warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www/hikmah/html/modules/taxonomy/taxonomy.pages.inc on line 33.

Kisah Berjumpa Rasulullah

Kumpulan Kisah Berjumpa Rasulullah

Kisah berjumpa Nabi dari buku "Jumpai Aku Ya Rasul"

  1. Kisah Ke-1: Aku Melihat Diriku di Surga
  2. Kisah Ke-2: Aku Melihat Diriku Berthawaf di Ka'bah
  3. Kisah Ke-3: Rasulullah Mencegah Khalid Masuk Neraka (versi lain 

Kisah Ke-1: Aku Melihat Diriku di Surga

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba aku melihat diriku di surga. Ada seorang perempuan berwudhu di samping sebuah istana. Aku bertanya, 'Istana siapakah ini?' Mereka berkata, 'Ini untuk Umar bin Khaththab.' Aku pun teringat kepada sifat cemburu Umar, lalu aku pergi."
(HR Bukhari dan Muslim)

Pemimpin Para Orator

Pada hari Jumat, Abu Yahya bin Nabatah berpidato tentang mimpi. Pada malam harinya, ia memimpikan Rasulullah saw. dan para sahabat beliau di antara kuburan-kuburan. Ketika ia menghampiri Rasulullah, beliau berkata, "Selamai datang, wahai pemimpin para orator."

Lalu beliau melihat ke kuburan dan berkata, "Apa yang bisa kamu katakan (tentang itu) wahai orator?"

Rasulullah Berjumpa Imam Hasan Al Asy'ari

Imam Hasan al-Asy'ari (18) berkata, "Ketika aku tertidur pada sepuluh awal Ramadhan aku memimpikan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Wahai Ali, belalah mazhab yang diceritakan dariku karena ia adalah mazhab yang benar.'
Ketika aku tarbangun, aku seperti dihadapkan pada persoalan yang berat. Aku masih terus berpikir tentang mimpiku. Aku masih dibebani dengan dalil-dalil yang begitu banyak tentang persoalan ini. Pada pertengahan Ramadhan tiba, aku memimpikan Rasulullah saw. lagi. Beliau berkata,

'Apa yang telah kamu lakukan atas perintahku?'

Salam Rasulullah kepada Abu Ali bin Syadzan

Muhammad bin Yahya al-Karmani berkata, "Kami sedang bersama Abu Ali bin Syadzan, ketika tiba-tiba ada seorang pemuda masuk (ke forum kami). Tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalinya. Ia mengucapkan salam dan berkata, 'Siapa di antara kalian yang bernama Abu Ali bin Syadzan?

Kami menunjukkannya kepada Abu Ali.
Pemuda itu berkata kepada Abu Ali, 'Syekh, aku memimpikan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku, 'Carilah Abu Ali bin Syadzan(12), jika kamu bertemu dengannya, sampaikan salamku kepadanya."

Bacaan Al-Qur'an Tanpa Tangisan Saleh Al Mari

Saleh al-Mari rahimahullah berkata, "Aku membacakan (Al-Qtir'an) untuk Nabi saw. di dalam mimpiku. Lalu beliau berkata kepadaku, 'Wahai Saleh, begini bacaanmu. Di mana tangisanmu?"

Rasulullah Minta Junaid Mengajar

Sari as-Suqthi berkata kepada keponakannya, Junaid bin Muhammad, "Berbicaralah kepada orang-orang (ajarilah mereka)." Tetapi Junaid merendahkan hati dan melihat dirinya tidak pantas melakukan hal itu. Lalu dia memimpikan Nabi saw. Beliau berkata, "Bicaralah kepada manusia." (10)
Junaid mendatangi pamannya dan menceritakan mimpi itu. Kata pamannya, "Kamu tidak mau mendengarkan aku hingga Rasulullah saw. mengatakan itu kepadamu: bicaralah kepada manusia."

Meletakkan Kaki di Jejak Kaki Nabi

Muhammad bin Abu Hatim al-Warraq berkata, "Di dalam mimpi, aku melihat Nabi saw. sedang berjalan, dan di belakang beliau ada Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari membuntuti beliau. Setiap kali Nabi mengangkat kaki beliau untuk melangkah, Imam Bukhari menginjakkan kakinya di jejak kaki beliau."

Mengikuti Perkataan Ibnu Hanbal

Ahmad bin Hajjaj bercerita bahwa ia pernah belajar kepada Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Ibnu Hanbal, dan semua ulama fiqih hingga ia menjadi bingung mengingat perbedaan yang terjadi di antara mereka dalam menyikapi persoalan-persoalan. Ia menuturkan, "Aku ingin mengambil pendapat yang paling sahih. Aku pun memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan jalan kepadaku, mempertemukan aku dengan Nabi di dalam mimpi. Aku punya firasat, malam ini aku akan bertemu dengan beliau.

Nabi Menghukumnya di Masjid

Terjadi perdebatan antara Yahya al-Jala', seorang pengikut Sunni, dan seorang lelaki dari golongan Mutazilah. Al-Jala dikenal sebagai seorang yang memiliki argumentasi yang kuat dan memiliki dalil-dalil yang sahih. Tetapi, pada saat itu, kekuasaan berpihak kepada kaum Mutazilah. Mereka memutuskan persoalan lebih memihak kepada Mutazilah daripada Sunni. Al-Jala' pun mendapat kecaman yang tidak mengenakkan dari kelompok Mutazilah.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer