Niat awal baik menjadi huru hara

Ada tidak diantara kita yg pernah berpikir kenapa sesuatu yang diniatkan awalnya baik, berubah menjadi huru hara ? Dimana salahnya ?

Pornografi jelas2 penyakit masyarakat yang efeknya sudah kita rasa, kita pun rusak karena ini, anak2 kita pun rusak karena ini, penyakit masyarakat lainnya (perkosaan, pembunuhan bayi2, dll) terjadi karena rangsangan2 pornografi. tapi mengapa usaha untuk mencegahnya malahan menimbulkan huru hara ?

Katalah RUU ini diubah menjadi UU, maka saya membayangkan yg pertama kali di geledah adalah istana bogor. Kenapa ? Karena Lukisan Koleksi Bung karno yang masih terpasang di sana itu ada beberapa yang memang pornografi. Jadi bayangkanlah, negara ini ternyata diproklamasikan oleh seorang penggemar gambar porno. Pancasila pun digagas oleh orang yang sama...

Katalah RUU ini berhasil disahkan menjadi UU. Maka seharusnya demi konsistensi, seluruh bidang ilmu yang mengesahkan pornografi menjadi seni semuanya harus dinyatakan sebagai ilmu yang sesat. Kalo tidak begini, maka negara ini tidak konsisten, karena produk pornografinya dilarang, tetapi proses mengajarkan ilmu yang mengesahkan pornografi sebagai seni tetap diajarkan di sekolah sekolah, yang notabene adalah sekolah negeri. Bukankah FSRD itu juga milik negara ? Bukankah artinya negara sudah berbuat tidak adil karena dia sudah membiarkan anak2 SMA yang tidak terlalu banyak dosanya itu diisi otaknya dengan ilmu2 yang ternyata produk2 nya melanggar undang undang ?

Dan bukan hanya itu, seluruh kepangkatan dan gelar keprofesoran di fakultas itu juga harus dicabut. Karena gelar tersebut diberikan diatas dasar ilmu yang ternyata sesat dan produknya dilarang negara.
Bahkan sebagai sarana pertaubatannya, seluruh staf pengajarnya mesti memanggil kembali seluruh murid2 nya untuk meralat ilmunya. karena ilmu itu adalah ilmu sesat menurut undang undang negara. Mengajarkan ilmu itu sendiri adalah kejahatan.

Ada tidak diantara kita yg pernah berpikir dimana salahnya ?

-=adnan=-

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer