Berdoa dengan tawassul

Submitted by admin on Tue, 2008-02-26 14:00

Masalah tawassul itu begini:

'Tawassul artinya mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kita kepada Tuhan".

Dalam al Quran istilah "'wasilah" disebut dalam dua tempat, yaitu

1. Pada surat al Maidah


"Hai orang-orang yang beriman! Patuhlah kepada Allah, dan carilah wasilah (jalan) - yang mendekatkan - kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu jadi beruntung" (Al Maidah : 35)
.

Dalam ayat ini ada 3 hukum dapat dikeluarkan

  1. Kita wajib patuh (tha'at) kepada Allah.
  2. Kita disuruh mencari "jalan" yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Kita disuruh berjuang (jihad) di jalan Allah. Kalau yang tiga ini dikerjakan maka kita ada jaminan untuk mendapat kemenangan duna-akhirat.

2. Pada surat al Isra'


"Mereka mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan dir kepada Tuhan-. (Al Isra' : 57).

Maka berdoa dengan bertawassul ialah berdo'a kepada Tuhan dengan wasilah, yaitu dengan mengingat sesuatu yang dikasihi Tuhan.

Kalau dicontohkan kepada situasi keduniaan, umpamanya kita akan minta pekerjaan kepada sesuatu jawatan, tetapi kita tidak begitu dikenal oleh kepala kantor jawatan itu, maka kita lalu mencari jalan, yaitu menghubungi sahabat kita yang bekerja pada kantor itu dan dengan pertolongannya permintaan kita menjadi terkabul.
Ini permohonan dengan "wasilah- namanya.

Atau dalam soal ini kita langsung menemui kepala kantor dan langsung memohon kepadanya untuk minta pekerjaan, dengan memberi tahu atau memperingatkan kepadanya bahwa kita yang bermohon ini adalah berteman dengan anaknya. Ini juga meminta dengan wasilah (tawassul) namanya.

Wasilah semacam ini hanya sekedar untuk lebih memudahkan terkabulnya permintaan yang memang pada dasarnya juga dapat dikabulkan. Jangan keliru faham. Kita minta pekerjaan hanya kepada kepala kantor, tidak pada kawan kita tadi dan bukan pula kepada anaknya itu, tetapi kawan kita itu atau anaknya itu sekedar mwmbuka jalan untuk mendapatkan fasilitas.

Begitu juga berdo'a dengan wasilah atau tawassul kepada Tuhan. Contoh-contohnya do'a bertawassul :

  1. Kita datang kepada seorang Nabi atau seorang ulama yang dianggap mulia dan dikasihi Tuhan, lalu kita katakan kepada beliau : Saya akan berdo'a memohon in atau itu kepada Tuhan, tetapi saya harap pula tuan Guru mendo'akan kepada Allah bersama saya, supaya permintaan saya dikabulkan-Nya. Lalu kedua orang itu rneado'a.
  2. Kita datang ziarah kepada Nabi di Madinah, ketika itu - taroklah - beliau masih hidup atau pada ketika beliau telah wafat, maka kita mendo'a di situ dan kits harapkan agar Nabi Muhammad Saw. mendo'akan kita pula kepada Allah. Ini namanya mendo'a dengan tawassul, dengan orang yang masih hidup atau yang telah wafat.
  3. Kita datang ziarah ke makam Tuan Syekh Abdul Qadir al Jailani, seorang ulama tasauf yang besar di Bagdad, lantas kita mendo'a di situ kepada Tuhan begini bunyinya:
    "Ya Allah, Ya Tuhan yang Pengasih dan Penyayang, saya mohon ampunan dan keredhaan-Mu berkah beliau yang bermakam di sini, karena beliau ini saya tahu, seorang ulama besar yang engkau kasihi. Berilah permohonan saya, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim !"
    Do'a macam in namanya do'a bertawassul.
  4. Kita mendo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa begini bunyinya
    "Ya Allah berkat "jah" (tuah) Nabi Besar Muhammad Saw. berilah permohonan saya"..
    Ini namanya do'a bertawassul dengan jah (tuah) Nabi.
  5. Kita berdo'a umpamanya begin:
    "Ya Allah, berkat nama-Mu yang Besar, berilah saya ini itu". In mendo'a bertawassul dengan nama Tuhan.
  6. Kita mendo'a umpamanya begin:
    "Ya Allah, saya ada mengeriakan amalan yang baik, yaitu saya tetap hormat kepada ibu bapa saya. Kalau amal itu diterima oleh ENGKAU maka berilah permohonan saya ini dan itu".

Amal do'a bertawassul serupa itu diamalkan oleh Ulama-ulama Kaum Ahlussunnah wal jama'ah sedari dulu sampai sekarang, tetapi dengan lancang Ibnu Taimiyah cs. menfatwakan bahwa aural macam itu syirik atau kufur, na'udzubillah.

Bagi barangsiapa yang hendak mendalami masalah ini bacalah Kitab Syawahidul Haq", karangan Syekh Ismail an Nabhani, cetakan Syirkah wa Mathba'ah Mushthahafa Babil Halaby, Kairo.

Rujukan:

  • K.H. Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid 1 cetakan ke-33, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta 2003
  • Artikel Tawassul

aisyah (not verified)

Thu, 2008-05-15 12:57

tapi klo di daerah saya tawassul itu malah jadi kayak syair dan dilantunkan sama ibu2 di microphone. terkesan bahwa berdoa itu harus melalui perantara itu gmn?

Dari segi syar'iat, doa tidak wajib dengan tawassul. Doa dengan tawassul itu sunnah, kalau mau doa tidak pakai tawassul tidak dilarang. Cuma mungkin di beberapa tempat sudah terbiasa selalu menggunakan tawassul.

darimana anda tahu dr dahulu hingga saat ini ulama ahlulsunnah bertawassul?tolong jelaskan dgn ilmu bertawassul seperti apa yg dilakukan oleh para ulama ahlulsunnah?

setelah membaca artikel yg anda tulis saya dapat mengambil kesimpulan bahwa anda mungkin kurang yakin tentang kedekatan Allah dengan kita semua.anda menerangkan bahwa kalau kita ingin melamar pekerjaan itu lebih afdol mengajak anak dari pimpinan perusahaan kita jadikan wasilah agar kita bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut, karena wasilah anak pemilik perusahaan bersama kita. alasannya pemilik perusahaan tidak kenal kita...ya masuk akal kalau alasan anda begitu karena ketidak kenalan kita, tetapi kalau kita berhadapan dengan Allah, kita sudah mengenal Allah dari sifat2nya dan asmaul husnahnya sebaliknya Allah juga telah mengenal Kita, sehinga kita sudah saling mengenal dan gak perlu memakai wasilah dengan orang yang sudah meninggal dunia...ini akan menjerumuskan kita ke jurang Kesyirikan...subhanallah.....semoga Allah memberi Hidayah kepada anda ..Amiiin.

admin

Sat, 2011-11-26 07:46

In reply to by bambang (not verified)

Bertawasul dengan orang yang sudah meninggal itu ada contohnya. Rasulullah SAW itu kurang apa lagi kenalnya dengan Allah? Toh beliau juga bertawasul.
http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perantara-tawasul#Tawassulmelaluiorangy…

Nabi Adam AS itu kurang apa lagi dekatnya dengan Allah? Beliau pun juga bertawasul. http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perantara-tawasul#Tawassulmelaluiorangy…

betul para nabi memang bertawasul, tapi tawasul para nabi tidak bertentangan dengan syariah. bukan seperti zaman sekarang banyak orang yang bertawasul kepada makam2 ulama yang telah meninggal dunia, ini kan lucu. apa dikira orang yg meninggal dunia itu bisa mendengar suara kita ..? bagaimana kalau yang bertawasul sampai ribuan di atas makam ? pasti almarhum merasa bising banget ya....? coba anda Buka Alqur'an Surat FATHIR ayat : 22. smoga bisa menjadi hidayah hati panjenengan,,..amiin.

Tawasul dengan orang yang sudah wafat itu ada contohnya. Bisa dibaca di http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perantara-tawasul

Orang yang meninggal itu dapat mendengar orang yang masih hidup. Bukankah ada amalan mengucapkan salam kepada ahli kubur ketika kita melewati pemakaman? Pernah juga Rasulullah menyeru kepada orang-orang kafir yang sudah mati setelah perang Badar?

Bertawasul itu memohon kepada Allah, bukan kepada orang yang masih hidup, juga bukan meminta kepada orang yang sudah mati.

Jika kita bertawasul dengan orang yang masih hidup, kemudian meyakini bahwa yang mengabulkan do'a itu orang yang masih hidup tersebut, artinya kita sudah menyimpang aqidah karena menganggap manusia hidup itu punya kuasa. Jika demikian, sebenarnya bertawasul dengan orang hidup maupun orang mati adalah sama saja karena yang punya kuasa itu hanyalah Allah s.w.t semata.

Referensi: http://kawansejati.ee.itb.ac.id/komunikasi-orang-hidup-ke-orang-mati

Anonymous (not verified)

Sat, 2010-09-25 01:16

klu tawasul di rumah apakah bisa...
tolong jabarkan satu persatu...tawasul dengan Rasul...Wali

hamba alloh (not verified)

Mon, 2011-08-29 17:10

apa sih gunanya tawassulan??? ko bisa sampe di gunakan untuk mengetahui masalalu orang sih?? maksud dan tujuannya itu apa??? udah gitu mentawassuli tanpa izin, mana nanya kebenarannya lg, trz ggk d jawab malah ngancem "kali ini boleh km tutup2i tp suatu hr akn aku ketahui smuanya" emg penting ea sperti itu?? ko aku menilainya tawassulan tuh jd d pergunakan untuk mengkorek2 privasi orang?? buat apa korek2 aku, knp ggk korek2 gayus ato nazarudin aja yg jelas2 merugikan banyak org, sementara aku apa? aku gk merugikan km ato org lain, aku hanya merugikan dr aku sndiri ko.. tolong beritahu aku cara untuk menahan atau mencegah tawassulan orang lain.. sakit hati aku d korek2 seperti itu.. kirim k email ea kampretz_cholatez@rocketmail.com

Dean Sasmita (not verified)

Tue, 2012-07-10 12:16

..sy tdk akan menulis panjang keterangan mengenai tawashshul..namun link yg sy sertakan ini bisa mewakili pemahaman kita selama ini..semoga mendapat pencerahan berdasar kajian yang objektif..

http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&…

dan ini

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=…

..masih byk keterangan selanjutnya yang senada dgn link yg sy sertakan tersebut..
..dan pada dasarnya bagi kita untuk menghormati perbedaan khilaf dan furu’ sesama muslim, tidak mudah membid’ahkan apalagi memvonis musyrik atau kafir kpd saudaranya muslimnya sendiri sehingga kita tetap bersatu dalam ukhuwwah yang kuat..

..jazakumullah khairan katsiran..

Add new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Filtered HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type='1 A I'> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id='jump-*'> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.

PingBack