Mengukir Takdir

Para filsuf adalah orang-2 yang mencari Tuhan dengan menggunakan akalnya.
Ada yang tidak menemukan Tuhan dan mereka bilang Tuhan tidak ada.
Ada yang putus asa dalam pencariannya hingga bunuh diri.
Ada yang menemukan Tuhan dan mengimaninya.
Mencari Tuhan via olah akal adalah cara yang teramat sulit dan riskan, bisa
jatuh pada kemungkinan-2 diatas.
Dan pada akhirnya mungkin dia akan berkata, "kalau saya nggak terlalu
andaikan akal saya dalam mencari Tuhan, mungkin saya udah mendapatkan-Nya
20 tahun lebih awal". ;-)

Akal kita, gunakanlah untuk mengejar ciri-2 orang baik-2. Misalnya
menggunakan kecerdasan dan kejeniusannya untuk mencari-2 cara agar menjadi
orang yang bermanfaat bagi sesama, karena sebaik-2 manusia adalah yang
paling bermanfaat bagi orang lain, diatas rasa kehambahaannya (diatas
keinginan utk mengabdi pada Tuhannya).

Yang biasa terjadi adalah kecerdasan dan kejeniusan digunakan untuk cari
dunia semata: nama, harta, kuasa.

Akal diciptakan memang untuk digunakan dengan kapasitas penuh. Menggunakan
akal pada kapasitas penuh adalah tanda kita mensyukuri nikmat diberi akal.
Konsep takdir pun juga tidak melarang orang untuk menjadi cerdas dan
menggunakan akalnya dengan kapasitas penuh.

Kita memang masih perlu banyak contoh teladan saat ini, yaitu contoh
orang-2 cerdas, orang-2 jenius yang menghamba pada Tuhannya.

Karena langkanya contoh teladan diatas, maka yang berlaku adalah stereotipe
"orang 'beriman' itu kolot, anti-kemajuan, kurang ikhtiar, kurang guna
akal".

Ampun maaf.

-Indratmoko-

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer