Kisah Ke-73: Penculikan Mayat Rasul

Pada tahun 557 H orang-orang Nasrani sepakat untuk memindahkan mayat Rasulullah saw. dari kuburan beliau. Mereka mengutus dua orang dari mereka untuk memasuki Madinah dengan menyamar sebagai orang Maroko. Mereka mengaku sebagai orang Andalusia. Mereka tinggal di kawasan yang searah dengan kamar suci (al-hujrah asy-syarifah) dari kiblat di luar masjid. Saat ini tempat itu telah dipugar karena perluasan bangunan masjid.
Mereka berdua menampakkan ketakwaan dan kesalehan, dengan aksi silaturahmi dan berbuat baik, melaksanakan shalat dan berziarah ke pemakaman Baqi' serta makam Rasulullah. Begitulah mereka menyamar di permukaan. Dan diam-diam, mereka menggali lubang rahasia menuju ke arah kamar suci (di mana terletak makam Nabi saw.).
Mereka memindahkan pasir-pasir galian itu sedikit demi sedikit. Terkadang mereka membuangnya di sumur mereka, terkadang membuangnya dengan kantong, dan mereka mengelabui orang-orang dengan berpura-pura mengunjungi Baqi' lalu membuangnya di sana.
Mereka bertindak seperti itu selama beberapa waktu hingga mereka hampir sampai pada tujuan mereka. Mereka telah berhasil menggali lubang hingga ke kuburan Nabi saw. Kini, mereka berdua sudah berpikir bagaimana caranya memindahkan mayat Nabi. Mereka kira, mereka telah berhasil, padahal Allah memiliki kehendak lain.
Sultan Nuruddin Mahmud Zinki bermimpi melihat Rasulullah saw. Beliau menunjuk kepada dua laki-laki pirang yang menuju ke arah beliau. Nabi berkata, "Wahai Mahmud, selamatkan aku dari dua orang ini!"
Sultan terbangun dalam keadaan kaget. Ia melaksanakan shalat dan tidur kembali. Tetapi, lagi-lagi ia memimpikan hal yang sama hingga tiga kali.
Ketika terbangun untuk ketiga kalinya, ia memanggil menterinya, Jamaluddin al-Mushili, seorang menteri yang cerdik, agamis, dan wara'. Sultan menceritakan mimpinya kepada sang menteri. Ia berkata kepada Sultan, "Ini peristiwa yang benar-benar terjadi di kota Nabi. Berangkatlah ke Madinah, sekarang juga. Tetapi, jangan kau ceritakan mimpi ini kepada siapa pun.
Malam itu juga, Sultan bersiap-siap untuk berangkat. Ia berangkat membawa rombongan yang terdiri atas dua puluh orang. Ia membawa serta sang menteri dan harta yang begitu banyak. Mereka menempuh perjalanan dari Syam ke Madinah selama enam belas hari. Sultan kemudian melaksanakan shalat di Raudah dan duduk: tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Kata sang menteri, "Apakah Anda akan mengenal dua orang itu jika Anda melihatnya?" "Ya," jawab Sultan.
Sang menteri pun berkata kepada para penduduk Madinah—yang ketika itu berkumpul di masjid—bahwa Sultan akan memberikan bantuan. Mereka diminta untuk mendaftarkan orang-orang yang membutuhkan dan membawa mereka. Setiap orang akan mendapat bagiannya. Dan Sultan melihat mereka satu per satu. Tetapi, ia tidak melihat ciri-ciri dua orang yang dilihatnya di dalam mimpi.
Sultan bertanya, "Apakah ada orang yang belum mengambil bantuan?"
"Tidak ada," jawab mereka. "Kecuali ada dua orang Maroko yang tidak mengambil bagian. Mereka berdua adalah orang-orang yang saleh."
Kata Sultan, "Bawa mereka kemari."
Ketika mereka datang, diketahuilah bahwa mereka adalah dua orang yang dimaksud Nabi di dalam mimpinya.
Sultan bertanya kepada mereka, "Dari mana kalian berdua?"
Kata mereka, "Kami dari Maroko. Kami datang ke sini untuk melaksanakan ibadah haji. Dan kami memilih untuk tinggal di sini untuk beberapa saat di tahun ini."
"Jujurlah kepadaku." Kata Sultan. Ia terus mengulangi pertanyaannya, tapi kedua orang itu tetap dengan jawaban mereka.
Akhirnya, Sultan membiarkan mereka pergi. Ia mengunjungi rumah kedua orang itu bersama penduduk Madinah. Mereka menemukan harta yang banyak, dua mushaf, buku-buku, dan tidak ada hal lain. Sultan terus memeriksa tempat itu. Allah memberikan ilham kepadanya untuk membuka tempat tidur. Ternyata, di bawahnya ada papan dari kayu. Di bawahnya, ada sebuah lubang bawah tanah yang digali ke arah kamar suci, menembus tembok masjid.
Penduduk Madinah tercengang. Mereka menyangka kedua orang itu sebagai orang yang takwa dan saleh. Kedua orang itu disiksa dan dipukuli. Akhirnya mereka mengaku bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Mereka diutus oleh raja-raja Nasrani dengan menyamar sebagai orang yang melaksanakan haji dari Maroko. Raja-raja itu memberikan harta yang sangat banyak kepada kedua orang itu. Mereka ditugas untuk mengeluarkan mayat Nabi saw. dan memindahkannya ke negeri mereka.
Ketika keberadaan mereka berdua terungkap dan mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat, Sultan memutuskan untuk menghukum mati kedua orang itu, di jendela bagian timur kamar Rasulullah saw. Pada sore harinya, tubuh mereka dibakar.
Sultan kemudian memerintahkan untuk membuat lubang di sekitar kamar Nabi dan mengisinya dengan beton-beton besi: membuat lapisan cor di sekitar makam Nabi. Setalah itu, ia pun kembali ke negeri Syam.

Referensi:
- http://en.wikipedia.org/wiki/Nur_ad-Din_Zangi
- http://www.islamicfocus.co.za/index.php?option=com_content&task=view&id=...
English version: http://kawansejati.org/content/sultan-nur-ad-din-zangi-met-prophet-dream

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer