuk Abu al-Qasim Ibnu Mas'un.
Kata Ibnu Mas'un, "Aku dirampok hingga tak tersisa selembar pakaian pun di badanku. Kulihat ada seseorang yang memiliki selendang panjang. Aku memintanya, 'Berikanlah kepadaku selendang itu, untuk menutupi tubuhku.'
'Ambillah,' katanya.
Aku membagi dua selendang itu: satu untuk menutupi tubuh bagian atasku dan satunya untuk menutupi bagian bawah tubuhku.
Setiap kali aku merasa lapar dan kulihat ada orang-orang yang sedang makan, aku berdiri melihat mereka, dan mereka akan memberikan makanan kepadaku. Cukup dengan begitu aku makan dalam sehari.
Akhirnya aku pun tiba di Mekah. Aku cuci selendang itu dan aku menjadikannya kain ihram. Aku meminta izin kepada bani Syaibah(15) agar aku bisa masuk ke Baitullah. Mereka mengizinkan aku masuk ke sana setelah orang-orang yang lain.
Di dalam Baitullah, aku memanjatkan doa, 'Ya Allah, sungguh engkau Maha tahu akan keberadaanku tanpa aku beri tahu. Ya Allah, berilah aku makanan hingga aku tidak lagi meminta-minta kepada orang lain.'
Kudengar seseorang di belakangku berdoa, "Ya Allah, dia tidak tahu cara berdoa yang baik kepada-Mu. Ya Allah, berikanlah kepadanya kehidupan tanpa (harus) ada makanan."
Aku menoleh ke belakang, tapi tidak kutemukan siapa-siapa. Aku membatin, 'Ini pasti Khidir atau malaikat.' Aku kembali mengulangi doa, dan suara itu terdengar lagi. Begitulah terjadi hingga tiga kali.
Akhirnya aku kembali ke Baghdad.
Pada waktu itu, khalifah harus mengeluarkan salah satu selir perempuannya, tapi khalifah masih merasa kasihan kepadanya. Ia berkata kepada para pengawalnya, 'Carilah laki-laki yang baik yang cocok dengan perempuan ini.'
Di antara mereka berkata, 'Ibnu Mas'un baru saja pulang dari haji. Ia pastilah cocok dengan perempuan ini.'
Orang-orang yang hadir membenarkan perkataan orang itu. Aku dihadirkan dan para saksi juga dihadirkan. Aku dinikahkan dengan perempuan itu. Perempuan itu pulang membawa pakaian, harta dan perhiasan seperti seorang permaisuri."

(15) Orang-orang yang bertanggung jawab merawat Baitullah pada masa jahiliah.
Bani Syaibah http://ms.wikipedia.org/wiki/Bani_Syaibah

Kisah Ke-48: Allah Telah Mengampuni Kumait

Saad al-Asadi berkata; "Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Kamu dari golongan mana?'
Aku berkata kepadanya. 'Aku dari golongan orang-orang Arab.'
Beliau berkata, 'Aku tahu. Dari golongan Arab mana?' Aku jawab, 'Dari bani Asad' Kata beliau, 'Dari bani Asad bin Khuzaimah?' 'Benar,' kataku.
Beliau berkata kepadaku, 'Apakah kamu keturunan Hilal?'
'Ya,' jawabku.
Kata beliau, 'Apakah kamu mengenal Kumait bin Zaid?' Aku berkata, 'Dia adalah paman dan dari kabilahku, wahai Rasulullah.'
Beliau berkata, 'Apakah kamu hafal salah satu syairnya?' 'Ya.' jawabku.
Kata beliau, 'Bacakanlah untukku.'
Aku membacakan syair-syair Kumait hingga aku membaca,
Aku bernyanyi karena rindu
Dan aku adalah pengikut keluarga Muhammad
Mazhabku adalah mazhab kebenaran
Beliau berkata, 'Jika kamu terjaga besok, sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepada Kumait: Allah telah mengampuni dosa-dosanya dengan kasidah ini.'"

Kisah Ke-49: Ikuti Mazhab Ibnu Battah

Abu Muhammad al-Jauhari menceritakan bahwa saudaranya, Abu Abdillah, berkata, "Aku pernah memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mazhab apakah yang paling benar? Atau, saya harus mengikuti mazhab yang mana?'
Beliau berkata, 'Ibnu Battah (17) ... Ibnu Battah...
Aku pergi dari Bagdad menuju Akbara (18). Kebetulan aku tiba di sana pada hari Jumat. Aku segera bergegas menemui Syekh Abu Abdillah bin Battah di masjid. Ketika aku bertemu dengannya, sebelum aku memberitahukan mimpiku, ia telah berkata kepadaku, 'Rasulullah saw. benar... Rasulullah saw. benar ..."

(16) Ia adalah salah satu ulama hadits dan fiqih yang doa-doanya dikabulkan. Ia wafat pada tahun 387 H.
(17) Sebuah kawasan di dekat Bagdad.
- http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Battah

50: Belalah Mazhabku

Imam Hasan al-Asy'ari (18) berkata, "Ketika aku tertidur pada sepuluh awal Ramadhan aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Wahai Ali, belalah mazhab yang diceritakan dariku karena ia adalah mazhab yang benar.'
Ketika aku tarbangun, aku seperti dihadapkan pada persoalan yang berat. Aku masih terus berpikir tentang mimpiku. Aku masih dibebani dengan dalil-dalil yang begitu banyak tentang persoalan ini. Pada pertengahan Ramadhan tiba, aku memimpikan Rasulullah saw. lagi. Beliau berkata,

'Apa yang telah kamu lakukan atas perintahku?'
Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan? Begitu banyak aliran mazhab di dalam ilmu kalam (tauhid) yang (mengaku) diceritakan darimu dan mengikuti dalil-dalil sahih dari firman Allah swt.'
Beliau berkata, 'Belalah mazhab yang diceritakan dariku karena ia benar.'
Aku terbangun dalam keadaan sedih dan menyesal. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempelajari ilmu kalam19, tapi mengikuti hadits dan Al-Qur'an.
Ketika malam ke-27 Ramadhan tiba, seperti kebiasaan kami di Bashrah, para ulama dan intelektual berkumpul. Mereka mengkhatamkan Al-Qur an pada malam itu. Aku mengikuti acara mereka. Tctapi, aku terserang kantuk berat yang tidak bisa kutahan. Aku pulang. Setibanya di rumah, aku langsung tertidur. Bagiku, tidak mengikuti khataman Al-Qur'an seperti itu adalah kemalangan besar.
Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku,
'Apa yang telah kamu lakukan atas perintahku?' Aku berkata kepada beliau, Aku tidak lagi mempelajari ilmu kalam, dan aku menekuni Al-Qur' an dan Sunnah Nabi."
Beliau berkata,
'Apakah aku menyuruhmu meninggalkan ilmu kalam? Aku hanya menyuruhmu mengikuti mazhab yang diriwayatkan dariku karena ia benar!'
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana aku bisa meninggalkan mazhab yang telah aku pelajari segala persoalannya dan aku ketahui dalil-dalilnya, sejak tiga puluh tahun yang lalu?'
Beliau berkata,
'Andai aku tidak tahu bahwa Allah swt. memberikan pertolongan langsung dari-Nya, tentu aku akan mengajarimu segala petunjuk dan bentuk-bentuk mazhab itu. Sepertinya kamu menganggap mimpi ini hanya sebagai mimpi belaka? Apakah kamu anggap mimpiku dengan Jibril adalah sekadar mimpi? (20) Kamu tidak akan bertemu denganku dalam hal ini lagi. Berusahalah karena Allah akan memberikan pertolongan langsung kepadamu."
Aku kemudian terbangun. Aku membatin, 'Selain kebenaran pastilah kesesatan.' Aku kemudian membuka-buka kembali pembahasan tentang mimpi, syafaat, dan perdebatan. Aku seperti mendapatkan sesuatu yang belum pernah aku dengar dari siapa pun atau aku baca di buku apa pun. Dan aku mengetahui bahwa itulah yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai pertolongan langsung dari Allah swt."

(18) Ia adalah salah seorang pemuka mazhab Asy'ari. la meninggalkan masa lalunya lalu menjadi pengikut Ahlus Sunnah.
(19) Maksudnya ilmu kalam yang bersumber dari filsafat.
(20) Sekadar mimpi yang tidak wajib dilaksanakan dan tanpa konsekuensi

Kisah Ke-51: Engkau Kubur Ilmuku

Hasan bin Utsman al-Qanthari berkata, "Aku mengubur semua buku-bukuku dan aku berkonsentrasi untuk beribadah, mendalami tashawwuf, dan berijtihad. Lalu aku memimpikan Rasulullah saw. Sepertinya, beliau menaiki mimbar sambil menunjuk dengan jarinya. Beliau memegang pena yang diolesi dengan wewangian dan kasturi. Beliau lalu memberikan satu pena kepada setiap orang yang hadir. Ketika aku tiba di hadapan beliau, aku berkata, 'Wahai Rasulullah, berikanlah pena kepadaku.'
Beliau berkata, 'Bagaimana aku memberikan kepadamu pena, sedang kamu telah mengubur ilmuku?'
Aku terus mengingat mimpi itu hingga kini."

Kisah Ke-52: Abu Bakar Tidak Mengunjungi Nabi

Al-Jundi menceritakan, "Orang-orang yang dapat dipercaya bercerita kepadaku bahwa Imam Abu Bakar as-Saksaki rahimahulldh melaksanakan ibadah haji, tapi ia tidak bisa mengunjungi Madinah sehingga ia merasa amat gundah.
Ia memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadanya,
Wahai Abu Bakar, kenapa engkau tidak mengunjungi kami, seperti kami mengunjungimu ?'
Abu Bakar berkata, 'Ini adalah kebaikan darimu, wahai Rasulullah. Maka doakanlah aku....' Rasulullah saw. kemudian mendoakannya."

Kisah Ke-53: llmu yang Berguna Sepanjang Masa

Ibnu Mujahid al-Masri menceritakan bahwa Tsa'lab (salah seorang ahli bahasa Arab) berkata, "Orang-orang yang menekuni Al-Qur'an, hadits, dan fiqih telah berhasil, sedangkan aku menekuni ilmu nahwu dan dasar-dasar kaidah bahasa Arab. Apa yang akan aku dapatkan di akhirat?"
Ibnu Mujahid melanjutkan, "Lalu aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Sampaikan salamku kepada Abu Abbas Tsa'lab. Katakan kepadanya, 'Kamu adalah pemilik ilmu yang berguna sepanjang masa.'
Kata Abu Abdillah ar-Rawdabari, "Maksud Nabi saw. adalah dengan ilmu itu perkataan bisa dirangkai, pidato menjadi indah didengar, dan semua ilmu membutuhkannya."

Kisah Ke-54: Biarkan Aku Bersama Rasul

Ketika Abu Abdil Qasim bin Salam telah selesai mengerjakan ibadah haji dan bermaksud pulang, ia menyewa kendaraan ke Irak. Tetapi, ia memimpikan Rasulullah saw. pada malam hari ketika esoknya ia akan pulang. Beliau duduk, sedang di belakang beliau, ada banyak orang yang mengelilingi beliau. Ada banyak orang masuk, mengucapkan salam, dan menyalami Rasulullah saw.
Abu Abdil Qasim menuturkan, "Ketika aku akan masuk dan menemui beliau, aku dilarang. Aku berkata kepada mereka, 'Mengapa kalian halangi aku menemui beliau?'
Kata mereka, 'Tidak. Kamu tidak boleh menemui dan menyalami beliau karena besok engkau akan pulang ke Irak.'
Kataku, 'Jika begitu aku tidak akan pergi besok.'
Mereka meminta janjiku, dan membiarkan aku menemui beliau. Aku masuk dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau menyalamiku.
Ketika waktu pagi tiba, aku batalkan perjalanan dan aku tinggal di Mekah."
Abu Abdil Qasim tetap tinggal di Mekah hingga ia meninggal.
Ada perawi yang mengatakan bahwa Abu Abdil Qasim memimpikan Rasulullah di Madinah dan ia meninggal di sana tiga hari kemudian.

Kisah Ke-55: Al-Qur'an Bukan Makhluk

Muhammad bin Manshur berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau bersama dua orang yang telah aku kenal. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, apa yang harus kami katakan mengenai Al-Qur'an?'
Beliau menjawab,
'Perkathan Allah (Al-Qur'an) bukanlah makhluk.(21) Aku berkata kepada dua orang itu, 'Saksikanlah.'"

(21) Hal itu berbeda dengan pendapat Mu'tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur an adalah makhluk.

Kisah Ke-56: Balasan Kebaikan

Saleh an-Naji menceritakan bahwa Haitsam ar-Razi berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Kamu Haitsam yang membaca Al-Qur^an dengan suaramu?'
Aku menjawab, 'Benar.'
Beliau berkata, 'Semoga Allah memberi balasan kebaikan kepadamu."

Kisah Ke-57: Aku Bangga kepada Kamu

Ali bin Hamzah al-Kisa i berkata, "Ketika aku selesai membacakan Al-Qur'an kepada orang-orang, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Apakah kamu al-Kisa'i?'
Aku menjawab, 'Benar, wahai Rasulullah.'
Beliau berkata, 'Ali bin Hamzah?'
'Benar, wahai Rasulullah,' jawabku.
Beliau berkata, 'Ia yang telah membacakan Al-Qur'an kepada umatku tadi malam?'
Aku menjawab, 'Benar, wahai Rasulullah.'
Kata beliau, 'Bacakanlah untukku.'
Kemudian aku membacakan surah as-Shaffat, 'Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf, demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh, demi (rombongan) yang membacakan peringatan.' (ash-Shaffat [37]: 1—3)
Beliau berkata, 'Bagus!'
Kata beliau lagi, 'Bacalah!'
Aku membaca lagi hingga sampai pada ayat, 'Kemudian mereka (kaumnya) datang bergegas kepadanya.' (ash-Shaffat [37]: 94)
Beliau berkata, 'Bagus! Bangkitlah. Aku akan membanggakanmu kepada orang-orang yang membaca Al-Qur an atau kepada para malaikat."

Kisah Ke-58: Mohonkan Aku Ampunan

Muhammad bin Mutawakkil al-Muqri' berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampunan untukku. Sungguh, Sufyan bin Uyainah telah menceritakan dari Jabir bahwa engkau tidak pernah berkata tidak ketika engkau diminta.'
Rasulullah saw. tersenyum dan berkata, 'Semoga Allah mengampunimu."

Kisah Ke-59: Akulah Pemimpinnya

Abu Nashr al-Wa izh pernah ditanya perihal kepindahannya dari aliran pengikut logika (ahlu ar-ra'yi) kepada aliran para pengikut hadits. Ia berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. bersama para sahabat beliau. Mereka bergegas untuk menjenguk Ustaz Abu Sahal ash-Sha'luki. Ketika itu, ia sedang sakit. Aku mengikuti beliau dan masuk ke rumah Abu Sahl. Aku duduk di hadapan Rasulullah sambil berpikir. Aku membatin, 'Dia adalah pemimpin ulama hadits. Aku khawatir jika ia meninggal, keadaan akan kacau.'
Rasulullah saw. berkata kepadaku, 'Jangan berpikir begitu. Allah tidak akan menyia-nyiakan kelompok di mana aku adalah pemimpinnya."'

Kisah Ke-60: Beliau Tersenyum

Syekh Abu Abdillah al-Jauzaqani berkata, "Pada suatu malam, aku tertidur. Aku bermimpi seakan manusia berbondong-bondong menuju rabath (tempat untuk belajar ilmu agama, pendidikan etika, dan moral) Abu al-Faraj al-Muqri" rahimahullah.
Aku bertanya-tanya, Ada apa dengan mereka?'
Kata mereka, Anas bin Malik mampir di rabath al-Muqri' Mendengar hal itu aku juga bergegas dan memberi tahu Imam al-Hafizh Abu al-Ala' tentang hal itu.
Abu al-Ala' sangat gembira mendengarnya. Ia membawa satu hadits dari Anas bin Malik dan bergegas pergi. Kami datang dan memasuki rabath. Ternyata di sana telah duduk Rasulullah saw. Aku perhatikan, Anas bin Malik ada di sisi kiri beliau. Kami maju dan mengucapkan salam kepada Nabi. Kami duduk di hadapan beliau.
Abu al-Ala meminta izin untuk membaca hadits yang dia bawa. Setelah diberi izin, ia membaca hadits itu dengan baik dan bacaan yang benar. Aku lihat Rasulullah tersenyum karena bahagia. Terkadang, ia melihat ke arah Abu al-Ala', terkadang ke arahku.
Bangun dari tidur, aku segera berwudhu dan melaksanakan shalat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt. yang telah menganugerahkan mimpi itu."

Kisah Ke-61: Mengenal Mereka

Sulaiman an-Na'im berkata, "Pada suatu ketika, aku memimpikan Rasulullah saw. Aku bertanya kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, mereka yang mengunjungimu dan mengucapkan salam kepadamu. Apakah engkau mengenal mereka dan mengerti apa yang mereka katakan?'
Jawab beliau, 'Ya. Dan aku membalas (salam) mereka.'"

Kisah Ke-62: Hiduplah Sesuai Kehendakmu

Syekh Ridwan ash-Shabbag memimpikan Rasulullah saw. di sebuah masjid agung di kota Sheda. Begitu banyak orang berduyun-duyun menemui beliau. Lalu seseorang berkata, "Ridwan, masuk dan berbicaralah dengan Rasulullah."
Syekh Ridwan kemudian masuk dan bertemu dengan Nabi saw. Beliau memberikan wejangan kepadanya dan berkata, "Ridwan, keluarlah! Sampaikan bahwa aku berkata,
'Hiduplah sesuka hatimu, sungguh kamu akan mati. Cintailah siapa pun yang kau mau, sungguh kamu akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, sungguh kamu akan mendapat balasan."
Ridwan keluar dan menyampaikan apa yang telah dikatakan Rasulullah kepadanya.

Kisah Ke-63: Hari Esok Harus Lebih Baik

Seorang syekh dari bani Salim berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw., dan aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, bagaimana kabarmu?'
Beliau berkata, 'Kamu ingin aku mengatakan sebuah hadits untukmu?'
'Ya.' jawabku.
Beliau kemudian berkata,
"Barangsiapa yang hari-harinya sama (22) maka ia sangatlah merugi. Orang yang hari esoknya lebih buruk daripada hari ini, maka ia orang yang terlaknat. Barangsiapa yang tidak mengalami peningkatan, maka ia berada di dalam kekurangan. Dan barangsiapa yang berada di dalam kekurangan, maka kematian lebih baik untuknya."

(22) Maksudnya adalah hari ini dan han kemarin. Artinya, tidak ada perubahan yang lebih baik.

Kisah Ke-64: Orang Mukmin Laksana Anggota Tubuh

Imam Thabrani rahimahullah berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. dan aku menanyakan hadits,
'Perumpamaan orang-orang mukmin - dalam jalinan kasih sayang, cinta, dan kedekatan mereka-ibarat satu tubuh. Jika satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh badan begadang dan demam juga.'
Nabi saw. menjawab, sambil memberikan isyarat dengan jarinya tiga kali, 'Sahih, sahih, sahih."

Kisah Ke-65: Jangan Ragu Meriwayatkan Hadits

Ketika Ali bin Abu Thahir berangkat ke negeri Syam, dan sebelumnya ia menulis hadits, ia meletakkan kitab-kitabnya di sebuah kotak dan melapisinya dengan cat antiair yang terbuat dari aspal. Lalu ia berangkat dengan mengunakan kapal. Di tengah lain, kapal itu dilanda ombak besar. Kotak-kotak itu terlempar ke laut. Baru setelah itu gelombang mereda. Ketika tiba di daratan, selama tiga hari ia menunggu di pantai berdoa kepada Allah. Pada malam ketiga, ia bersujud dan berdoa, Ya Allah, jika permohonanku ini hanya untuk-Mu dan kecintaan kepada utusan-Mu, maka tolonglah aku, kembalikan kotak itu kepadaku."
Ketika ia mengangkat kepala, kotak itu sudah ada di dekatnya. Kemudian ia tinggal di kota Burhah. Orang-orang datang kepadanya untuk mendengarkan hadits, tapi ia tidak mau.
Ali menuturkan, "Aku kemudian memimpikan Rasulullah saw. bersama Ali bin Abu Thalib r.a. Rasulullah berkata kepadaku, Wahai Ali, orang yang telah diperlakukan Allah swt. sepertimu di tepi laut itu, tidak akan menolak untuk menceritakan hadits.'
Jawabku, Aku bertobat kepada Allah swt.'
Lalu beliau mendoakan aku dan menyuruhku untuk menceritakan hadits."

Kisah Ke-66: Bekal Orang yang Ingin Selamat

Syekh Abu Ishak asy-Syairazi berkata, "Aku tidur di Bagdad dan memimpikan Rasulullah saw. bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Aku berkata kepada Rasulullah saw., 'Wahai Rasulullah, aku telah mendengar banyak hadits dari para perawi, tapi aku ingin mendengar hadits langsung darimu. Aku akan menjadikannya sebagai pegangan di dunia dan sebagai simpanan untuk akhirat.'
Beliau berkata, Wahai syekh (beliau memanggilku dengan syekh, dan aku senang dengan panggilan itu), katakan dariku, 'Barangsiapa yang menginginkan keselamatan maka carilah di dalam keselamatan orang lain.'"

Kisah Ke-67: Jangan Tinggalkan Agama Islam

Abu Ali Hasan al-Hakari berkata, "Aku bermimpi seakan aku memasuki sebuah rumah dan aku melihat Nabi saw. sedang berbaring. Beliau merentangkan jubahnya menghadap kiblat. Aku duduk di samping kiri Nabi. Nabi menoleh ke arahku dan berkata, 'Jangan tinggalkan agama Islam.'
Aku berkata, 'Tidak mungkin, wahai Rasulullah. Bagaimana mungkin saya meninggalkan agama Islam?'
Aku memegang pundak kanan beliau. Lalu aku berkata, 'Saya di sini akan memperbarui Islam. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya."

Kisah Ke-68: Ibnu Qawwas Memimpikan Rasul

Muhammad bin Ali al-Allaf berkata, "Pada suatu hari, aku menghadiri majelis taklim Abu Hasan bin Mas'un. Ketika itu, ia duduk di atas kursinya memberikan ceramah. Sementara itu, Abu Fatah bin Qawwas duduk di samping kursi itu. Tiba-tiba ia terserang kantuk dan tertidur. Ibnu Mas'un menghentikan ceramahnya hingga Ibnu Qawwas terbangun. Ibnu Mas'un berkata kepadanya, Apakah engkau melihat Rasulullah di dalam mimpimu?'
'Ya,' jawab Ibnu Qawwas.
Ibnu Mas'un berkata, 'Karena itulah aku menghentikan ceramahku. Aku takut engkau akan terbangun dan mimpimu terputus.'

Kisah Ke-69: Mendapat Syafaat Rasulullah

Pada masa awal pemerintahannya, Qadhi Shadaruddin Mauhub al-Jazari diperintahkan untuk menangani kawasan Ibnu Umar. Ia adalah seorang yang kaya, perdagangannya lancar, dan memiliki kekayaan yang melimpah. Penguasa kawasan itu mengirim mata-mata untuk menyelidiki kekayaan Ibnu Umar. Ia ingin mengambil kekayaan-kekayaan itu. Kabar itu didengar oleh Ibnu Umar.
Lalu ia mengirim hartanya ke Mesir dan Syam bersama para pedagang. Ia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Ia tiba di Syam, lalu meneruskan perjalanan ke Mesir.
Ketika ash-Shahib Baha'uddin dilantik sebagai menteri, ia ingin menghukum Ibnu Umar. Mendengar hal itu, Ibnu Umar merasa sangat takut. Ia berkata, "Ketika aku merasa begitu takut kepada ash-Shahib Baha'uddin, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau menanyakan keadaanku. Aku katakan kepadanya, Wahai Rasulullah, aku takut kepada ash-Shahib.'
Belaiu berkata kepadaku, 'Jangan takut kepadanya. Katakan saja kepadanya, 'Jangan sakiti aku sebab Rasulullah saw. telah memberikan syafaat beliau kepadaku di sisimu.'
Aku terbangun dalam keadaan yang sangat gembira karena telah bertemu dengan Rasulullah saw. Setelah melaksanakan shalat subuh, aku segera mengenderai kendaraanku dan menemui ash-Shahib yang hendak pergi ke benteng. Aku mengucapkan salam kepadanya lalu berkata, Aku membawa surat untuknya.'
'Surat dari siapa?' katanya.
'Dari Rasulullah saw.' jawabku. 'Beliau berkata kepadamu, 'Jangan sakiti aku karena sebab Rasulullah saw. telah memberikan syafaat beliau kepadaku di sisimu.'
Ash-Shahib berkata, 'Kamu benar. Dan Rasulullah benar. Hari ini, kamu telah mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw. Demi Allah, aku tidak akan menyakitimu untuk selamanya."
Ash-Shahib meminta maaf dan selanjutnya menghormati Ibnu Umar.

Kisah Ke-70: Haji dengan Berjalan kaki

Harun ar-Rasyid berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. dan beliau berkata kepadaku, Wahai Harun... tanggung jawab ini (sebagai khalifah bagi umat Islam) telah kamu terima. Laksanakanlah haji dengan berjalan kaki dan hiduplah bersahaja. Berilah kelapangan kepada penduduk Haramain (Mekah dan Madinah).'"
Harun ar-Rasyid kemudian memberikan kekayaan yang melimpah kepada penduduk Mekah dan Madinah. Belum pernah ada khalifah—setelah dan sesudah Harun yang melaksanakan haji dengan berjalan kaki. Ia termasuk bagian dari khalifah yang baik.

Kisah Ke-71: Berilah Aku Petunjuk

Khalifah al-Mustanjid bin al-Muqtafa berkata, "Lima belas tahun yang lalu aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, 'Ayahmu memangku jabatan sebagai khalifah selama lima belas tahun.'
Benar. Apa yang dikatakan oleh Rasululullah saw. benar-benar terjadi.
Empat bulan sebelum ayah meninggal, aku memimpikan Rasulullah saw. lagi. Beliau memasuki sebuah pintu besar bersamaku, kemudian naik menuju puncak gunung, lalu melaksanakan shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau memakaikan aku sebuah jubah seraya berkata,
'Allahumma-hdini fi-man hadaita (ya Allah, berilah hamba petunjuk sehingga hamba termasuk orang-orang yang diberi petunjuk oleh Engkau).'
Beliau kemudian membaca doa qunut."

Kisah Ke-72: Tiga Muhammad Kelaparan

Di negeri Mesir, berkumpul Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Muhammad bin Jarir ath-Thabari, dan Muhammad bin al-Munkadir. Mereka berkumpul di sebuah rumah dan menulis hadits hingga pada suatu hari mereka kekurangan makanan.
Pada tengah hari, mereka mengundi nama-nama mereka untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan keluar untuk mencari makanan. Undian jatuh pada Muhammad bin Nashr. Ia pun bangkit melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah swt. Ketika itu, penguasa Mesir, Thulun—ada perawi yang mengatakan bahwa penguasa Mesir itu adalah Ibnu Thulun—memimpikan Nabi saw. Beliau berkata kepadanya,
"Kamu diam di sini sedangkan di sana ada tiga Muhammad yang sedang kelaparan. Carilah orang-orang ahli hadits karena mereka sedang tidak memiliki makanan untuk dikonsumsi."
Ketika Thulun terbangun, ia langsung bertanya, "Siapa ahli hadits yang sedang berada di sini?"
Ada seseorang yang menjelaskan bahwa mereka bertiga sedang ada di Mesir. Thulun kemudian mengirimkan uang kepada mereka sebanyak seribu dinar. Utusan itu mendatangi mereka. Allah telah memudahkan usaha dan memberikan solusi bagi mereka. Akhirnya Thulun membeli rumah itu dan membangun sebuah masjid di sana. Ia menjadikannya sebagai wakaf bagi orang-orang yang ahli hadits.

Kisah Ke-73: Penculikan Mayat Rasul

Pada tahun 557 H orang-orang Nasrani sepakat untuk memindahkan mayat Rasulullah saw. dari kuburan beliau. Mereka mengutus dua orang dari mereka untuk memasuki Madinah dengan menyamar sebagai orang Maroko. Mereka mengaku sebagai orang Andalusia. Mereka tinggal di kawasan yang searah dengan kamar suci (al-hujrah asy-syarifah) dari kiblat di luar masjid. Saat ini tempat itu telah dipugar karena perluasan bangunan masjid.
Mereka berdua menampakkan ketakwaan dan kesalehan, dengan aksi silaturahmi dan berbuat baik, melaksanakan shalat dan berziarah ke pemakaman Baqi' serta makam Rasulullah. Begitulah mereka menyamar di permukaan. Dan diam-diam, mereka menggali lubang rahasia menuju ke arah kamar suci (di mana terletak makam Nabi saw.).
Mereka memindahkan pasir-pasir galian itu sedikit demi sedikit. Terkadang mereka membuangnya di sumur mereka, terkadang membuangnya dengan kantong, dan mereka mengelabui orang-orang dengan berpura-pura mengunjungi Baqi' lalu membuangnya di sana.
Mereka bertindak seperti itu selama beberapa waktu hingga mereka hampir sampai pada tujuan mereka. Mereka telah berhasil menggali lubang hingga ke kuburan Nabi saw. Kini, mereka berdua sudah berpikir bagaimana caranya memindahkan mayat Nabi. Mereka kira, mereka telah berhasil, padahal Allah memiliki kehendak lain.
Sultan Nuruddin Mahmud Zinki bermimpi melihat Rasulullah saw. Beliau menunjuk kepada dua laki-laki pirang yang menuju ke arah beliau. Nabi berkata, "Wahai Mahmud, selamatkan aku dari dua orang ini!"
Sultan terbangun dalam keadaan kaget. Ia melaksanakan shalat dan tidur kembali. Tetapi, lagi-lagi ia memimpikan hal yang sama hingga tiga kali.
Ketika terbangun untuk ketiga kalinya, ia memanggil menterinya, Jamaluddin al-Mushili, seorang menteri yang cerdik, agamis, dan wara'. Sultan menceritakan mimpinya kepada sang menteri. Ia berkata kepada Sultan, "Ini peristiwa yang benar-benar terjadi di kota Nabi. Berangkatlah ke Madinah, sekarang juga. Tetapi, jangan kau ceritakan mimpi ini kepada siapa pun.
Malam itu juga, Sultan bersiap-siap untuk berangkat. Ia berangkat membawa rombongan yang terdiri atas dua puluh orang. Ia membawa serta sang menteri dan harta yang begitu banyak. Mereka menempuh perjalanan dari Syam ke Madinah selama enam belas hari. Sultan kemudian melaksanakan shalat di Raudah dan duduk: tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Kata sang menteri, "Apakah Anda akan mengenal dua orang itu jika Anda melihatnya?" "Ya," jawab Sultan.
Sang menteri pun berkata kepada para penduduk Madinah—yang ketika itu berkumpul di masjid—bahwa Sultan akan memberikan bantuan. Mereka diminta untuk mendaftarkan orang-orang yang membutuhkan dan membawa mereka. Setiap orang akan mendapat bagiannya. Dan Sultan melihat mereka satu per satu. Tetapi, ia tidak melihat ciri-ciri dua orang yang dilihatnya di dalam mimpi.
Sultan bertanya, "Apakah ada orang yang belum mengambil bantuan?"
"Tidak ada," jawab mereka. "Kecuali ada dua orang Maroko yang tidak mengambil bagian. Mereka berdua adalah orang-orang yang saleh."
Kata Sultan, "Bawa mereka kemari."
Ketika mereka datang, diketahuilah bahwa mereka adalah dua orang yang dimaksud Nabi di dalam mimpinya.
Sultan bertanya kepada mereka, "Dari mana kalian berdua?"
Kata mereka, "Kami dari Maroko. Kami datang ke sini untuk melaksanakan ibadah haji. Dan kami memilih untuk tinggal di sini untuk beberapa saat di tahun ini."
"Jujurlah kepadaku." Kata Sultan. Ia terus mengulangi pertanyaannya, tapi kedua orang itu tetap dengan jawaban mereka.
Akhirnya, Sultan membiarkan mereka pergi. Ia mengunjungi rumah kedua orang itu bersama penduduk Madinah. Mereka menemukan harta yang banyak, dua mushaf, buku-buku, dan tidak ada hal lain. Sultan terus memeriksa tempat itu. Allah memberikan ilham kepadanya untuk membuka tempat tidur. Ternyata, di bawahnya ada papan dari kayu. Di bawahnya, ada sebuah lubang bawah tanah yang digali ke arah kamar suci, menembus tembok masjid.
Penduduk Madinah tercengang. Mereka menyangka kedua orang itu sebagai orang yang takwa dan saleh. Kedua orang itu disiksa dan dipukuli. Akhirnya mereka mengaku bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Mereka diutus oleh raja-raja Nasrani dengan menyamar sebagai orang yang melaksanakan haji dari Maroko. Raja-raja itu memberikan harta yang sangat banyak kepada kedua orang itu. Mereka ditugas untuk mengeluarkan mayat Nabi saw. dan memindahkannya ke negeri mereka.
Ketika keberadaan mereka berdua terungkap dan mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat, Sultan memutuskan untuk menghukum mati kedua orang itu, di jendela bagian timur kamar Rasulullah saw. Pada sore harinya, tubuh mereka dibakar.
Sultan kemudian memerintahkan untuk membuat lubang di sekitar kamar Nabi dan mengisinya dengan beton-beton besi: membuat lapisan cor di sekitar makam Nabi. Setalah itu, ia pun kembali ke negeri Syam.
http://en.wikipedia.org/wiki/Nur_ad-Din_Zangi
http://www.islamicfocus.co.za/index.php?option=com_content&task=view&id=...
English version: http://kawansejati.org/content/sultan-nur-ad-din-zangi-met-prophet-dream

Kisah Ke-74: Engkau Akan Menguasai Mesir

Amir al-Bardajani menceritakan bahwa ia mengabdi kepada Muzhaffar Saifuddin Qutuz ketika ia masih kecil. Ketika itu, Saifuddin Qutuz memiliki banyak kutu. Amir menelisik dan menangkap kutu-kutu itu. Setiap berhasil membunuh satu kutu, ia mendapat bonus uang.
Kata Amir, "Pada suatu hari, ketika aku sedang mencari kutu, aku berkata kepada Qutuz, 'Demi Allah, aku ingin memiliki lima puluh orang bawahan.'
Qutuz berkata kepadaku, 'Semoga Allah menjernihkan hatimu. Aku akan memberikan lima puluh orang bawahan untukmu.'
Kutepuk dia dengan tanganku. Kataku, 'Benarkah kamu akan memberikan aku lima puluh orang bawahan untukku?"
*Ya,' jawab Qutuz.
Sekali lagi aku menepuknya.
Qutuz berkata kepadaku, 'Ada apa denganmu? Kamu hanya minta lima puluh bawahan dan aku akan memenuhinya.'
'Bagaimana kamu melakukan itu?' tanyaku penasaran.
'Aku akan menjadi penguasa negeri Mesir ini, dan aku akan mengalahkan tentara Tatar. Aku akan memenuhi semua permintaanmu!'
'Kamu gila kataku. 'Kamu akan memimpin Mesir dengan kutu-kutumu ini?'
'Ya.' jawabnya. 'Aku memimpikan Rasulullah saw. dan beliau berkata kepadaku, 'Engkau akan menguasai Mesir dan mengalahkan Tatar.'
Bukankah perkataan Nabi saw. tidak perlu diragukan lagi: pasti benar?'
Mimpi Qutuz benar-benar terwujud menjadi sebuah kenyataan.
http://en.wikipedia.org/wiki/Qutuz

Kisah Ke-75: Karena Surah Tabarak

Seorang syekh meminta izin untuk menemui Khawaja Bazrik rahimahulldh. Ketika Bazrik menemuinya, ia melihat satu sosok lelaki tua yang penuh wibawa dan menakutkan. Bazrik bertanya, "Anda dari mana?"
"Aku dari negeri asing," jawabnya.
"Anda menginginkan sesuatu?" tanya Bazrik.
"Aku adalah utusan Rasulullah saw. untuk bertemu dengan Raja Syah," jawabnya.
"Orang tua, apa yang ingin engkau sampaikan?" kata Bazrik.
"Jika kamu mempertemukan aku dengan raja, aku akan menyampaikan pesan ini. Jika tidak, aku tidak akan pulang hingga aku bertemu dengan raja dan menyampaikan apa yang aku bawa kepadanya."
Bazrik masuk lalu menemui Raja dan memberitahukan perihal orang tua dan maksud kedatangannya.
"Bawalah ia kemari," perintah raja.
Ketika syekh itu dibawa menghadap raja, ia memberikan sebuah siwak dan sisir. Katanya, "Aku memiliki banyak anak perempuan. Tetapi, aku adalah orang miskin yang tidak bisa memberikan perhiasan dan menikahkan mereka. Setiap malam aku berdoa kepada Allah swt. agar menganugerahkan rezeki kepadaku, dan aku mampu menikahkan mereka.
Pada suatu malam, tepatnya malam Jumat, di bulan ini, aku berdoa kepada Allah swt. agar memberikanku rezeki melimpah untuk anak-anakku. Malam itu aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Kamu berdoa kepada Allah swt. agar Ia memberikan rezeki kepadamu untuk anak-anakmu?'
'Benar, wahai Rasulullah.' jawabku.
Kata beliau, 'Pergilah kepada fulan (Raja Syah, sang raja) dan katakan kepadanya, 'Rasulullah menyampaikan pesan kepadamu: persiapkan pernikahan untuk anak-anakku."
Kataku, 'Wahai Rasulullah, bagaimana jika ia meminta tanda kepadaku? Apa yang harus aku katakan kepadanya?'
Kata beliau, 'Katakan kepadanya: dengan tanda bahwa engkau selalu membaca surah Tabarak setiap malam sebelum tidur.'
Ketika sang raja mendengar hal itu, ia berkata, 'Ini tanda yang benar. Hanya Allah swt. yang mengetahui hal ini. Dulu, pembimbingku memerintahkan aku untuk membaca surah tersebut setiap malam sebelum tidur. Dan aku melakukannya/"
Sang raja kemudian memerintahkan untuk mempersiapkan segala perlengkapan pernikahan untuk anak-anak perempuan syekh. Raja memberikan hadiah yang banyak kepada si syekh.

Kisah Ke-76: Ibadah Hajinya Mabrur

Raja al-Mu'azhzham, ayah dari Shalahuddin al-Ayyubi, melaksanakan ibadah haji. Ketika ia tiba di Madinah, ia disambut oleh gubernur Madinah dan diperlakukan dengan perlakuan yang sangat baik.
Sang gubernur berkata kepadanya, "Aku akan membuka kamar suci untukmu, agar engkau bisa mengunjunginya secara khusus. Ini tidak didapatkan oleh orang lain, selain engkau."
Akan tetapi, Raja al-Mu'azhzham berkata, "Na'udzubillah. Sepertinya aku tidak berhak mendapat dan diperlakukan seperti ini. Biarlah aku tinggal di pinggiran masjid saja. Aku hanyalah orang yang tidak bermoral baik. Aku katakan kepada diriku: kamu tidak pantas mendapat pcrlakuan baik seperti ini, untuk mengagungkan dan memuliakan Rasulullah."
Lalu salah seorang yang saleh memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, "Katakan kepada Isa,(23) Allah telah menerima ibadah hajinya dan ziarahnya. Allah telah mengampuni dosa-dosanya dan keluarganya karena penghormatan dan etikanya kepadaku."
(23) adalah nama raja al-Mu'azhzham, dan Ibrahim adalah nama kecil anaknya, Shalahuddin al-Ayyubi

Kisah Ke-77: Bebaskan Manshur al-Jamal

Ahmad bin Yazid al-Mahlabi berkata, "Pada suatu malam kami sedang bersama dengan khalifah al-Mutamid Alallah. Ia terlihat mengantuk dan kepalanya tertunduk. Kata dia, 'Jangan ada yang pergi.'
Ia pun tertidur sekitar setengah jam. Ketika bangun, ia berkata, 'Bawalah ke sini seseorang yang bernama Manshur al-Jamal dari penjara.'
Mereka kemudian membawa orang itu. 'Sejak kapan kamu ditahan?' tanya al-Mutamid. 'Sejak tiga puluh tahun yang lalu,' jawab lelaki itu. 'Ceritakan kepadaku bagaimana kisahmu,' kata al-Mutamid.
Aku adalah seorang penduduk kota Moshul. Aku memiliki seekor unta untuk bekerja dan mencari nafkah keluargaku darinya. Pada suatu ketika, aku mengalami kesulitan kerja di Moshul. Aku pergi ke Samira karena di sana pekerjaan lebih memadai.
Ketika aku sudah hampir tiba di Samira, tiba-tiba datang satu pasukan menangkapi segerombolan perampok jalanan. Kurir mengatakan bahwa jumlah mereka adalah sepuluh orang. Tetapi, salah satu dari perampok itu menyuap tentara untuk melepaskannya. Mereka pun melepasnya dan menangkapku sebagai penggantinya. Mereka mengambil juga untaku.
Aku memohon kepada mereka atas nama Tuhan dan menceritakan kisah hidupku, tapi mereka tetap tidak mau mendengarkan dan menahanku. Sebagian dari anggota gerombolan ada yang meninggal, sebagian dibebaskan, dan hanya tinggal aku sendiri.'
Ambilkan 500 dinar dan berikan kepadanya. Berikan juga kepadanya 30 dinar setiap bulannya,' kata al-Mu'tamid. 'Jadikan juga ia sebagai ketua bagian penanganan unta kita.'
Setelah itu ia menemui kami kembali, ia berkata, 'Tadi, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Wahai Ahmad, pergilah kepenjara sekarang juga, dan bebaskanlah Manshur al-Jamal karena ia dizalimi. Perlakukanlah ia dengan baik.'
Aku pun melaksanakan apa yang aku lihat di dalam mimpi.'
Kemudian ia tidur kembali dan kami pun pergi."

78: Abu Hanifah Dipukul

Seorang menteri bernama Ibnu Hubairah menginginkan Imam Abu Hanifah rahimahulldh untuk menerima jabatan hakim. Ia bersumpah, jika sang imam tidak mau, ia akan memukul kepalanya dengan cambuk.
Kabar itu didengar oleh Abu Hanifah. Ia berkata, "Pukulannya dengan cambuk di dunia ini lebih ringan buatku daripada rantai-rantai besi di akhirat nanti. Demi Allah aku tidak akan menerimanya, meski aku akan dibunuh sekalipun."
Kata-kata Abu Hanifah didengar oleh Ibnu Hubairah. Katanya, "Berani juga ia membalas sumpahku dengan sumpahnya."
Abu Hanifah dipanggil dan dicaci-maki. Ibnu Hubairah bersumpah, "Jika ia tidak mau menerima jabatan itu, aku akan memukul kepalanya hingga mati."
"Mati hanya sekali," jawab Abu Hanifah.
Lalu diperintahkanlah untuk memukuli kepala Abu Hanifah sebanyak dua puluh kali.
Kata Abu Hanifah, "Ingatlah kedudukan dan pertanggungjawabanmu di hadapan Allah swt. Itu akan lebih rendah daripada kedudukanku di hadapanmu. Dan jangan pernah mengancamku karena aku berkata, 'Tiada tuhan selain Allah.' Allah akan bertanya kepadamu tentang diriku hingga kamu tidak akan dapat menjawabnya."
Ibnu Hubairah memerintahkan para algojo untuk berhenti memukulinya, lalu Abu Hanifah dijebloskan ke dalam penjara. Wajah dan kepalanya penuh dengan luka.
Ibnu Hubairah berkata, "Lalu aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, 'Tidakkah kamu takut kepada Allah? Kamu pukuli seseorang dari umatku tanpa kesalahan apa pun, dan kau mengancamnya?"'
Ibnu Hubairah mengirim utusan kepada Abu Hanifah dan mengeluarkannya dari penjara. Ia pun meminta maaf kepada Abu Hanifah.

Kisah Ke-79: Allah Menjagamu

Abu Musa at-Turki, salah seorang panglima besar pasukan khalifah al-Mutawakkil, mengikuti berbagai pertempuran. Ia tidak pernah terluka di dalam setiap pertempurannya. Tetapi, ia juga tidak pernah memakai senjata. Ada seseorang yang menanyakan perihal tersebut kepadanya. Ia menjawab, "Aku pernah memimpikan Rasulullah saw. dan aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, doakanlah saya.'
Beliau berkata, 'Tidak apa-apa, engkau telah berbuat baik kepada salah seorang dari keluargaku. Engkau akan mendapat penjagaan dari Allah.'"
Abu Musa at-Turki memang terkenal dengan kebaikannya kepada salah seorang keluarga (Ahlul Bait) Nabi. Ia pernah melepaskan salah seorang Ahlul Bait dari hukuman al-Mutashim ketika ia diperintahkan untuk menyerahkan orang itu sebagai santapan hewan-hewan liar, tapi ia tidak melakukannya.

Kisah Ke-80: Berdamailah dengan al-Bakri

Syekh Syihabuddin Abdul Warits al-Maliki menuturkan, "Antara aku dan syekh Nasiruddin Muhammad al-Bakri ada perbedaan dan perselisihan. Pada suatu malam, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Berdamailah dengan Muhammad al-Bakri."
Ketika aku terbangun, aku bergegas menemui al-Bakri dan berdamai dengannya."

Kisah Ke-81: Doanya Telah Dikabulkan

Ibnu Abi ad-Dunya menceritakan bahwa ada seseorang yang memimpikan Rasulullah saw. dan beliau berkata, "Datanglah kepada seorang Majusi di Bagdad lalu katakan kepadanya bahwa doanya telah dikabulkan."
Orang itu menuturkan, "Ketika terbangun pada pagi harinya, aku bingung, 'Bagaimana aku mendatangi orang majusi itu?'
Malam berikutnya aku tidur dan memimpikan hal yang sama. Begitu juga pada malam ketiga. Paginya, aku pun pergi ke Bagdad. Aku menemui orang majusi itu, dan aku mendapatkannya sebagai orang yang kaya dan memiliki harta yang melimpah.
Aku masuk dan mengucapkan salam kepadanya. Aku duduk.
Apakah ada keperluan?' tanya si majusi. 'Ya,' jawabku. 'Katakanlah,' pintanya.
'Aku akan mengatakannya ketika kita berdua saja,' jawabku.
Orang-orang kemudian pergi, tinggal teman-teman dekatnya saja.
'Mereka juga,' kataku. Teman-temannya pun pergi. 'Katakan,' kata si majusi.
Aku adalah utusan Rasulullah saw. kepadamu. Beliau menyampaikan pesan kepadamu: doa itu telah dikabulkan.' 'Kamu tahu siapa aku?' tanya si majusi. 'Ya,' jawabku.
Aku mengingkari Islam dan risalah Muhammad,' kata dia. 'Ya. Aku tahu. Tapi dia mengutusku kepadamu,' jawabku. 'Muhammad mengutusmu kepadaku?' tanyanya. 'Benar,' jawabku.
Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya,' kata si majusi.
Ia kemudian memanggil teman-teman dekatnya. Katanya, 'Selama ini aku berada di dalam kesesatan. Kini, aku telah kembali kepada kebenaran. Barangsiapa yang masuk Islam, ia boleh mengambil apa yang ia pegang. Dan siapa yang tidak, maka kembalikan milikku yang ada padanya.'
Orang-orang itu pun masuk Islam, kecuali beberapa orang.
Lalu ia memanggil anaknya lalu berkata, Anakku, selama ini aku berada di dalam kesesatan. Kini, aku telah memeluk agama Islam. Apa yang akan kamu lakukan?'
'Bapakku, aku akan masuk Islam,' jawab anaknya.
Ia memanggil putrinya lalu berkata, 'Putriku, aku dan kakakmu telah masuk Islam. Jika kamu masuk Islam, maka aku akan memisahkan kalian berdua.'
Putrinya berkata, 'Ayahku, demi Tuhan, aku benci sekali berkumpul dengannya. Aku akan masuk Islam.'
Lalu ia berkata kepadaku. Apakah kamu tahu doa apa yang telah dikabulkan itu?'
'Tidak,' jawabku.
'Ketika aku mengawinkan putriku dengan putraku", aku membuat jamuan dan mengundang orang-orang datang. Mereka datang dan menerima apa yang aku berikan kepada mereka. Ketika orang-orang itu mulai menyantap makanan, aku pun mulai lelah. Aku berkata kepada pelayan, 'Siapkan tikar di lantai atas, aku ingin istirahat sebentar.'
Aku pun naik. Di sebelahku tinggal keluarga asyraf (keturunan Nabi saw.) yang sangat miskin. Aku mendengar seorang anak perempuan kecil berkata kepada ibunya, 'Ibu, orang majusi ini menyiksaku dengan aroma makanannya.'
Aku segera turun dan membawakan kepada mereka makanan yang banyak, dinar, dan hadiah untuk semua orang yang ada di rumah itu.
Sang ibu berkata, 'Semoga Allah mempertemukan engkau dengan kakekku.'
Anggota keluarga yang lain berkata, Amin.'
'Itulah doa yang dikabulkan itu."

(24) Perkawinan antar saudara kandung diperbolehkan di dalam tradisi majusi

Kisah Ke-82: Bebaskan Pembunuh Itu

Ishak bin Ibrahim bin Mush'ab, Gubernur Bagdad, berkata, "Pada suatu malam, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Bebaskan pembunuh itu!'
Aku gemetar setelah melihat mimpi itu. Aku menyalakan lampu lilin dan membuka-buka daftar tahanan. Tetapi, tidak ada orang yang ditahan karena pembunuhan.
Aku memerintahkan bawahanku untuk memanggil dua orang penanggung jawab penjara. Aku bertanya kepada mereka, Apakah ada orang yang ditahan karena dakwaan pembunuhan?'
Salah seorang di antara mereka menjawab, 'Ya. Kami telah menuliskan berita acaranya.'
Aku melihat kembali berita acara itu, dan aku lihat catatan itu tertumpuk di antara tumpukan kertas-kertas yang menumpuk. Memang, orang itu didakwa sebagai pembunuh. Ia juga mengakui pembunuhan itu. Aku memerintahkan untuk mendatangkan lelaki itu.
Ketika ia masuk, dan kulihat ia begitu ketakutan, aku berkata kepadanya, 'Jika kamu berkata jujur kepadaku, aku akan membebaskanmu.'
Ia pun menuturkan kisahnya dengan panjang-lebar kepadaku. Ia menceritakan bahwa ia dan beberapa sahabatnya terbiasa berbuat kejahatan besar. Mereka melakukan hal-hal yang terlarang. Di Madinah, mereka biasa berkumpul di rumah Abu Ja'far al-Manshur, merancang semua kejahatan.
Ia melanjutkan ceritanya, 'Pada suatu hari, seorang perempuan tua datang kepada kami. Ia menawarkan kepada kami seorang perempuan yang sangat cantik. Ketika perempuan cantik itu masuk ke rumah kami, ia berteriak histeris dan pingsan. Ketika terbangun, aku segera mendahului teman-temanku mendatanginya. Aku memaksanya masuk kamar dan menenangkan ketakutannya. Aku tanyakan kepadanya apa yang terjadi.'
Perempuan cantik itu bercerita, 'Allah... Allah... aku, perempuan tua itu telah menipuku. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia memiliki mutiara yang tiada bandingannya. Ia ingin menjualnya. Aku pun tertarik untuk melihatnya. Aku mau saja keluar bersamanya karena aku percaya kepadanya. Tetapi, ia menyerahkan diriku kepada kalian. Oh... kakekku Rasulullah... bunda Fatimah, Husain bin Ali, selamatkan diriku dari semua ini.'
Lelaki itu melanjutkan ceritanya, 'Aku katakan kepadanya bahwa aku akan menjamin ia untuk keluar. Aku keluar menemui teman-temanku dan menceritakan kisah perempuan itu. Tetapi, mereka menyangka aku menipu mereka.'
Kata mereka, 'Setelah selesai melepas hasratmu kamu ingin kami melepaskan perempuan itu?'
Mereka pun beramai-ramai menyerbu perempuan tadi. Tetapi, aku pasang badan untuk membelanya. Kami bertengkar hingga aku terluka.
Aku menyerang salah seorang di antara mereka yang begitu bernafeu untuk merenggut kehormatan perempuan itu. Aku terpaksa membunuhnya karena aku berusaha membela perempuan itu. Aku pun berhasil membawa perempuan itu keluar dengan selamat. Ia berhasil keluar dari ketakutan-ketakutan yang menyerang dirinya sendiri.
Aku dengar ia berkata, 'Semoga Allah menolongmu, seperti engkau telah menolongku. Semoga engkau mendapat apa yang aku dapatkan.'
Para tetangga mendengar keributan itu dan menyergap kami. Lelaki yang aku bunuh tergeletak di tanah. Nyawanya telah melayang. Pisau ada di tanganku. Aku pun didakwa atas peristiwa ini.'"
Aku berkata kepada lelaki itu, 'Kini aku tahu pertolonganmu kepada perempuan itu. Aku akan menyerahkan urusanmu kepada Allah dan Rasul-Nya.'
Lelaki itu berkata, 'Sungguh benar apa yang engkau katakan. Aku tidak pernah mengulangi kejahatan, dan aku tidak ragu lagi untuk menemui Allah.'
Aku kemudian menceritakan kepadanya mimpi yang telah ku lihat bahwa Allah tidak menyia-nyiakannya dalam persoalan ini."

Kisah Ke-83: Kamu Sekeluarga Penghuni Surga

Sebagian dari keturunan Ali bin Abu Thalib tinggal di kota Balkha. Di antara mereka ada seorang perempuan yang sangat miskin dan memiliki beberapa anak perempuan. Suaminya sudah meninggal. Perempuan itu kemudian pergi ke Samarkand bersama anak-anak perempuannya, sebab ia khawatir ancaman musuh-musuh mereka.
Mereka pergi ke Samarkand bersamaan dengan cuaca yang sangat dingin. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua rombongan musafir: satu orang beragama Islam; satu orang lagi beragama majusi yang bertugas sebagai penjaga kota.
Ia memulai dari orang muslim itu, memaparkan keadaannya dan berkata, "Aku ingin meminta pertolongan untuk menginap malam ini saja."
"Buktikan bahwa kamu adalah keturunan Ali," kata orang itu.
"Tidak ada seorang pun di kota ini yang mengenalku," kata si perempuan.
Si muslim itu membiarkannya.
Perempuan itu pergi ke orang majusi dan menceritakan keadaannya. Ia juga menceritakan apa yang terjadi antara dia dan orang muslim tadi. Lelaki majusi itu dan keluarganya pindah ke masjid malam itu, dan perempuan itu bersama anak-anaknya diinapkan di rumahnya.
Malam itu juga, orang muslim tadi bermimpi seakan Kiamat telah tiba. Ada bendera yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan sebuah istana dari jamrud hijau. Ia berkata kepada Rasulullah saw. "Milik siapakah istana ini, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Untuk seorang muslim yang mengesakan Tuhannya (muwahhid)."
Lelaki itu berkata, "Aku juga seorang muslim yang mengesakan Tuhannya, wahai Rasulullah."
Rasulullah berkata kepadanya, "Berikan bukti kepadaku bahwa engkau adalah seorang muslim yang mengesakan Tuhannya.'
Lelaki muslim itu bingung.
Kata Rasulullah, "Ketika ada seorang perempuan keturunan Ali datang kepadamu, kau berkata kepadanya, 'Berikan kepadaku bukti. Begitu juga kamu, berikan kepadaku bukti."
Lelaki itu terbangun dan menangis meraung-raung. Ia menyusuri kota dan mencari perempuan keturunan Ali itu. Ia pun menemui orang majusi lalu bertanya, "Di manakah perempuan keturunan Ali itu?"
"Ada bersamaku," kata si majusi. "Aku menginginkannya." "Aku tidak berhak melakukan ini."
"Ambillah 1.000 dinar, dan serahkan perempuan itu untukku."
"Apa yang bisa aku lakukan? Mereka datang bertamu kepadaku, dan aku memperoleh berkah mereka."
"Aku juga harus memperolehnya."
"Aku lebih berhak memperoleh apa yang kamu inginkan. Istana yang kamu lihat itu untukku!"
"Apakah kamu ingin memamerkan diri bahwa kamu telah masuk Islam?"
"Demi Allah, malam itu kami sekeluarga telah masuk Islam, di hadapan perempuan keturunan Ali itu, sebelum kami tidur. Aku juga bermimpi melihat Rasulullah seperti yang juga kamu lihat. Beliau berkata kepadaku, 'Apakah perempuan keturunan Ali bersamamu?'
Aku mengiyakan.
Beliau berkata, 'Istana ini untukmu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu adalah penghuni surga. Allah telah menciptakan kamu sebagai orang mukmin sejak dahulu kala (azal)."

Kisah Ke-84: Redaksi Shalawat yang Benar

Salah seorang perawi hadits meriwayatkan, "Suatu ketika aku menulis sebuah hadits. Aku hanya menuiis kata shalawat (tidak menyertakan kata keselamatan). Ketika aku tidur, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Tidakkah kau sempurnakan shalawat di dalam tulisanmu?'
Sejak itu, aku tidak pernah menuliskan kata shalawat kecuali aku menuliskan juga kata keselamatan {ash-shaldh wa as-salam)."

Kisah 85 Posisi Al Qur'an

Ada dua orang saleh yang senantiasa bertemu dengan Rasulullah saw di dalam mimpi mereka. Hal itu berlangsung beberapa lama. Tetapi, suatu saat mimpi itu tidak lagi dialami oleh salah seorang di antara mereka berdua. Ia berkata kepada sahabatnya, "Jika kamu bertemu dengan Rasulullah, sampaikan salamku kepada beliau. Tanyakan kepada beliau, 'mengapa sahabatku tidak lagi bisa bertemu dengan engkau, wahai Rasululullah?'"

Pada malam hari, sahabatnya itu memimpikan Rasulullah. Ia menyampaikan salam sahabatnya dan menanyakan sebab keterputusan mimpi yang ia alami. Rasulullah saw menjawab, "Mungkin karena ia meletakkan Al-Quran di bawah buku-buku dia."
Sahabatnya itu terbangun dan menceritakan apa yang ia lihat dalam mimpi kepada sahabatnya yang tidak lagi memimpikan Rasulullah. Ia segera memeriksa perpustakaannya dan ia menemukan beberapa buku diletakkan di atas Al-Qur" an. Ia pun mengambil Al-Qur'an itu dan meletakkannya di posisi paling atas.
Allah berfirman, "...Daw barangsiapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya...." (al-Hajj [22]:30)
Allah juga berfirman,
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati (al Hajj [22]:32)

Kisah Ke-86: Jangan Membaca Al-Qurxan

Abu al-Wafa al-Qari' al-Harawi berkata, "Pada suatu ketika, aku membacakan Al-Qur'an di hadapan Sultan. Tetapi, mereka berbicara sendiri dan tidak mendengarkan bacaanku. Aku pulang ke rumah dalam keadaan gundah. Aku tidur dan kulihat Rasulullah saw. di dalam mimpi dalam keadaan murung.
Beliau berkata kepadaku, 'Apakah kamu membacakan Al-Qufan di hadapan orang-orang yang berbicara dan tidak mendengarkan bacaanmu? Setelah ini, jangan kaubaca kecuali jika Allah menginginkannyal'
Aku terbangun. Setelah peristiwa itu, aku tidak bisa berbicara selama empat bulan. Jika aku membutuhkan sesuatu, aku menuliskannya di sebuah kertas.

Ulama hadits dan ulama logika kemudian mendatangiku. Mereka mengatakan kepadaku bahwa suatu saat nanti aku akan berbicara lagi. Bukankah Rasulullah berkata, '...kecuali jika Allah menginginkannya...'?' Ungkapan ini merupakan pengecualian.
Aku tertidur kembali di tempat dulu aku bermimpi. Aku memimpikan Rasulullah saw. lagi, dan wajah beliau terlihat ceria. Beliau berkata kepadaku, 'Apakah kamu sudah bertobat?'
'Ya, wahai Rasulullah,' jawabku.
Beliau berkata,
'Barangsiapa yang bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Keluarkan lidahmu.'
Beliau kemudian mengusap lidahku dengan telunjuknya.
Kata beliau, 'Jika kamu berada di antara orang-orang, lalu kamu baca Kitabullah, jangan teruskan bacaanmu jika mereka tidak mau mendengarkan kalamullah (firman Allah).'"
Aku terbangun dan kurasakan lidahku sudah bisa bicara lagi. Segala puji bagi Allah swt."

Kisah Ke-87: Sembelihlah Lelaki Itu

Muradik al-Bashri berkata, "Aku membeli sesuatu dari salah seorang pemimpin bani Ahwaz(25). Aku terus-menerus datang dan kembali kepadanya, untuk menawar harga. Lelaki itu menyumpah serapah Abu Bakar dan Umar. Karena takut, aku tidak berani lagi kembali kepadanya.
Aku kembali ke rumah dalam keadaan gundah. Semalaman aku seperti itu hingga ketika aku tertidur, aku memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, si fulan itu bersumpah serapah atas Abu Bakar dan Umar."
Beliau berkata, 'Bawalah ia kepadaku.'
Aku membawa orang itu kepada Rasulullah. Kata beliau, 'Baringkanlah ia!'
Aku membaringkannya. Lalu beliau berkata, 'Sembelihlah ia!'
Tentu saja aku tidak berani menyembelihnya, Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, saya harus menyembelihnya?'
Beliau berkata kepadaku, 'Sembelihlah!'
Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Aku pun mengiris lehernya dan menyembelihnya.
Ketika pagi tiba, aku membatin, Aku harus menemuinya dan menasihatinya, menceritakan mimpi yang aku lihat tadi malam. Aku pergi ke rumahnya, tapi sebelum tiba di sana aku mendengar suara keributan. Ternyata, ia telah meninggal.

(25) Ahwaz adalah sebuah kota yang terletak di antara Persia dan Bashrah
http://en.wikipedia.org/wiki/Ahvaz

Kisah Ke-88: Ajari Aku al-Fatihah

Ahmad bin Husain bin Mahran al-Muqri' berkata, "Aku membeli seorang budak perempuan—kukira ia adalah seorang warga negara Turki—dan tidak bisa berbahasa Arab. Tetapi, teman-temanku memiliki budak-budak perempuan yang bisa menerjemahkan untuknya.
Suatu hari ia tertidur, dan terbangun dalam keadaan menangis. Ia berteriak-teriak (dalam bahasa Arab), 'Wahai tuanku... ajari aku surah al-Fatihah!'
Aku membatin, 'Jahat benar perempuan ini. Ia ternyata bisa berbahasa Arab, tapi tidak mau berbicara denganku dalam bahasa Arab. Kemudian datanglah para budak perempuan teman-temanku. Kata mereka, 'Kamu tidak bisa berbahasa Arab, tapi bagaimana sekarang kamu bisa mengucapkannya?"
Budak itu berkata, (Di dalam mimpiku aku berjumpa dengan seseorang yang pemarah berjalan diikuti oleh orang banyak. Aku bertanya, 'Siapakah orang itu?"
Jawab mereka, 'Ia adalah Musa a.s.'
Aku kemudian melihat orang yang lebih tampan daripada dia, dan orang itu juga berjalan diikuti oleh orang-orang. Aku bertanya, 'Siapakah orang itu?'
Jawab mereka, 'Ia adalah Muhammad saw."
Aku kemudian mengikuti orang yang terakhir ini. Ia pergi ke sebuah pintu besar, yang ternyata adalah pintu surga. Ia mengetuk pintu itu dan masuk bersama orang-orang yang mengikutinya. Tinggal aku dan dua orang perempuan. Kami mengetuk pintu itu dan pintu itu pun terbuka.
Terdengar bunyi suara,'Barangsiapa yang membaca surah al-Fatihah dengan baik, ia boleh masuk.' Kedua perempuan yang bersamaku itu membaca al-Fatihah dengan baik dan mereka bisa masuk. Tinggal aku sendiri. Kemudian aku diajari al-Fatihah. Aku mempelajarinya dengan sangat sulit dan benar-benar menyiksa hingga ketika aku bisa membacanya, aku terjatuh dan mati."

Kisah Ke-89: Kembali ke Jalan Allah

Basyar al-Hafi r.a. berkata, "Aku menemui Akbar al-Kurdi dan kukatakan, 'Apa yang menyebabkan kamu kembali ke jalan Allah?
Kata dia, 'Di salah satu tempat ketika aku menjadi perampok jalanan, ada tiga buah pohon kurma, satu di antaranya tidak berbuah. Ada seekor pipit yang memindahkan butir-butir kurma dari pohon yang berbuah ke pohon yang tidak berbuah. Aku menghitungnya; sepuluh kali ia membawa butir-butir itu.
Terpikir olehku, 'Aku harus berdiri dan melihatnya.' Aku bangkit dan ternyata di pohon yang tidak berbuah itu ada seekor ular yang buta. Burung pipit itu meletakkan makanan itu di mulut sang ular. Aku menangis! Aku membatin, 'Tuanku, ular seperti ini diperintahkan oleh Nabi-Mu agar dibunuh. Tetapi, Engkau membutakannya dan memerintahkan seekor pipit untuk memberi makan kepadanya. Dan aku adalah hamba-Mu. Aku mengakui bahwa Engkau adalah Maha Esa, dan Engkau jadikan aku sebagai perampok jalanan dan bajing loncat.'
Ada suara berkata di dalam diriku, 'Wahai Akbar, pintu-Ku terbuka lebar...'
Aku patahkan pedangku dan kutaburkan debu di kepalaku. Aku berteriak, 'Ampun... ampun....'
Lalu ada sebuah suara yang berkata, 'Aku mengampunimu... Aku mengampunimu....
Teman-temanku terbangun lalu bertanya, 'Ada apa denganmu? Kamu mengagetkan kami!'
'Aku telah terasing, jauh dari rahmat Tuhan karena dosa, tapi kini aku sadar...' jawabku.
'Kalau begitu kami juga: kami terasing, jauh dari rahmat Tuhan karena dosa, dan kini kami sadar,' kata mereka.
Kami melempar semua pakaian kami dan berniat untuk melakukan ihram. Kami berada di dalam kondisi seperti itu selama tiga hari: meratap, menangis, dan kami bingung.
Pada hari ketiga kami bertemu dengan sebuah desa. Di pintu desa itu sudah ada seorang perempuan buta duduk menunggu. Katanya, Apakah di antara kalian ada yang bernama Akbar al-Kurdi?'
Salah seorang dari kami menjawab, 'Ya. Apakah engkau memerlukan sesuatu?'
Kata perempuan tua itu, 'Ya. Selama tiga hari aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Berikan kepada Akbar al-Kurdi apa yang ditinggalkan anakmu.'
Lalu perempuan itu mengeluarkan enam puluh potong pakaian. Kami pun memakai sebagian darinya. Lalu kami memasuki desa itu hingga tiba di Baitul Haram.

Kisah 90 Aku Menyukainya

Salah seorang di antara ulama selalu membuka majelis pengajiannya dengan pembacaan qasidah (pujian terhadap Rasulullah saw.) karya Ka'ab bin Zubair r.a. Ada orang yang bcrtanya kepada ulama itu mengapa mereka mclakukannya. Jawabnya, "Aku pernah memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata kepada beliau, (Wahai Rasulullah, bolehkah aku membacakan qasidah karya Ka'ab bin Zubair untuk engkau?'
Beliau berkata 'Ya. Aku menyukainya dan menyukai orang-orang yang menyukainya.'
Sejak saat itu, aku berjanji kepada Allah, aku tidak akan lupa untuk membaca qasidah karya Ka'ab bin Zubair setiap hari.

Kisah Ke-91: Ia Melihat Cahaya-Cahaya Nabi

Ada dua orang yang sedang berbicara, sementara Ka'ab al-Ahbar ada di dekat mereka. Salah seorang di antara mereka berkata, "Aku bermimpi seakan manusia dikumpulkan dan aku melihat semua nabi. Semuanya. Mereka memiliki dua cahaya, dan para pengikut mereka memiliki satu cahaya. Aku juga melihat Nabi Muhammad. Tidak ada satu pun dari bulu dan tubuhnya yang tidak mengeluarkan cahaya. Dan kulihat para pengikutnya memiliki dua cahaya.
Ka'ab al-Ahbar berkata, "Bertakwalah kepada Allah swt., wahai Abdullah. Pikir kembali apa yang kamu ucapkan tadi!|
Orang itu menjawab, "Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat di dalam mimpi."
Kata Ka'ab, "Demi Zat yang mengutus Muhammad saw. dengan benar dan menurunkan Taurat kepada Musa bin Imran. Semua itu sudah tertulis di dalam kitab yang diturunkan kepada Musa bin Imran, persis seperti yang kau katakan tadi."

Kisah Ke-92: Mendekatlah

Ya'kub bin Sufyan berkata, "Ketika aku masih berpetualang mencari ilmu, pada malam hari aku menulis dengan menggunakan penerang lampu. Pada suatu malam, ada sesuatu jatuh menimpa mataku. Aku tidak bisa melihat hanya dengan menggunakan lampu. Aku menangis karena penglihatanku kabur, dan hal itu menyebabkanku tidak dapat menulis hadits Rasulullah saw. Ketika aku dalam keadaan seperti itu, aku terserang kantuk. Aku tertidur dan memimpikan Rasulullah. Beliau berkata, 'Ada apa denganmu?'
Aku bercerita kepada beliau hal aneh yang tcrjadi pada penglihatanku dan ketakbisaanku menulis hadits. Beliau berkata, 'Mendekatlah.'
Aku mendekati beliau, dan beliau meletakkan tangan beliau di mataku. Beliau membaca sebuah ayat Al-Qur'an. Aku terbangun dan aku bisa melihat kembali. Aku pun duduk dan mengucapkan subhanallah!"

Kisah Ke-93: Ia Memberiku Seratus Dirham

Penults buku at-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah asy-Syarifah (Selayang Pandang Sejarah Kota Madinah) berkata, "Ada sebuah surat dari kota Mekah kepada al-Mugitzi yang memerintahkannya untuk memberi Zubair bin All bin Sayyidil Kull sebanyak 100 dirham. Tidak ada seorang pun yang mengetahui perihal surat itu.
Al-Mugitsi hanya memiliki separuh dari seratus dirham. Lalu ia mengirimkannya kepada Ibnu Sayyidil Kull melalui Jamal al-Mathari. Jamal al-Mathari adalah seorang yang sangat senang membantu orang-orang saleh. Ketika Jamal datang kepada Sayyidil Kull dengan lima puluh dirham, Sayyidil Kull berkata, 'Masih ada separuh yang tersisa.' Dan ia mengembalikan uang itu.
Jamal kembali kepada al-Mughitsi dan menceritakan apa yang terjadi. Kata al-Mughitsi, 'Syekh itu benar. Seharusnya memang seratus, tapi aku tidak memiliki uang lagi. Aku hanya ingin segera memberikannya, agar ia segera dapat menggunakannya, dan berita gembira ini cepat sampai.'
Jamal kembali kepada Sayyidil Kull dan memberitahukan alasan itu.
Kata Sayyidil Kull, 'Bukankah aku sudah katakan kepadamu?'
'Lalu dari mana engkau tahu?' tanya Jamal.
Kata Syekh Sayyidul Kull, Aku memimpikan Rasulullah saw. dan aku menceritakan keadaan dan kemiskinanku. Beliau memberikan kepadaku seratus dirham. Ketika kamu memberikan aku lima puluh dirham, aku tahu bahwa mimpi itu benar adanya. Karena itu, aku meminta sisanya. Jangan kausalahkahkan aku!'

Kisah Ke-94: Rasulullah Telah Datang!

Abul Khair at-Tinati berkata, "Aku memasuki kota Madinah dalam keadaan fakir. Selama lima hari aku tidak makan. Aku pergi ke kuburan dan mengucapkan salam kepada Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar. Aku berkata, 'Malam ini aku menjadi tamumu, wahai Rasulullah.'
Aku berbaring dan tidur di belakang mimbar.
Malam itu aku memimpikan Rasulullah saw. Abu Bakar berada di samping kanan beliau, sedangkan Umar berada di sisi kiri beliau. Di hadapan beliau ada Ali bin Abu Thalib.
Ali membangunkan aku dan berkata, 'Bangunlah, Rasulullah saw. telah datang.' Aku bangkit dan mencium kening beliau. Beliau memberikan sepotong roti kepadaku.Aku memakan separuhnya.
Aku terbangun, dan ternyata masih ada separuh roti di tanganku."

Kisah Ke-95: Basuhlah Tangannya

Abu Ja'far ash-Shaidalani berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. dikelilingi orang-orang fakir, yakni para ahli ibadah dan orang-orang zuhud. Tiba-tiba langit terbelah. Dua orang malaikat turun. Tiap-tiap dari mereka membawa bak cuci dan ceret. Mereka meletakkan bak cuci itu di hadapan Rasulullah saw. dan mencuci tangan beliau. Lalu bak cuci itu diputar hingga semua tangan mereka dicuci. Bak cuci itu kemudian diletakkan di hadapanku. Saiah satu di antara malaikat itu berkata, Jangan cuci tangannya. Dia bukan bagian dari mereka.
Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bukankah engkau telah mengatakan bahwa seseorang itu berada bersama orang yang ia cintai?' (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
Beliau berkata, 'Benar.'
Kataku, 'Wahai Rasulullah, sungguh, aku mencintaimu dan mencintai orang-orang fakir ini.'
Rasulullah saw, berkata, 'Basuhlah tangannya, karena ia bagian dari mereka.'"

Kisah Ke-96: Nashr Bersalaman dengan Allah

Al-Akbari berkata, "Aku memimpikan Rasulullah saw. Aku berkata, 'Sentuhlah kedua mataku dengan tangan engkau karena mataku terasa sakit.'
Beliau berkata, 'Datanglah kepada Nashr bin Aththar, ia akan mengusap matamu.'
Aku membatin, 'Bagaimana mungkin aku tinggalkan Rasulullah dan pergi ke orang biasa?' Aku terus berkata kepada Rasulullah.
'Wahai Rasulullah, usaplah mataku dengan tangan engkau..,' kataku.
Beliau berkata, 'Tidakkah kau dengar sebuah hadits yang mengatakan bahwa sedekah tidak akan sampai di tangan si peminta kecuali lewat tangan Allah swt. Dan tangan Nashr telah bersalaman dengan tangan Sang Pencipta swt. Datanglah kepadanya!'
Aku terbangun dan segera pergi ke Nashr. Ketika melihatku, ia berkata, Apa yang kamu mimpikan?'
Ia mengucap kedua mataku dan membacakan surah al-Falaq dan an-Nds. Rasa sakit mataku pun hilang.

Kisah 97 Mengonsumsi Tidak

Hasan bin Basyar rahimahulldh sakit. Pada suatu malam ia memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepada Hasan,
"Jika kamu ingin sehat, makanlah 'tidak'dan minumlah 'tidak'."
Hasan berkata, "Ketika terbangun, aku mengirimkan kepada Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah 10.000 dirham, untuk dibagikan kepada orang-orang fakir (sebagai ungkapan rasa syukur atas mimpi dengan Rasulullah). Aku juga menanyakan tentang tafsir mimpiku."
Imam ats-Tsauri berkata, "Arti dari kata-kata beliau 'tidak' dan 'tidak' adalah zaitun karena Allah menyatakan dalam kitab-Nya, '...(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timurdan tidak pula di barat...: (an-Nukr [24]: 35)."
Hasan bin Basyar rahimahulldh berkata, "Aku pun memakan buah zaitun dan meminum minyaknya. Allah memberikan kesehatan kepadaku karena mengikuti perintah Rasulullah saw. dan mengagungkan mimpi bertemu dengan beliau."

Kisah Ke-98: Berkat Perkataan Beliau

Ibnu Abi Thayyib al-Faqir berkata, "Aku menderita ketuliaan selama sepuluh tahun. Aku pergi ke Madinah dan tidur di antara kuburan Nabi dan mimbar (Raudhah). Aku memimpikan Rasulullah saw. Aku katakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, engkau berkata,
'Barangsiapa yang meminta wasilah kqiadaku, maka ia berhak mendapat syafaatku."
Kata beliau,
'Semoga Allah menyembuhkanmu. Aku tidak berkata begitu, tetapi aku berkata, 'Barangsiapa yang meminta wasilah kepadaku dari sisi Allah, maka ia berhak mendapat syafaat dariku."
Tiba-tiba ketulianku sembuh berkat perkataan Nabi saw., 'Semoga Allah menyembuhkanmu.../"

Kisah Ke-99: Biarkanlah Dia

Ustadz Abdul Aziz Abu al-Fadhal (26) rahimahulldh berkata, "Aku memimpikan Nabi saw. duduk hendak berwudhu. Anas bin Malik, pelayan beliau, berdiri di hadapan beliau membawa ceret lalu menyiramkan air untuk beliau.
Aku segera datang dan merebut ceret itu dari tangan Anas bin Malik untuk menyirami tangan beliau. Anas bin Malik marah. Ia hendak merampas kembali ceret itu dari tanganku. Tapi Nabi saw. berkata, 'Biarkan dia, Anas. Aku menginginkannya.'
Ustaz Abdul Aziz terbangun dan menceritakan mimpinya kepada kepala yayasan (syaikh al-ma'had)17. Kata Syekh, Ada dua takwil atas mimpi ini: (1) engkau akan pergi ke Raudhah Nabi saw. dalam perjalanan ibadah haji dan umrah, atau (2) engkau akan meninggal dan bertemu dengan beliau.'
Tidak lama kemudian, Ustaz Abdul Aziz berangkat untuk melaksanakan ibadah haji, dan tidak lama setelah itu ia meninggal."
la adalah Syekh Ali al-Khuthari rabimahullAh, seorang yang saleh. Ia senantiasa membaca Al-Oufan dan Demah mengkhatamkannya dua kali dalam sebuah penalanan ke Mekah dengan kereta apj, balk ketika pergi maupun ketika pulang. la meninggal di Mekah.

(26) Salah seorang guru penults di Madrasah Aliyah, sekaligus sebagai wakil kepala sekolah.

Kisah Ke-100: Neraka Jahanam Tunduk kepada Nabi

Seorang hamba yang fakir memimpikan Nabi saw. Beliau berdiri di sebuah tempat yang sangat luas. Di sekitar beliau ada banyak sahabat yang baik-baik dan keluarga beliau yang berhati bersih. Beliau sedang menyampaikan khotbah kepada mereka, menerangkan perihal Kiamat dan keistimewaan-keistimewaan yang diberikan Allah kepada beliau di hari Kiamat kelak, salah satunya adalah neraka Jahanam tunduk dan taat kepada perintah beliau.
Salah satu perkataan yang beliau ungkapkan tentang neraka adalah, "Dan sungguh, aku telah memerintahkannya. Ia pun patuh..."

Ketika beliau sedang mengucapkan kata-kata itu, salah seorang dari Ahlul Bait mengangkat percikan-percikan api yang ia pegang, mengacungkannya ke atas, dan menyemburkan api-api itu, sebagai tanda kebahagian yang ia rasakan, tidak ubahnya seperti malam perayaan pernikahan.
Orang yang memimpikan Rasulullah itu menangis karena bahagia. Ia terbangun masih dalam keadaan menangis. Ia pun berdoa kepada Allah agar mengabadikan kenikmatan yang Ia anugerahkan hingga ia termasuk ke dalam golongan orang yang berkata, "Aku melihat Nabi saw."

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan amal-amal saleh dengan nikmat-Nya.

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer