Mendapatkan Ampunan Zubair

 

Muhammad bin Sahal al-Azadi menceritakan bahwa seorang lelaki tua berkata, "Suatu hari, aku berkumpul bersama orang-orang, berbicara tentang persoalan (perselisihan dan peperangan yang terjadi) antara Ali, Thalhah, dan Zubair r.a. Sepertinya, pada waktu itu aku mencela Zubair. Pada malam harinya, aku bermimpi bahwa aku ada di sebuah padang pasir yang sangat luas. Di sana banyak sekali orang telanjang. Mereka berkepala anjing, tapi tubuh mereka adalah tubuh manusia. Tangan dan kaki mereka dipotong dengan silang. Ada juga orang yang kedua kaki dan tangannya dipotong. Aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan daripada pemandangan pada saat itu.

Aku merasa sangat takut dan ngeri dengan pemandangan tersebut.

Aku membatin, 'Kenapa mereka bisa seperti ini, tangan dan kaki mereka dipotong?'

Tiba-tiba ada suara menjawab, 'Ini adalah ganjaran mereka yang mencaci maki Ali bin Abu Thalib r.a.'

Saat aku berada pada suasana seperti itu, tiba-tiba ada sebuah pintu terbuka. Aku pun masuk ke sebuah ruangan yang luas. Ada seorang laki-laki yang duduk dikelilingi oleh jamaahnya. Aku diberi tahu bahwa seorang laki-laki iu adalah Nabi saw. Aku mendekat dan menyalaminya. Beliau menggenggam tanganku dengan sangat erat, lalu beliau berkata, 'Akan kamu ulangi?'

Aku teringat apa yang aku katakan tentang Zubair. Aku berkata kepada Nabi, 'Tidak. Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah. Saya tidak akan melakukannya lagi.'

Beliau lalu menoleh kepada seseorang di belakangnya, kemudian beliau berkata, 'Zubair, ia mengatakan bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Maafkanlah ia!'

Zubair berkata, Aku telah memaafkannya, wahai Rasulullah.'

Aku menjabat tangan beliau dan menciuminya. Aku menangis. Aku meletakkan tangan beliau di dadaku.

Ketika aku terbangun, aku masih merasakan rasa sejuk di punggungku."

 

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer