Kisah Ke-82: Bebaskan Pembunuh Itu

Ishak bin Ibrahim bin Mush'ab, Gubernur Bagdad, berkata, "Pada suatu malam, aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata kepadaku, 'Bebaskan pembunuh itu!'
Aku gemetar setelah melihat mimpi itu. Aku menyalakan lampu lilin dan membuka-buka daftar tahanan. Tetapi, tidak ada orang yang ditahan karena pembunuhan.
Aku memerintahkan bawahanku untuk memanggil dua orang penanggung jawab penjara. Aku bertanya kepada mereka, Apakah ada orang yang ditahan karena dakwaan pembunuhan?'
Salah seorang di antara mereka menjawab, 'Ya. Kami telah menuliskan berita acaranya.'
Aku melihat kembali berita acara itu, dan aku lihat catatan itu tertumpuk di antara tumpukan kertas-kertas yang menumpuk. Memang, orang itu didakwa sebagai pembunuh. Ia juga mengakui pembunuhan itu. Aku memerintahkan untuk mendatangkan lelaki itu.
Ketika ia masuk, dan kulihat ia begitu ketakutan, aku berkata kepadanya, 'Jika kamu berkata jujur kepadaku, aku akan membebaskanmu.'
Ia pun menuturkan kisahnya dengan panjang-lebar kepadaku. Ia menceritakan bahwa ia dan beberapa sahabatnya terbiasa berbuat kejahatan besar. Mereka melakukan hal-hal yang terlarang. Di Madinah, mereka biasa berkumpul di rumah Abu Ja'far al-Manshur, merancang semua kejahatan.
Ia melanjutkan ceritanya, 'Pada suatu hari, seorang perempuan tua datang kepada kami. Ia menawarkan kepada kami seorang perempuan yang sangat cantik. Ketika perempuan cantik itu masuk ke rumah kami, ia berteriak histeris dan pingsan. Ketika terbangun, aku segera mendahului teman-temanku mendatanginya. Aku memaksanya masuk kamar dan menenangkan ketakutannya. Aku tanyakan kepadanya apa yang terjadi.'
Perempuan cantik itu bercerita, 'Allah... Allah... aku, perempuan tua itu telah menipuku. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia memiliki mutiara yang tiada bandingannya. Ia ingin menjualnya. Aku pun tertarik untuk melihatnya. Aku mau saja keluar bersamanya karena aku percaya kepadanya. Tetapi, ia menyerahkan diriku kepada kalian. Oh... kakekku Rasulullah... bunda Fatimah, Husain bin Ali, selamatkan diriku dari semua ini.'
Lelaki itu melanjutkan ceritanya, 'Aku katakan kepadanya bahwa aku akan menjamin ia untuk keluar. Aku keluar menemui teman-temanku dan menceritakan kisah perempuan itu. Tetapi, mereka menyangka aku menipu mereka.'
Kata mereka, 'Setelah selesai melepas hasratmu kamu ingin kami melepaskan perempuan itu?'
Mereka pun beramai-ramai menyerbu perempuan tadi. Tetapi, aku pasang badan untuk membelanya. Kami bertengkar hingga aku terluka.
Aku menyerang salah seorang di antara mereka yang begitu bernafeu untuk merenggut kehormatan perempuan itu. Aku terpaksa membunuhnya karena aku berusaha membela perempuan itu. Aku pun berhasil membawa perempuan itu keluar dengan selamat. Ia berhasil keluar dari ketakutan-ketakutan yang menyerang dirinya sendiri.
Aku dengar ia berkata, 'Semoga Allah menolongmu, seperti engkau telah menolongku. Semoga engkau mendapat apa yang aku dapatkan.'
Para tetangga mendengar keributan itu dan menyergap kami. Lelaki yang aku bunuh tergeletak di tanah. Nyawanya telah melayang. Pisau ada di tanganku. Aku pun didakwa atas peristiwa ini.'"
Aku berkata kepada lelaki itu, 'Kini aku tahu pertolonganmu kepada perempuan itu. Aku akan menyerahkan urusanmu kepada Allah dan Rasul-Nya.'
Lelaki itu berkata, 'Sungguh benar apa yang engkau katakan. Aku tidak pernah mengulangi kejahatan, dan aku tidak ragu lagi untuk menemui Allah.'
Aku kemudian menceritakan kepadanya mimpi yang telah ku lihat bahwa Allah tidak menyia-nyiakannya dalam persoalan ini."

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer