Bilal bin Harits al-Muzanni bermimpi dinasehati Rasulullah untuk minta hujan

Versi 1

Sumber: http://aneukmulieng.blogspot.com/2011/04/jangan-sembarangan-mengkafirkan-orang.html

Hadits riwayat al Bayhaqi, Ibnu Abi Syaibah dan lainnya: عَنْ مَالِك الدَّار وَكانَ خَازِنَ عُمَرَ قال: أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَانِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأُتِيَ الرَّجُلُ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ: أَقْرِئْ عُمَرَ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّهُمْ يُسْقَوْنَ، وَقُلْ لَهُ عَلَيْكَ الكَيْسَ الكَيْسَ، فَأَتَى الرَّجُلُ عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ، فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ: يَا رَبِّ لاَ آلُوْ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ. Maknanya: "Paceklik datang di masa Umar, maka salah seorang sahabat yaitu Bilal ibn al Harits al Muzani mendatangi kuburan Nabi dan mengatakan: Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk ummat-mu karena sungguh mereka betul-betul telah binasa, kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Rasulullah berkata kepadanya: "Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya "bersungguh-sungguhlah dalam melayani ummat". Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Umar menangis dan mengatakan: "Ya Allah, Saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu".

Hadits ini disahihkan oleh al Bayhaqi, Ibnu Katsir, al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya. Faedah Hadits: Hadits ini menunjukkan dibolehkannya beristighatsah dengan para nabi dan wali yang sudah meninggal dengan redaksi Nida' (memanggil) yaitu (يَا رَسُوْلَ اللهِ). Ketika Bilal ibn al Harits al Muzani mengatakan: (اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ ) maknanya adalah: "Mohonkanlah hujan kepada Allah untuk ummat-mu", bukan ciptakanlah hujan untuk ummatmu. Jadi dari sini diketahui bahwa boleh bertawassul dan beristighatsah dengan mengatakan: " يَا رَسُوْلَ اللهِ، ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ أَوْ أَغِثْنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ". Karena maknanya adalah tolonglah aku dengan doamu kepada Allah, selamatkanlah aku dengan doamu kepada Allah. Rasulullah bukan pencipta manfa'at atau mara bahaya, beliau hanyalah sebab seseorang diberikan manfaat atau dijauhkan dari bahaya.

Rasulullah saja telah menyebut hujan sebagai Mughits (penolong dan penyelamat) dalam hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang sahih: "اللّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَآرٍّ عَاجِلاً غَيْرَ ءَاجِلٍ". Berarti sebagaimana Rasulullah menamakan hujan sebagai mughits karena hujan menyelamatkan dari kesusahan dengan izin Allah, demikian pula seorang nabi atau wali menyelamatkan dari kesusahan dan kesulitan dengan seizin Allah. Jadi boleh mengatakan (أَغِثْنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ) dan semacamnya ketika bertawassul, karena keyakinan seorang muslim ketika mengatakannya adalah bahwa seorang nabi dan wali hanya sebab sedangkan pencipta manfaat dan yang menjauhkan mara bahaya secara hakiki adalah Allah, bukan nabi atau wali tersebut.

Umar yang mengetahui bahwa Bilal ibn al Harits al Muzani mendatangi kuburan Nabi, kemudian bertawassul, beristighatsah dengan mengatakan: (يَا رَسُوْلَ اللهِ، اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ) yang mengandung Nida' dan perkataan (اسْتَسْقِ) tidak mengkafirkan atau memusyrikkan sahabat Bilal ibn al Harits al Muzani, sebaliknya menyetujui perbuatannya dan tidak ada seorang sahabat-pun yang mengingkarinya.

Versi 2

Sumber: http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/10/16/syaikh-bin-baaz-menganggap-syirik-amalan-shahabat-bilal-bin-al-harits/


وروى إبن أبي شيبة بإسناد صحيح ، من رواية أبي صالح السمان ، عن مالك الداري وكان خازن عمر قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر فجاء رجل إلى قبر النبي (صلى الله عليه وسلم) فقال : يا رسول الله إستسق لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتى الرجل في المنام فقيل له : إئت عمر وقد روى سيف في الفتوح أن الذي رأى المنام المذكور هو بلال بن الحارث المزني أحد الصحابة

Telah diriwayatkan dari ibn Abu Syaibah dengan sanad yang shahih, dari riwayat Abu Sholih as-Sammani, dari Malik ad-Daari yang mana beliau adalah bendaharanya khalifah 'Umar, beliau berkata: Masyarakat ditimpa paceklik pada masa Khalifah 'Umar, kemudian seseorang mendatangi kubur Nabi Shollallaah 'alaih wa sallam kemudian berkata: "Yaa Rasulallaah, mohonkan hujan untuk ummatmu disebabkan mereka hendak binasa". Kemudian di dalam tidurnya datanglah seseorang dan berkata kepadanya: "Datangilah 'Umar!". Dan sungguh telah diriwayatkan pula dari Saif di dalam al-Futuuh bahwasanya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Mazani yang merupakan salah seorang dari kalangan sahabat.

Versi 3

Sumber: http://alfathimiyyah.net/fiqh-tawassul-23/

TAWASSUL DENGAN KUBURAN NABI SAW PADA ERA KHALIFAH 'UMAR

Al Hafidh Abu Bakar Al Baihaqi mengatakan, " Memberi kabar kepadaku Abu Nashr ibn Qatadah dan Abu Bakr Al Farisi, keduanya berkata, "Bercerita kepadaku Abu 'Umar ibn Mathar, bercerita kepadaku Ibrahim ibn 'Ali Al Dzuhali, bercerita kepadaku Yahya ibn Yahya, bercerita kepadaku Abu Mu'awiyah dari A'masy dari Abi Shalih dari Malik, ia berkata: "Pada masa khalifah 'Umar ibn Al Khaththab penduduk mengalami paceklik, lalu seorang lelaki datang ke kuburan Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, Mohonkanlah hujan kepada Allah karena ummatmu banyak yang meninggal dunia." Rasulullah pun datang kepadanya dalam mimpi,dan berkata : اِئْتِ عُمَرَ فَاقْرَئِهِ مِنِّيْ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّهُمْ مُسْقُوْنَ , وَقَالَ لَهُ : عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ الْكَيْسِ

"Datangilah Umar, sampaikanlah salam untuknya dariku dan khabarkan pada penduduk bahwa mereka akan diberi hujan, dan katakan pada 'Umar : "Kamu harus tetap dengan orang yang pintar, orang yang pintar !". Lelaki itu pun mendatangi Umar menceritakan apa yang dialaminya. "Ya Tuhanku, saya tidak bermalas-malasan kecuali terhadap sesuatu yang saya tidak mampu mengerjakannya." Kata 'Umar. ( Demikian perkataan Al Hafidh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah vol. I hlm. 91 pada Hawaaditsi 'Aammi Tsamaaniyata 'Asyaraa ).

Saif dalam Al Futuuh meriwayatkan bahwa lelaki yang bermimpi bertemu Nabi SAW adalah Bilal ibn Al Harits Al Muzani, salah seorang sahabat. Isnad hadits ini dalam pandangan Ibnu Hajar Shahih. ( Shahih Al Bukhari Kitaabul Istisqaa' / Fathul Baari vol. II hlm. 415 ).

Tidak seorang imam pun dari para perawi hadits di atas dan para imam berikutnya yang telah disebutkan dengan beberapa karya mereka, bahwa tawassul dengan Nabi SAW adalah tindakan kufur dan sesat dan tidak ada seorang pun yang menilai matan ( teks ) hadits mengandung cacat. Ibnu Hajar al 'Asqalani telah mengemukakan hadits ini dan menilainya sebagai hadits shahih dan beliau adalah sosok yang kapasitas keilmuan, kelebihan dan bobotnya di antara para pakar hadits tidak perlu dijelaskan lagi.

Versi 4

Dari buku Jumpai Aku Ya Rasul karangan Abu Anas Abdul Aziz

Ashim bin Umar bin Khaththab menceritakan bahwa keluarga Bilal bin Harits bin al-Muzanni meminta al-Muzanni untuk menyembelih seekor kambing. Tetapi, al-Muzanni berkata, "Masih belum ada apa-apanya."

Namun begitu, keluarganya tetap memaksa hingga akhirnya ia menyembelih juga kambing tersebut. Dan benar, yang ada hanya tulang-belulang saja. Al-Muzanni berkata, "Duh, wahai Nabi Muhammad."

Ketika malam tiba, al-Muzanni bermimpi melihat Nabi saw. Beliau berkata kepadanya,

"Beritakanlah tentang hujan, datanglah kepada Umar dan sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya, 'Ada janji antara aku dan kamu. Janji itu memiliki ikatan yang kuat. Berbuat adillah, wahai Umar."

Al-Muzanni pun mendatangi rumah Umar. Ia berkata kepada putra Umar, "Aku datang ke sini atas nama Rasulullah saw." Ia lalu pergi dan memberitahukannya kepada Umar. Mendengar cerita al-Muzanni, Umar terkejut dan segera naik ke mimbar seraya berkata kepada orang-orang, "Aku berkata atas nama Allah yang telah memberikah hidayah Islam kepada kalian. Apakah ada sesuatu yang tidak kalian suka dariku?"

Mereka berkata, "Demi Allah, tidak ada. Mengapa engkau berkata begitu?"

Kemudian Umar menceritakan kisah al-Muzanni. Mereka pun paham, tapi Umar tetap tidak paham arti mimpi itu. Orang-orang itu berkata, "Engkau tidak segera mengadakan shalat istisqa (memohon hujan). Marilah kita adakan shalat istisqa."

Umar kemudian mengumpulkan orang-orang lalu berkhotbah, kemudian melakukan shalat dua rakaat dan berdoa,

"Ya Allah, para penolong kami tidak lagi mampu, kekuatan dan daya kami telah tiada, diri kami tak lagi berdaya, tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah. Ya Allah, berikanlah kepada kami hujan, hidupilah hamba-hamba dan negara."

Ulasan

  • Kisah ini adalah salah satu kisah tawasul di zaman pemerintahan khalifah Umar.
  • Bilal bin Harits pergi ke kuburan Nabi SAW untuk mengadukan masalahnya, artinya beliau melakukantabarruk.
  • Dalam mimpi beliau mendapat petunjuk untuk pergi ke Sayidina Umar untuk meminta Sayidina Umar berdoa, artinya beliau melakukan tawasul kepada sayidina Umar.
  • Kisah ini menunjukkan bahwa tawasul adalah amalan para sahabat dan para sahabat tidak mengingkarinya.

Referensi

  • Tentang Bilal bin Harits [1]

 

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer