Kisah ke-78: Abu Hanifah Dipukul

Seorang menteri bernama Ibnu Hubairah menginginkan Imam Abu Hanifah rahimahullah untuk menerima jabatan hakim. Ia bersumpah, jika sang imam tidak mau, ia akan memukul kepalanya dengan cambuk.
Kabar itu didengar oleh Abu Hanifah. Ia berkata, "Pukulannya dengan cambuk di dunia ini lebih ringan buatku daripada rantai-rantai besi di akhirat nanti. Demi Allah aku tidak akan menerimanya, meski aku akan dibunuh sekalipun."
Kata-kata Abu Hanifah didengar oleh Ibnu Hubairah. Katanya, "Berani juga ia membalas sumpahku dengan sumpahnya."
Abu Hanifah dipanggil dan dicaci-maki. Ibnu Hubairah bersumpah, "Jika ia tidak mau menerima jabatan itu, aku akan memukul kepalanya hingga mati."
"Mati hanya sekali," jawab Abu Hanifah.
Lalu diperintahkanlah untuk memukuli kepala Abu Hanifah sebanyak dua puluh kali.
Kata Abu Hanifah, "Ingatlah kedudukan dan pertanggungjawabanmu di hadapan Allah swt. Itu akan lebih rendah daripada kedudukanku di hadapanmu. Dan jangan pernah mengancamku karena aku berkata, 'Tiada tuhan selain Allah.' Allah akan bertanya kepadamu tentang diriku hingga kamu tidak akan dapat menjawabnya."
Ibnu Hubairah memerintahkan para algojo untuk berhenti memukulinya, lalu Abu Hanifah dijebloskan ke dalam penjara. Wajah dan kepalanya penuh dengan luka.
Ibnu Hubairah berkata, "Lalu aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, 'Tidakkah kamu takut kepada Allah? Kamu pukuli seseorang dari umatku tanpa kesalahan apa pun, dan kau mengancamnya?"'
Ibnu Hubairah mengirim utusan kepada Abu Hanifah dan mengeluarkannya dari penjara. Ia pun meminta maaf kepada Abu Hanifah.

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer