Cinta dan Takut pada ALLAH Kunci Segala Kebaikan (2)

Ada ayat yang mengatakan, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat ALLAH hati menjadi tenang. Pada ayat lain dikatakan, orang mukmin itu bila disebut nama ALLAH gemetarlah hatinya. Nampaknya seperti ada double standard, yang pertama tenang, yang kedua gemetar. Sebenarnya yang dimaksud tenang adalah tenang terhadap dunia. Walau dia sakit kritis dan memiliki berbagai kesusahan dan ujian dunia, jiwanya tidak susah. Tetapi dengan Tuhan, hatinya selalu bergelombang karena selalu terkenang akan dosa-dosanya, baik fisik dia sakit ataupun tidak sakit. Yang tidak tenang itu dengan Tuhan, dengan akhirat, bukan dengan dunia.

Kita dapat membedakan mana orang yang tidak tenang dengan akhirat dan mana yang tidak tenang dengan dunia. Orang yang beriman –yang tidak tenang dengan akhirat, dengan Tuhan– maka dia akan jadi insan yang tenang, tidak emosi, tidak pemarah. Tetapi kalau dia tidak tenang dengan dunia, maka biasanya dia menjadi insan yang pemarah, mudah meradang, gelisah, buat masalah. Pemarah, ego, sombong dan berbagai sifat mazmumah (sifat keji) yang lain ada hubungannya dengan rasa berTuhan. Orang yang rasa berTuhannya lemah, walau dia ulama yang banyak ilmu atau orang yang banyak sholat dan ibadah, ilmu, sholat, dan ibadahnya itu tidak ada hubungan dengan Tuhan, sebab pengaruh dunia pada diri dia lebih besar dari pada pengaruh Tuhan. Kalau Tuhan lebih berpengaruh pada diri dia, maka dia tidak akan jadi emosi, peradang, pemarah, gelisah dan lain-lain.

Dalam sejarah Islam diceritakan ada orang yang pingsan bahkan ada yang mati karena terlalu gelisah dan takut pada Tuhan. Para Sahabat kalau ada angin yang lebih kencang sedikit saja dari biasanya, mereka sudah ketakutan. Bukan ketakutan karena angin itu, tetapi mereka teringat kisah kaum yang mendurhakai Tuhan dahulu. Tuhan datangkan angin kencang untuk menghukum kaum tersebut. Jadi mereka (para Sahabat) kaitkan dengan hukuman Tuhan pada kaum yang sudah membuat banyak dosa. Mereka gelisah, merasa kiamat sudah hampir tiba, sedangkan mereka merasa masih banyak dosa. Kalau takut kepada Tuhan itu sampai menyebabkan dia mati, maka takut itulah yang akan menjadi syafa’at (penolong) di akhirat.

Takut dan gelisah pada Tuhan ini mendorong para Sahabat dan salafussholeh (pengikut para Sahabat) untuk berbuat berbagai kebaikan dalam masyarakat untuk menebus dosa-dosa dan kelalaian mereka. Akhirnya lahirlah berbagai kebaikan dalam masyarakat. Terjadilah pembangunan peradaban. Terciptalah kasih sayang antar anggota masyarakat. Inilah yang telah terjadi pada zaman para Sahabat dan salafussholeh dahulu.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer