Kisah Ke-83: Kamu Sekeluarga Penghuni Surga

Sebagian dari keturunan Ali bin Abu Thalib tinggal di kota Balkha. Di antara mereka ada seorang perempuan yang sangat miskin dan memiliki beberapa anak perempuan. Suaminya sudah meninggal. Perempuan itu kemudian pergi ke Samarkand bersama anak-anak perempuannya, sebab ia khawatir ancaman musuh-musuh mereka.
Mereka pergi ke Samarkand bersamaan dengan cuaca yang sangat dingin. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan dua rombongan musafir: satu orang beragama Islam; satu orang lagi beragama majusi yang bertugas sebagai penjaga kota.
Ia memulai dari orang muslim itu, memaparkan keadaannya dan berkata, "Aku ingin meminta pertolongan untuk menginap malam ini saja."
"Buktikan bahwa kamu adalah keturunan Ali," kata orang itu.
"Tidak ada seorang pun di kota ini yang mengenalku," kata si perempuan.
Si muslim itu membiarkannya.
Perempuan itu pergi ke orang majusi dan menceritakan keadaannya. Ia juga menceritakan apa yang terjadi antara dia dan orang muslim tadi. Lelaki majusi itu dan keluarganya pindah ke masjid malam itu, dan perempuan itu bersama anak-anaknya diinapkan di rumahnya.
Malam itu juga, orang muslim tadi bermimpi seakan Kiamat telah tiba. Ada bendera yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan sebuah istana dari jamrud hijau. Ia berkata kepada Rasulullah saw. "Milik siapakah istana ini, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Untuk seorang muslim yang mengesakan Tuhannya (muwahhid)."
Lelaki itu berkata, "Aku juga seorang muslim yang mengesakan Tuhannya, wahai Rasulullah."
Rasulullah berkata kepadanya, "Berikan bukti kepadaku bahwa engkau adalah seorang muslim yang mengesakan Tuhannya.'
Lelaki muslim itu bingung.
Kata Rasulullah, "Ketika ada seorang perempuan keturunan Ali datang kepadamu, kau berkata kepadanya, 'Berikan kepadaku bukti. Begitu juga kamu, berikan kepadaku bukti."
Lelaki itu terbangun dan menangis meraung-raung. Ia menyusuri kota dan mencari perempuan keturunan Ali itu. Ia pun menemui orang majusi lalu bertanya, "Di manakah perempuan keturunan Ali itu?"
"Ada bersamaku," kata si majusi. "Aku menginginkannya." "Aku tidak berhak melakukan ini."
"Ambillah 1.000 dinar, dan serahkan perempuan itu untukku."
"Apa yang bisa aku lakukan? Mereka datang bertamu kepadaku, dan aku memperoleh berkah mereka."
"Aku juga harus memperolehnya."
"Aku lebih berhak memperoleh apa yang kamu inginkan. Istana yang kamu lihat itu untukku!"
"Apakah kamu ingin memamerkan diri bahwa kamu telah masuk Islam?"
"Demi Allah, malam itu kami sekeluarga telah masuk Islam, di hadapan perempuan keturunan Ali itu, sebelum kami tidur. Aku juga bermimpi melihat Rasulullah seperti yang juga kamu lihat. Beliau berkata kepadaku, 'Apakah perempuan keturunan Ali bersamamu?'
Aku mengiyakan.
Beliau berkata, 'Istana ini untukmu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu adalah penghuni surga. Allah telah menciptakan kamu sebagai orang mukmin sejak dahulu kala (azal)."

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer